Subscribe Us

Tampilkan postingan dengan label UNIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNIK. Tampilkan semua postingan

Ahmad Dhani “Ngamuk” Setelah Postingan Penulis ?

Beberapa hari yang lalu, penulis mengangkat tulisan tentang pakaian kaos yang dipakai oleh Ahmad Dhani beberapa tahun yang lalu. Bagi pembaca setia di Seword yang ingin membacanya silahkan klik tulisan penulis yang bisa di akses di https://seword.com/politik/ahmad-dhani-teriak-pki-silahkan-perhatikan-bajunya

Ternyata postingan penulis tersebut menjadi viral di media sosial bahkan sudah masuk menjadi berita di beberapa media nasional. Tulisan tersebut ternyata membuat Ahmad Dhani “ngamuk” seperti yang diberitakan di dalam salah satu situs media nasional berikut ini :
http://www.tribunnews.com/seleb/2017/08/18/ngamuk-fotonya-pakai-baju-palu-arit-viral-dhani-ditantang-netizen-lakukan-ini
Penulis bingung, kenapa Ahmad Dhani “ngamuk” ya setelah penulis mengangkat foto ini ???
http://mulanjameelafan.weebly.com/uploads/1/0/4/0/1040996/1174022_orig.jpg
Penulis ingin bertanya…
Jadi benar, bahwa simbol merah yang terdapat pada baju kaos yang dipakai oleh Ahmad Dhani pada foto di atas adalah simbol Palu arit yang merupakan ciri khas PKI ???
Jadi benar ya jika tokoh pada baju yang dipakai oleh Ahmad Dhani di atas adalah Josif (Josef) Vissarionovich Stalin, Iรณsif Vissariรณnovich Stรกlin, nama asli Ioseb Jughashvili yang merupakan seorang tokoh komunis dan diktator yang sangat kejam dari Uni Soviet ???
Jika itu bukan simbol palu arit yang merupakan ciri khas PKI, lalu itu simbol apa ???
Jika itu bukan sosok Josef Vissarionovich, lalu itu siapa ???
Ahmad Dhani seharusnya tinggal menjawab saja pertanyaan penulis di atas, tidak perlu “ngamuk” apalagi sampai mencaci maki seperti yang terlihat dalam cuitannya berikut ini :
http://www.tribunnews.com/seleb/2017/08/18/ngamuk-fotonya-pakai-baju-palu-arit-viral-dhani-ditantang-netizen-lakukan-ini
Penulis bertanya secara baik-baik kenapa malah dicaci maki oleh Ahmad Dhani ya ???
Ahmad Dhani “panik” ya ???
Malu ya ketahuan jika pernah memiliki baju kaos simbol Palu arit yang merupakan ciri khas PKI, tapi teriak-teriak anti PKI ???
Beberapah hari yang lalu, penulis juga melihat jika Ahmad Dhani menjual kaos 212 seperti berikut :
http://hiburan.dreamers.id/article/65744/netizen-sindir-ahmad-dhani-karena-jual-kaos-islam-212
Maaf, Ahmad Dhani…
Itu maksudnya apa ya Islam 212 pada kaos tersebut ???
Mau “mencari” simpati umat ???
Anda pernah menggunakan kaos palu arit yang merupakan ciri khas PKI, lalu teriak anti PKI dan sekarang jual kaos Islam 212 ??? Ha ha ha
Gimana logikanya…
Seseorang yang memiliki dan mengenakan baju kaos dengan simbol Palu arit (komunis) lalu sekarang mengenakan kaos Islam 212 ???
Yang lebih lucu lagi, promo kaos Islam 212 tetapi bahasanya “fasih” mencaci maki orang lain dengan kata (Maaf) kodoker dan babier seperti cuitannya di atas ??? wkwkwkwkwk
Terima Kasih Ahmad Dhani…
Saya sebagai salah satu rakyat Indonesia akhirnya menyadari siapa sebenarnya orang-orang yang teriak anti PKI selama ini…
Memang sangat mudah bagi seseorang untuk meneriaki orang lain PKI (komunis) meskipun orang tersebut ternyata pernah menggunakan kaos dengan simbol PKI (komunis) beberapa tahun yang lalu !!!
Terima Kasih Ahmad Dhani…
Saya sebagai salah satu dari umat akhirnya menyadari siapa sebenarnya orang-orang dibalik 212  yang katanya membela agama tetapi bahasanya fasih mencaci maki…
Oh iya…
Penulis ingin mengucapkan Maaf kepada Ahmad Dhani karena penulis tidak memiliki kaos kuning dengan simbol Palu arit merah ciri khas PKI (komunis) seperti foto miliknya di atas karena penulis pernah belajar sejarah jadi penulis mengetahui bagaimana bentuk simbol PKI (komunis) tersebut.
Jadi jika ada orang yang teriak-teriak anti PKI (komunis) tetapi dia sendiri pernah menggunakan kaos dengan simbol PKI (Komunis) itu sama saja ahistoris !!! ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜›
Lalu kenapa penulis mengangkat foto lawasnya…???
Karena selama ini ada yang teriak-teriak anti PKI, teriak saat penangkapannya dalam kasus “makar” seperti PKI, mengungkapkan sejarah PKI menurut versinya sendiri untuk menyindir Presiden Jokowi, mengatakan bahwa Ahok merupakan bahaya laten bagi NKRI tetapi ternyata yang teriak tersebut malah memiliki dan menggunakan baju dengan simbol PKI !!! ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜›
Jadi sejarah itu sangat berguna bagi kita rakyat Indonesia untuk mengetahui bibit bebet dan bobot seseorang sehingga kita tidak mudah “tertipu” dengan penampilan serta bisa memahami siapa sebenarnya orang tersebut.
Apalah artinya jika seseorang teriak anti PKI, tetapi faktanya dia memiliki dan mengenakan baju simbol PKI…
Apalah artinya jika seseorang mengklaim dirinya sebagai pembela agama HANYA dengan menjual kaos 212 tetapi mulutnya “fasih” mencaci maki orang lain…
Apakah orang tersebut akan tetap bersinar ???
Atau dia malah makin tenggelam ???
Oh iya, Ahmad Dhani, Anda MASIH dicariin tuh oleh Ketua Asosiasi Pedagang Barang Antik Cikapundung, Bandung. (Sumber)

Poligami: Dekat Paha-la untuk Masuk Syurga

Mengapa memasyarakatkan poligami di tengah kehidupan bermasyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sedemikian susah? Apakah ini masalah komunikasi yang dibangun para ustadzah kurang masif, terstruktur dan sistematis?
Padahal yang namanya poligami adalah termasuk sunah Rosul. Ada paha-la tersedia bagi para poligamer yang syar’i. Belum lagi dengan banyaknya paha-la yang dipandangi setiap hari bagi poligamer syar’i bagi mereka dijamin syurga. Syurga yang dimaksudkan pun sangat jelas.
Ustadz Syamsuddin Nur telah mensyiarkan bahwa syurga itu adalah tempat pesta seks. Alloh SWT sendiri sebagai penyedia jasa seks bebas di syurga. Rasa cemburu pun tiada, nafsu syahwatlah sebagai penggantinya. Mantap bukan, syurga yang disediakan untuk para poligamer?
Keterangan Ustadz Syamsuddin makin syar’i ketika mendapatkan tambahan dari Ustadz Hendy. Bahwa di surga itu kelamin tidak pernah kendur. Dapat dibayangkan betapa indah syurga yang diterangkan dua ustadz tersebut.
Masalahnya, dengan iming-iming syurga sesyar’i itu, mengapa poligami tetap kurang peminat bagi kebanyakan kaum muslim negeri ini? Secara khusus, yang sering melakukan penolakan adalah kaum Hawa. Padahal, bagi istri yang taat pada suami janji syurga pun disediakan.
Belum lagi, ini yang sering terdengar dari tivi, daripada suami berbuat dosa dengan selingkuh, main wanita, punya tabungan perempuan, kan lebih baik si suami diijinkan poligami. Sunah Rosul, gitu loh…
Dalam situasi seperti itu jelas-jelas kalau suami makan barang haram. Padahal bisa diupayakan dengan menghalalkan segala cara supaya suami menikmati barang halal. Mengapa istri tidak membantu suami menikmati barang halal dan memaksa beberapa suami menikmati barang haram? Kan sayang sekali para suami kalau malah melahap barang haram. Ancamannya pun jelas. Dijauhkan dari paha-la dan didekatkan dengan neraka.
Hanya saja, sebuah tantangan serius atas syiar poligami yang dekatkan pada paha-la juga tidak main-main. Rasa sakit hati para istri yang belum tersentuh manajemen qolbu seperti Teh Ninih memang masih kuat.
Paling tidak, saat ini rasa sakit di hati itu terwakili oleh curahan hati Dian Rositaningrum istri Aunur Rofiq Lil Firdaus alias Opick. Seperti telah jadi berita bahwa Opick melakukan poligami yang membuat sakit hati Dian Rose. Maklum, lima belas tahun hidup bersama kini kedatangan madu hasil dari poligami sang suami.
Opick dan istrinya Diana (foto : tribun jateng)
Dian Rose pun merasa dijebak dipoligami secara diam-diam dengan seorang wanita yang sudah 7 tahun tinggal bersama dengan dirinya dan sang suami.
Berikut ini isi curahan hati yang diduga pemburu berita berasal dari istri Opick berjudul “Bicara Poligami”. Sebagian tulisan yang pantas digarisbawahi, sebagai berikut!
Anda ingin poligami berhasil ???
Islam mempunyai rules maka ikuti petunjuknya  maka kalian akan selamat mempunyai keluarga sakinah mawadah warohmah dan Allah ridhoi …

Datang dengan keadaan sudah menikah karena ketahuan dan istri harus menerima dengan iman ??? Think ….
Awal kebaikan kah yang di tanamkan ..
ajarkan kami tentang keimanan  , jangan ajarkan kami kebencian. Bukan kah ini menjebak istri yang tidak siap dengan hadirnya madu????  Menjebak???  Ya .. Karena mau tidak mau istri harus menerima keadaan dengan teriak ini sudah takdir … Terima lah maka kau masuk surga … Hallooooooo masuk surga bukan karena poligami.. Masuk surga karena ahlak yang baik dan takut akan Allah swt. Bagaimana untuk istri yang shock dengan fakta pemaksaan??? cerai taruhannya, yup … anak2 korbannya, harus nya dia bisa hidup bersama ibu bapak nya, tapi ini perpisahan yang akan mengganggu jiwa kepada semua yang terlibat, istri, anak, ibu, bapak, keluarga besar. Berfikirlah wahai imam yang bijaksana … Poligami tidak semudah memuntahkan spermamu pada lobang yang baru …
Kasihanilah kami para wanita .. ibu dari anak2 mu yang melahirkan anak2 mu jangan korbankan istri dan anak2 …berapa banyak janda2 yang akhirnya menjadi single parent hanya karena kurang ilmu agama .. Sudahkah anda mengajarkan istri anda mengenal tauhid , melepaskan dunia , sehingga dia sanggup melepaskan cinta kepadamu dan meraih cinta Allah saja .. (nyengir  liat kamu para imam dng cinta yang baru eaaaa eaaaa berasa abg… , Kita ngilangin cinta dunia dia bergelut dengan kecintaan dunia  )
Kalau sudah mengajarkan, lihat polanya… Menjadi semakin taatkah kepada anda dan Allah atau sebaliknya????
Apakah poligami ini dapat diterima dengan iman dan akal sehat ?????
Di mana ADAB seorang muslim???
Pola poligami seperti ini kah yang kalian akan syiarkan wahai para imam …
Iman kah atau nafsu yang kalian yang terdepan???
Urusan akhirat kah atau urusan dunia dengan berbangga2 menaklukan para wanita?
Layaknya orang yang menikah karena takut berzina karena kalian mendekati zina sebelum halal, ini iman ???
Jelas, perkara tidak mudah untuk melewati rasa sakit hati para istri seperti tercermin dari tulisan di atas.
Nah, bagaimana mengatasi masalah ini? Supaya syiar tentang poligami yang mendekatkan paha-la dan dapat syurga tidak sia-sia? Manajemen qolbu perlu digalakkan selain tentu saja keampuhan tamba ati perlu ditambah dosisnya.
Selain itu, Mungkin hal yang bisa dipikirkan para poligamer adalah perlu mencetak banyak-banyak ustadzah yang syiar tentang poligami. Ustadzah yang dimaksud tentu produk dari akademi suami poligami. Dijamin syiarnya sungguh riil berdasarkan pengalaman yang syar’i. Insya Allah, poligami yang mendekatkan pada paha-la dan syurga bisa menjadi gerakan 212.

Prabowo Ejek Wartawan: “Muka Kayak Enggak Belanja di Mall”, Tidak Pantas!

“Jangan hanya membela orang kaya saja. Kira-kira itu baik enggak? Kita belain para wartawan. Gaji kalian juga kecil kan? Kelihatan dari muka kalian. Muka kalian kelihatan enggak belanja di mall. Betul ya? Jujur, jujur… Selalu sumber alam kita mau diambil, dikuras. Kita kasihan sama kalian tidak bisa belanja di mall. Jadi kita berjuang buat kalian..”
Ibarat sudah putus asa dan menemukan jalan buntu ke Pilpres 2019, Prabowo malah melakukan kesalahan konyol yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang dianggap sebagai negarawan.  Ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan bahwa seorang pemimpin harus membela kepentingan rakyat. Rakyat yang kurang mampu seharusnya yang diperhatikan oleh pemimpin.
Ia mengatakan bahwa jangan sampai ada ketimpangan status ekonomi di masyarakat. Wajar saja, sebagai pengamat, ia bisa berkata apapun, sesuka hatinya. Namun tentu pembaca Seword juga pasti sudah tahu, bagaimana hancurnya negara ini, jika dipimpin oleh orang semacam ini.
Sebenarnya dengan statementnya, Prabowo sedang melakukan blunder pemikiran. Di awal perkataannya, ia menegaskan ingin membela para wartawan. Namun di sisi lain, ia malah mengejek wartawan yang digaji kecil dengan sebutan “Muka kalian kelihatan enggak belanja di mall”. Ini adalah penghinaan yang cukup jelas kepada para orang kecil. Lantas inikah yang dinamakan ‘membela orang kecil’?
Alih-alih ingin menjilat kaum wartawan yang dianggap kaum marginal, orang ini malah ibarat “meludahi” kaum marginal dengan ejekannya. Menyinggung profesi wartawan dengan kalimat yang tidak pantas, sebenarnya ia sedang mencoreng mukanya sendiri. Siapa yang membuat Prabowo dikenal meskipun tidak terkenal? Mau tidak mau, itu adalah wartawan yang terhormat. Mengapa harus diejek?
Apakah betul bahwa gaji wartawan dianggap rendah? Jika memang rendah, apakah itu memengaruhi kesejahteraan mereka? Jikalau memang memengaruhi kesejahteraan mereka, apakah mereka pantas diejek “muka tidak belanja di mall”?
Ini sungguh-sungguh suatu blunder yang dilakukan oleh Prabowo Subianto, orang yang tidak pernah susah. Di tengah-tengah tegangnya intoleransi Indonesia, bukannya malah toleran, Prabowo malah menunjukkan intoleransi antar lapis ekonomi. Sini saya pecut kudanya!
Orang yang tidak pernah susah memang memiliki karakter yang cenderung menginjak dan menekan manusia yang di bawahnya. Inilah kegagalan berpikir 48% rakyat Indonesia pendukung Prabowo dan 58% warga Jakarta pendukung Gubernur terpilih hahaha. Siapa presiden dan gubernur yang kalian pilih?
Apakah kalian memilih presiden yang sehat, gemuk, bugar dan memiliki kuda seharga puluhan juta? Salah! Kalian harusnya memilih presiden yang jujur, merakyat, dan sederhana. Presiden harus lahir dari kaum marginal, agar mengerti bagaimana kesulitan kaum marginal, dan juga kaum eksekutif. Siapakah orang yang paling layak menjadi pemimpin kita? Salah! Jawabannya adalah Joko Widodo.
Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sulit diatur. Lihat saja dari masa ke masa, setelah Soekarno mendirikan NKRI, pemimpin seperti Soeharto sampai SBY, sangatlah mengalami kesulitan di dalam memimpin negara ini. Sulit sekali bagi pemimpin Indonesia untuk menyelaraskan seluruh keberbedaan yang ada dari Sabang sampai Merauke.
Namun saya percaya, ada beberapa pemimpin yang justru tidak ingin menonjolkan keberbedaan dan keberagaman yang ada. Mereka lebih menghargai keberagaman. Kita tahu bahwa beberapa presiden Indonesia mencoba untuk merangkul keberagaman.
Jokowi hadir sebagai pemimpin, bukan untuk mengerucutkan keberagaman, namun untuk menghargai keberagaman. Jadi tidak berlebihan jika kita jatuh dalam kesimpulan bahwa ejekan Prabowo kepada para wartawan, adalah sebuah kalimat yang memecah belah antara kaum marginal dan eksklusif. Sebuah kalimat yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang negarawan, memecah belah keberbedaan yang ada. Jurang yang ada, malah diperlebar dengan kalimat-kalimat bocornya.
Semoga ini adalah kalimat terakhir yang memecah belah dikeluarkan oleh Prabowo. Jangan sampai keluar lagi. Karena entah mengapa, semakin ia berbicara, malah semakin memecah kaum marginal dan tidak marginal. Orang tidak pernah susah, memang kalimat-kalimatnya sangat menyakiti.

Sandiwara Patrialis Ketika Vonis 12,5 Tahun

Hari ini tanggal 14 Agustus 2017, Eks hakim konstitusi Patrialis Akbar dituntut 12,5 tahun bui karena terbukti melakukan korupsi terkait dengan permohonan uji materi UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Innalillahi, karena saya di persidangan telah mengungkapkan seluruh fakta. Banyak hal fiksi semacam karangan yang dibuat tidak berdasarkan fakta persidangan,” kata Patrialis seusai sidang di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (14/8/2017).
Ha….ha…ha….ada-ada saja ulah manusia bila sudah kena tangkap. “Demi Allah, saya betul-betul dizalimi. Saya tidak pernah menerima uang satu rupiah pun dari Pak Basuki,” ujar Patrialis.
Patrialis justru menganggap dirinya sebagai korban, bukan seorang pelaku korupsi. Korban ? Nggak salah pak ? Patrialis ditangkap dalam operasi tangkap tangan, Rabu (25/1/2017). Patrialis ditangkap setelah diduga menerima suap sebesar 20.000 dollar Amerika Serikat dan 200.000 dollar Singapura, atau senilai Rp 2,15 miliar.
Sudah tertangkap tanganpun masih bilang bahwa dirinya adalah korban. Iya korban kerakusan dirinya sendiri. Mahfud mengatakan tindakan Patrialis tidak pantas lantaran sudah digaji oleh negara sebesar Rp 72,8 juta per bulan dan menerima tunjangan nomor satu.
“Moralnya bobrok, sudah pastilah,” kata Mahfud. Mahfud menambahkan, jika perbuatan korupsi itu terbukti, Patrialis harus dihukum berat. Sebagai penegak hukum, kata Mahfud, Patrialis patut dihukum seumur hidup seperti pendahulunya, Akil Mochtar
Nah, Patrialis Akbar yang dituntut 12,5 tahun penjara saja sudah mengatakan ‘Innalillahi,. Padahal hukuman itu sangat kurang menggigit apalagi bila ditinjau dari ucapan yang pernah disampaikan oleh Patrialis sendiri.
“ Koruptor yang sudah tua dimiskinkan saja dengan mengambalikan kerugian dan denda 10 kali supaya dia miskin. Namun kalau mereka tidak bisa membayar denda berpuluh puluh kali lipat yang kami tentukan, ya koruptor masuk penjara juga,” Kata Patrialis Akbar pada saat menjabat Menteri Hukum dan HAM tahun 2011.
Saat menjabat sebagai Menkum HAM, Patrialis juga pernah menanggapi wacana hukuman mati bagi koruptor. Menurutnya, aturan itu sudah ada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Nah, sekarang bagaimana Patrialis Akbar, hukuman dimiskinkan atau dihukum mati ? Mulutmu adalah Harimaumu.
Gajinya sudah tinggi. Kalau dilihat dari daftar kekayaannya ketika masuk sudah Rp 14 M lebih yang di LHKPN, kok masih kurang ya.
Kalau benar dia menerima suap dan terbukti nanti, dan saya percaya itu akan terbukti nanti, karena KPK yang nangkap, maka tidak ada jawaban lain: dia orang rakus. Kedua, mungkin dia punya agenda politik yang akan ditempuhnya bermodalkan uang, mau jadi apa lagi. Kalau di Indonesia, politiknya nggak punya uang, kan nggak bisa,” papar Mahfud.
Bahkan ketika di MK, Patrialis Akbar diduga pernah mengunakan kop surat MK untuk mengakhiri perselisihan dengan warga Kampung Citeko.
“Itu sempat. Itu sebelum membeli lahan di situ kan ada jalan kecil, jalan buntu. Nggak tahu secara jelas. Tapi saya dengar (Patrialis) menggunakan surat (MK) itu,” ujar Sekretaris Desa Citeko, Sahrudin, kepada detikX di kantornya.
Lebih jauh Sahruddin bahkan menjelaskan walau sudah mengantongi izin lingkungan dari sejumlah warga desa, ternyata pembangunan popes itu belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Patrialis baru mengantongi izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bogor.
Melihat kenyataan ini, masihkah pantas Patrialis Akbar di hukum 12,5 penjara ? Seharusnya Patrialis Akbar dihukum seumur hidup dan dimiskinkan atau dihukum mati seperti yang pernah diwacanakan oleh dirinya sendiri kala menjabat Menteri Hukum dan HAM.

Kenapa Lubang Pusar Tidak Boleh Dibersihkan?

Pusar adalah suatu tanda lubang tertutup di atas perut, yang sengaja dibuat ketika tali pusar dilepas dan dipotong dari perut bayi yang baru lahir agar terlepas dari plasenta ibunya. Semua makhluk mamalia yang berplasenta pasti akan mempunyai pusar. Pada hewan umumnya pusar hanya terlihat seperti garis tipis yang samar.
Kotoran pada kulit (daki/ bolot ), meskipun setiap hari kita sudah mandi, kotoran ini tetap ada. Ini disebabkan karena sebenarnya daki itu bukan cuma kotoran. Setiap hari ada sel mati yang mengandung keratin gugur dari permukaan kulit dan minyak yang keluar, semua bercampur bersama kotoran, itulah yang menjadi daki. Sel kulit mati dan minyak yang terkumpul pada lubang pusar menjadi kotoran di sana. Tetapi kotoran pusar itu tidak boleh dibersihkan.
Kenapa lubang pusar tidak boleh dibersihkan?
Kulit yang terdapat pada pusar lebih tipis daripada kulit pada bagian tubuh yang lainnya. Jadi, jika kulit dianalogikan sebagai dinding kastil, pusar dianggap sebagai pintu gerbangnya. Ingatkah anda, dulu waktu anda masih dalam kandungan ibu, pusar menjadi penghubung antara ibu dan anak. dan sekarang pintu itu sudah tertutup.
Pintu merupakan titik lemah dari suatu kastil. dan pintu ini harus senantiasa kita jaga, karena jika pintu ini anda rusak sendiri dengan mengorek-korek atau membersihkannya yang akan menyebabkan pintu retak, anda yang akan rugi sendiri. Bagaimana tidak, anda telah membukakan jalan pada jutaan musuh yang telah menunggu di sekeliling kastil anda.
Walaupun di balik kulit masih ada pertahanan lainnya (Antibodi, makrofag, dll), apa salahnya jika anda menjaganya, karena tidak ada yang bisa menjamin prajurit anda di balik dinding kastil akan menang atas serangan musuh.

Kejutan Tengah Malam, Pak Jokowi Menonton Konser di Kemayoran

Seperti yang kita tahu, hari ini (11/08) Pak Jokowi menghadiri silaturahmi nasional bersama dengan ribuan relawannya yang diperkirakan mencapai 10.000 peserta. Tema dari acara ini adalah “Pancasila rumah kita”, dimana tujuan dari acara ini bukan hanya sekadar silaturahmi tetapi juga untuk mempererat rasa persaudaraan dan persatuan.


Pak Jokowi hadir di acara ini pada pukul 18.20 WIB. Bersamanya juga terlihat Gubernur DKI Jakarta, Pak Djarot, beberapa menteri seperti Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menkominfo Rudiantara, dan Kepala Kantor staf Presiden Teten Masduki. Terlihat juga beberapa politisi dari PDIP. Pada acara tersebut juga menegaskan untuk mendukung Pak Jokowi melanjutkan kinerja baiknya untuk periode berikutnya.
Acara tersebut selesai pada pukul 21.00 WIB, dan sejatinya Pak Jokowi dijadwalkan untuk pulang ke Istana Bogor dan istirahat. Tetapi ibarat tenaga yang selalu terisi, Pak Jokowi memilih untuk memutar balik dan menonton konser di Jakarta International Expo.
Konser ‘We The Fest’ adalah konser tahunan yang diadakan di Jakarta dengan mengusung konsep urban festival. We The Fest tahun ini dilaksanakan tanggal 11-13 Agustus 2017 di JI Expo Kemayoran. Band-band yang tampil terdiri dari band lokal dan band internasional. Beberapa nama band lokal sudah tidak asing lagi seperti “The S.I.G.I.T”, “Anomalyst”, dan “Payung Teduh”. Juga ada penyanyi yang terkenal seperti “Raisa”, “Jonas Blue”, “Yuna” dari Malaysia, hingga “Andre Dunant”. Tidak hanya sebatas konser, di acara ini juga diadakan beberapa pameran.
Menarik untuk dilihat karena seorang presiden tiba-tiba datang ke acara anak muda seperti ini. Dan dari nama-nama band tersebut hampir tidak ada yang merupakan band Metal seperti yang disukai oleh Pak Jokowi selama ini.
Dilansir dari Detik.com, bahwasannya datang ke konser tersebut memang tidak ada di agenda dan Pak Jokowi hanya ingin melihat-lihat saja
“Ya, saya ingin melihat tren saja. Kalau saya kan penginnya metal, tapi tadi saya lihat kayak Shura, ya baguslah,” kata Jokowi di lokasi.
Jokowi menyebutkan baru pertama kali mengunjungi konser musik tersebut. Karena itu, ia ingin melihat dan menikmati konser.
“Saya mau lihat-lihat dulu, ini pertama kali saya ke sini,” ucap Jokowi.- Detik.com
Pak Jokowi memang merupakan salah satu sosok yang sulit ditebak. Terlihat ketika Pak Jokowi mengundang para pelawak ke Istana. Ketika Pak Jokowi memberikan sepeda ke Raisa. Hingga bagaimana Pak Jokowi membuat vlog tentang kelahiran anak kambing.
Dari semua tindakannya selalu ada yang menerima dampak positif dan ada yang menerima dampak negatif (contohnya sang mantan tersindir). Dan terkhusus dari kegiatan ini juga ada yang mengalami dampak serupa. Untuk dampak positifnya tidak perlu diragukan lagi adalah panitia dari acara “We The Fest”. Kita semua tahu bahwa Pak Jokowi adalah buzzer yang terbaik di Indonesia. Setiap jenis pakaian baru yang dipakainya pasti akan laris di pasaran. Begitu juga dengan konser ini. Jika kita melihat ke website wethefest.com maka kita akan menemukan bagaimana mahalnya harga tiket konser tersebut yakni tiket yang paling murah seharga Rp. 560.000,-. Dengan kehadiran Pak Jokowi ke acara tersebut tentu saja akan membuat banyak orang penasaran dan akan memberikan dampak positif di dua hari tersisa. Dampak lainnya juga dari tiket yang dibeli oleh Pak Jokowi beserta pengawalnya.
Ada yang mendapat untung, ada juga yang mendapat lelah. Mereka adalah para pengawal Pak Jokowi yang biasa disebut Paspampres. Kita semua tahu konsep pengawalan dari seorang presiden adalah menggunakan beberapa lapis pengamanan dan juga melakukan sterilisasi. Bahkan ketika ingin melakukan blusukan saja hal tersebut harus sudah ada di agenda sehingga bisa dilakukan pengawalan. Terlihat bahkan bagaimana Pak Jokowi dikawal langsung oleh Jenderal TNI, Gatot Nurmantyo, ketika blusukan ke Papua. Tetapi kehadiran Pak Jokowi di acara ini sama sekali tidak diagendakan, dan acara ini juga penuh dengan manusia yang tidak bisa ditebak ‘jenisnya’ karena juga banyak peserta internasional. Para Paspampres akan sangat lelah menjaga pak Jokowi dari setiap ancaman yang datang hingga tengah malam nanti. Semoga para Paspampres selalu bersemangat jika mendapat kejutan-kejutan dari Pak Jokowi. 

Capres Demokrat AHY Dianggap Anak-Anak Sama Jokowi, Disuruh Konpres Sama Gibran

Pertemuan putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Presiden Jokowi menjadi sorotan media hari ini, Kamis (10/8/2017). AHY yang datang ke Istana bertemu Presiden Jokowi untuk meminta restu untuk peluncuran The Yudhoyono Institute. AHY bahkan berharap Presiden Jokowi bisa hadir.

Dalam pertemuan tersebut, AHY dijamu makan siang dengan menu gudeg dan bubur lemu. Makan siang ini disiapkan oleh putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Kedatangan AHY memang membuat Gibran ingin menyajikan sendiri menu makan siang. Entah apa tujuannya, tetapi menu yang disampaikan oleh Gibran kini disebut dengan istilah diplomasi gudeg-bubur lemu..
AHY dalam pertemuan tersebut mengakui bahwa dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi membahas mengenai pentingnya peran generasi muda menjadi tulang punggung perubahan yang terjadi karena kemajuan jaman. Perubahan yang terjadi dalam bidang ekonomi, politik dan sosial.
Sayangnya, AHY yang seharusnya mendapatkan kesan baik dalam pertemuan tersebut dalam menaikkan level politiknya, malah dicuekin oleh Presiden Jokowi. Entah sadar atau tidak, Presiden Jokowi seperti sedang menganggap kedatangan AHY hanyalah sebagai anak mantan Presiden dan bukan seorang tokoh politik yang pernah jadi calon Gubernur DKI.
Sebenarnya kalau saja Presiden Jokowi ikut melakukan jumpa pers berdampingan dengan AHY, maka AHY akan punya sebuh framing dan personal branding yang tinggi. Karena dengan mengadakan jumpa pers bersama tersebut AHY akan dianggap sebagai sosok penting dalam perpolitikan Indonesia.
Sayangnya, Presiden Jokowi malah menyodorkan Gibran untuk menerangkan isi pertemuan dan menyebut bahwa pertemuan hanya bicarakan hal yang santai dan supaya sesuai dengan konteksnya, maka biarlah anak-anak yang menerangkan.
“Biar anak-anak aja, biar bisa lebih santai,” kata Jokowi sebelum Gibran dan Agus menggelar jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Jleb sekali pernyataan Presiden Jokowi ini. Saya yakin kalau Presiden Jokowi bukan bermaksud merendahkan AHY, tetapi memang apa yang dilihat oleh Presiden Jokowi AHY adalah putra sulung SBY. Tidak salah pendapat Presiden Jokowi, tetapi pernyataan Presiden Jokowi ini pada akhirnya menjadi heboh.
Mengapa jadi heboh?? Karena bagi beberapa orang dan khususnya para elit Partai Demokrat, AHY digadang-gadang sebagai calon Presiden potensial 2019. Kalau melihat spanduk-spanduk yang berkaitan dengan Partai Demokrat, maka bisa kita temukan hampir selalu ada foto AHY. Padahal kalau ditelusuri, AHY ini tidak punya posisi apapun di Partai Demokrat.
Beberapa elit Partai Demokrat sempat mewacanakan pencapresan AHY ini. Salah satunya adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto. Agus mengatakan, rencana itu dipertimbangkan mengingat banyak masukan dari kader agar partai mengusung AHY sebagai capres.
“Rata-rata masyarakat Indonesia, wabil khusus kader Demokrat itu menginginkan Mas AHY itu menjadi next leader. Canangannya itu kami fokuskan di tahun 2019,” ujar Agus di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/6).
Bagaimana bisa seorang yang sudah digadang-gadang menjadi capres hanya disebut anak-anak oleh Presiden Jokowi. Mau ditaruh dimana muka para elit Partai Demokrat kalau hal ini dihebohkan?? AHY hanya dianggap anak-anak dan ditandingkan dengan Gibran yang hanya seorang pedagang martabak dan bukan seorang elit politik.
Pernyataan Presiden Jokowi, kalau dari kacamata orang netral,  sangatlah tepat. AHY memang masih pantas dikategorikan sebagai anak-anak dalam dunia perpolitikan. Anak-anak karena memang levelnya dalam politik masih sangat rendah, apalagi kepemimpinannya yang hanyalah sampai Mayor di dalam kemiliteran. Kalau ada yang menganggap AHY sudah punya kelas di politik, palingan hanya elit Partai Demokrat.
Presiden Jokowi ini memang selalu punya gaya berpolitik apa adanya dan umum-umum saja, tetapi terkadang gayanya yang seperti itu malah jadi serangan tidak terduga bagi lawan politiknya. Saya yakin, sekali lagi, tidak ada tendensi Presiden Jokowi menganggap AHY anak-anak dalam artian merendahkan. Melainkan karena memang bagi Presiden Jokowi AHY memang anak-anak dalam usia.
Meski tidak sengaja, tetap saja pernyataan ini menjadi pedih bagi para pengagum AHY dan yang menggadang-gadang dia sebagai capres. Mudah-mudahan jangan sampai karena akan hebohnya pernyataan para prajurit medsos dan tukang nyinyir dan fitnah Partai Demokrat tidak melakukan serangan kepada Jokowi. Karena kalau itu dilakukan, itu namanya sifat kekanak-kanakan.
Jadi, kalau Jokowi menyebut AHY dan Gibran anak-anak, jangan merasa pedih. Karena memang mereka adalah Anak-anak Presiden. Tidak lebih dari itu. Masih pedih juga?? Yoweslah. Namanya juga anak-anak.

Dedi Mulyadi, Islam dan Sunda

Pilkada Serentak 2018 makin dekat, akhir Juni 2018. Pemungutan suara akan dilakukan usai lebaran Idul Fitri tahun depan. Makin terasa pula, hawa dan geliat politik di berbagai daerah yang menyelenggarakan pilkada makin hangat, bahkan mulai panas. Dari sekian pilkada serentak, yang mendapat sorotan dan pemberitaan publik secara nasional adalah Pilgub, Pemilihan Gubernur. Pilbup dan pilwakot nampaknya tidak menarik diulas secara nasional, tentu saja. Beda kelas, dan beda urgensinya secara nasional.
Dari sekian pilgub, yang ramai dan banyak diangkat media (terutama online) adalah Pilgub Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu saja Jawa Barat. Ketiga pilgub di atas mendapatkan pemberitaan lebih banyak daripada pemberitaan pilgub lainnya. Terlebih Pilgub Jawa Barat. Untuk Jawa Barat, bahkan wacana, diskusi, dan manuver sudah dimulai sejak beberapa bulan silam. Salah satunya adalah berupa deklarasi Partai Nasdem yang mencalonkan Ridwan Kamil.
Sepanjang yang bisa dipantau dari media, pemberitaan tentang Pilgub Jabar lebih dominan dan terasa cukup melibatkan emosi publik secara nasional. Apa sebabnya? Kata sebagian pengamat, Pilgub Jabar akan menjadi “Perang Bintang”, karena para calon merupakan bintang-bintang yang banyak diekspos media, baik bintang dalam politik, kebudayaan, dan tentu saja bintang iklan. Dan, mengapa emosional? Itu karena bintang-bintang tersebut sebagiannya telah memiliki para pendukung yang cukup fanatik.
Di antara bintang pilgub Jabar yang banyak ditunggu-tunggu update beritanya adalah Dedi Mulyadi. Setelah mendapatkan kepastian dicalonkan oleh Partai Golkar, dan hampir pasti juga diusung oleh PDIP, langkah dan kiprah Kang Dedi makin intensif disorot. Bahkan apa yang telah ia lakukan dulu, dan apa yang telah menjadi ciri khasnya selama ini, kembali mulai diangkat, atau lebih tepatnya diungkit-ungkit. Dalam beberapa waktu ke depan, sorotan kepada Kang Dedi akan makin intensif dilakukan, terutama oleh kalangan yang sejak awal memang sudah melihatnya secara negatif dan tidak memahami narasi besar yang ia usung.
Seperti diketahui publik, Dedi Mulyadi sangat konsisten mengusung narasi budaya, yang dalam hal ini dimanifestasikan dalam bentuk budaya Sunda. Oleh kalangan tertentu, narasi Sundanya ini lalu dibelokkan menjadi isu syirik dan isu Sunda wiwitan. Dan dalam berbagai kesempatan, Kang Dedi berkali-kali menjelaskan tentang apa yang ia lakukan, dan sekaligus menjawab apa yang mereka salahpahami darinya selama ini.
Dalam sebuah kesempatan misalnya ia pernah menguraikan kaitan antara Islam dan Sunda, atau keislaman dan kesundaan. “Ada sebagian kalangan yang membenturkan antara keislaman dan kesundaan, seolah keduanya bertentangan,” katanya mengawali pembicaraan saat mengisi Ceramah Keagamaan di Masjid Ujungberung Bandung, Jumat 15 Januari 2017 yang lalu.
Pada kesempatan ini, Ki Sunda menyampaikan ceramahnya sepenuhnya dalam bahasa Sunda, dan penuh dengan uraian filosofi kesundaan yang dikaitkan dengan keislaman. Atau lebih tepatnya, Kang Dedi sedang menjelaskan Islam dengan pendekatan kesundaan.
Sejak tahun 1980-an, tema keislaman yang coba dijelaskan dalam konteks keindonesiaan pernah dengar gencar disosialiasikan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid) yang disebut-sebut sebagai Bapak Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia. Saat itu Cak Nur mengangkat tema Keislaman dan Keindonesiaan.
Sekalipun awalnya –seperti biasa– banyak pihak yang kontra keras kepadanya, namun akhirnya gagasan Cak Nur tentang hal ini makin dimengerti dan diterima. Intinya, baik keislaman, keindonesiaan maupun kemodernan –menurut Cak Nur– bukan tema-tema yang mesti dipertentangkan dan saling menegasikan. Ketiganya justru saling menguatkan.
Kini, tema keindonesiaan kembali mencuat ke tengah publik, dan menjadi bahan perbincangan yang memicu perdebatan, sekalipun belum segempita masa Cak Nur. Kali ini keindonesiaan dihadapkan dengan tema kesundaan (sebagai bagian dari keindonesiaan).
Perbedaannya, kalau dulu wacana ini diangkat oleh sosok pemikir Muslim akademis, maka kali ini pengusungnya adalah sosok kepala daerah Muslim yang budayawan, yakni Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta. Perbedaan lainnyaa adalah, kalau dulu Cak Nur bermain di wilayah wacana intelektual teoritis, kali ini Kang Dedi bermain di wilayah intelektual praktis yang diterjemahkan dalam kebijakan publik dan politis.
Kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama disalahpahami pada awalnya, bahkan dituduh macam-macam. Dulu Cak Nur dituruh liberal, sekarang Kang Dedi dituduh musyrik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi, intensitas penjelasan, dan kematangan nalar audiens, pelan tapi pasti gagasan keduanya makin dipahami dan diterima. Apalagi untuk konteks Kang Dedi, gagasannya itu diwujudkan dalam karya-karya nyata yang bisa terlihat dan tersentuh, lebih konkret.
Singkat cerita, waktu membuktikan, bahwa apa yang kang Dedi sampaikan itu kini makin dimengerti. Kalangan yang sebelumnya sempat menolak dan menuduhnya negatif pun sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang dimaksudkan Kang Dedi. Kecuali mereka yang memang enggan membuka akalnya untuk memahami dan mengapresiasi cara berpikir bagus dari orang lain.
Pelan tapi pasti, publik makin diyakinkan bahwa Islam dan Sunda itu bukan dua entitas yang pantas dihadap-hadapkan, keduanya justru tidak berlawanan bahkan satu kesatuan. Melalui ceramah-ceramahnya, Kang Dedi mampu menjelaskan hal ini dengan sangat baik dan mudah dipahami, bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Misalnya, dalam penjelasannya tentang makna puasa, tentang kematian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, ia mampu menguraikan panjang lebar dengan pendekatan filosofi dan budaya Sunda.
Secara psikologis-internal, ia sangat meyakini bahwa Islam dan Sudan itu tidak bisa dipisahkan. Dan secara sosial-eksternal ia meyakinkan hal ini kepada masyarakat melalui kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik. Dan publik kini mengakuinya…*

Fahri Hamzah Menyebut Perawatan Novel Dibiayai Asing, KPK Bilang: Jangan Percaya Berita Bohong

Tanggal 11 April 2017 menjadi hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Novel Baswedan. Di pagi hari usai menjalankan Sholat Subuh, ia diserang oleh pecundang dengan cara menyiramkan air keras di wajahnya.

Ketika mendengar berita bahwa Novel Baswedan diserang seseorang tidak dikenal itu, saya marah. Saya yakin bukan hanya saya yang marah dengan peristiwa itu. Warga negara Indonesia yang waras dan ikut terlibat dalam perjuangan melawan korupsi pasti marah mendengar berita itu.
Penyerangan terhadap Novel Baswedan bisa dipastikan sangat terkait dengan perofesinya. Berbagai indikasi menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Novel Baswedan yang dikenal kritis dan hebat dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Karena kehebatannya itulah banyak koruptor dibuat kejang-kejang olehnya.
Dalam kasus pengusutan korupsi E-KTP, Novel menjadi Kepala Satuan Tugas. Menangani kasus ini bukan hal yang mudah sebab selain besarnya jumlah uang yang dicuri koruptor, dalam kasus ini terdapat jalinan yang sangat ruwet. Salah satu keruwetannya adalah orang-orang di senayan yang tidak suka jika kasus ini dibuka. Tentu seworders paham dari kasus inilah DPR membuat Pansus untuk mengusut KPK, eh tepatnya untuk melemahkan KPK.
Serangan pengecut dengan cara menyiramkan air keras di wajah Novel adalah tindakan sadis, biadab dan tidak bisa ditolerir. Dampak penyerangan air keras yang dialami Novel mengakibatkan 95 persen kulit, bahkan sampai 97 persen mata kirinya terbakar. Sementara mata kanannya mengalami kerusakan sekitar 60 persen.  Akibatnya Novel harus dibawa ke Singapura untuk menjalani perawatan.  Mengapa harus ke Singapura? Novel harus menjalani perawatan di sana supaya mendapat perawatan dan terapi yang lebih intensif akibat keparahan sakitnya.
Sayang, pengobatan Novel ke luar negeri dengan tujuan pemulihan yang lebih cepat tidak mendapat dukungan yang positif dari banyak orang. Salah satunya adalah Fahri Hamzah.  Sebagai wakil ketua DPR yang mestinya mencerahkan, ia justru memperkeruh suasana dengan menuduh bahwa pembiayaan pengobatan Novel dibiayai oleh negara asing. Apakah Fahri memiliki bukti bahwa pembiayaan pengobatan terhadap Novel dari luar negeri?
KPK mengatakan tidak!
Komisi Pemberantasan Korupsi membantah pernyataan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah.Febri Diansyah menegaskan bahwa sejak awal KPK sudah memberikan informasi yang jelas tentang mekanisme biaya perawatan Novel Baswedan. Semua pembiayaan pengobatan adalah dari keuangan negara. Bahkan untuk mekanisme itu KPK juga berkoordinasi dengan presiden. Johan Budi yang pernah bekerjasama dengan Novel saat di KPK dan sekarang menjadi staf khusus Presiden bidang komunikasi mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah memutuskan untuk membiayai pengobatan dan perawatan penyidik KPK Novel Baswedan.
KPK perlu memberikan penjelasan pada masyarakat tentang mekaniske pengobatan Novel pada masyarakat untuk mengkliarifikasi pernyataan Fahri yang berpotensi memperkeruh suasana. Potensi itu sangat mungkin karena kapasitas Fahri Hamzah yang saat ini duduk sebagai wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Supaya masyarakat dapat berpikir jernih dan tidak terprovokasi, Diansyah selaku unsur KPK menganjurkan pada semua pihak agar sebaiknya menahan diri menyampaikan informasi yang keliru dan bohong karena itu bisa menjadi fitnah pada pihak lain.
Apa respons Anda saat mendengar tuturan Diansyah? Respons saya yang pertama tentu adalah menyayangkan sikap curiga dari Fahri Hamzah. Jika staf khusus presiden dan KPK sudah menjelaskan bahwa pengobatan Novel murni biaya negara, mengapa masih tidak percaya? Jika masih tidak percaya pada sumber resmi dari negara, apakah Fahri lebih percaya pada hoax? Memang kalangan tertentu senang dengan hoax sebab hoax terkadang lebih memuaskan hati ketimbang kebenaran.
Selain menyayangkan sikap curiga, saya juga menilai Fahri sudah kehilangan empati terhadap Novel Baswedan.
Secara mudah, empati diartikan sebagai rasa iba dan turut merasakan apa yang dialami oleh Novel yang benar-benar mengalami kesakitan akibat luka di wajahnya. Hilangnya rasa empati ditandai dengan sikap nyinyir terhadap mekanisme pengobatan pada Novel.
Ingat, Novel butuh pemulihan. Bukan hanya dia yang ingin Novel pulih. Keluarga, bahkan warga negara Indonesia sangat mengharap Novel Baswedan segera pulih.
Matinya empati sebenarnya merupakan bentuk ketidakberpihakan pada korban, selain itu hilangnya empati merupakan tindakan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ah ngeri rasanya melihat orang-orang yang kehilangan empati.

Akankah Umat Islam Indonesia Patuhi MUI atau Tetap Beraksi 287 Tolak Perppu Ormas?

Melalui Kyai Haji Ma’ruf Amin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam tidak ikut dalam aksi unjuk rasa menolak Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas, pada Jumat (28/7/2017) besok. Demikian pernyataan Ma’aruf Amin seperti ditulis rapi Kompas.com:
“MUI menganggap tidak perlu ada demo. MUI juga meminta umat enggak usah terprovokasi, enggak usah ikut,” ujar Ma’ruf, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (27/7/2017).
Sebagaimana telah ramai dibahas bahwa aksi unjuk rasa 287 itu digagas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Rencananya, aksi tersebut akan dimulai dari Masjid Istiqlal Jakarta hingga Istana Kepresidenan pada Jumat besok (28/07/2017). Ini pula yang menjadi alasan aksi tersebut berlabel angka keberuntungan 287.
Dari sinilah, permintaan atau himbauan MUI pantas diuji besok. Kalau masih ada yang bandel ikut demo, tentu mereka telah secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling benar-benar melecehkan ulama Indonesia yang layak dimuliakan.
Ketika mereka bandel di hadapan MUI dan tetap menyelenggarakan aksi, nama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) sudah tidak pantas lagi. MUI harus membubarkan nama gerakan itu. Tukang kawal fatwa MUI kok malah mau mbalelo dengan pembuat fatwa.
Apalagi Kyai Ma’ruf sudah menandaskan bahwa ormas anti-Pancasila memang sudah seharusnya dibubarkan. Inilah yang menjadi alasan kalau aksi 287 menjadi kehilangan arti alias zoonk atau dung dung pret.
Apabila masih saja ada yang nekat, berarti memang sengaja menghina ulama dengan cara tidak mau mendengarkan ulama. Istilah ndesanya, MUI ‘dipretke’. Kalau sampai umat Islam ‘ngepretke’ ulamanya, ini tentu sungguh ter-la-lu! Berarti ada maksud secara sengaja, masif dan terstruktur untuk menghina dan menistakan ulama.
Sayang, kalau menjadi umat Islam malah menistakan ulamanya dengan nekat beraksi 287. Ini sangat patut disayangkan. Mengingat, siapa nanti yang akan membela ulama mereka, ketika mereka sendiri yang malah menghina? Padahal, pada waktu mereka dulu melakukan aksi 212 adalah dalam rangka membela ulama. Nah, mengapa pada aksi 287 malah hendak berbalik menghina ulamanya sendiri? Sekali lagi, ter-la-lu!
Dan, dalam situasi seperti ini tentu sangat membingungkan bagi para malaikat penghitung pahala. Oke ocelah, kalau waktu membela ulama terhitung sebagai pahala. Tetapi ketika berbalik menghina ulama? Bagaimana nasib pahala yang dulu secara susah payah telah dikumpulkan? Memang situ rela kalau pahalanya dihapus gara-gara menghina ulama lewat aksi 287?
Mumpung masih ada waktu, sebaiknya sebagai umat Islam yang sudah mengantongi undangan aksi 287 berpikir ulang. Apalah tujuan aksi menolak Perppu Ormas? Majelis Ulama Indonesia telah menilai, pemerintah memiliki wewenang untuk menjaga dasar negara dari ancaman. Apalagi, penerbitan Perppu tersebut telah sesuai dengan peraturan dan perundangan.
Secara lebih gamblang Kyai Ma’aruf Amin menerangkan bahwa hal itu sudah ada mekanismenya. Pemerintah memang berhak menurut UU membuat Perppu. Toh Perppu itu nanti juga masih akan diuji oleh DPR. “Jadi, itu kan perjalanan saja, tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak manapun,” ujar Ma’ruf.
Jika ada yang keberatan terhadap Perppu tersebut, ia menyarankan untuk menempuh jalur hukum. Salah satunya, melalui gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Penjelasan Kyai Ma’aruf ini sesuai dengan keterangan dari Bapak Presiden.
Sudah berulang kali, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Perppu 2/2017 diterbitkan semata-mata demi menjamin keamanan negara saat ini dan masa mendatang. Tidak ada maksud lain. Keutuhan dan keamanan Negara Republik Indonesia adalah hal yang utama. Negara akan utuh dan aman bila dasar negaranya tidak dirongrong oleh para garong yang suka bengong di hari siang bolong kayak kalong.
“Sekali lagi saya sampaikan bahwa Perppu ini terbit untuk menjamin serta menjaga keamanan negara dalam jangka waktu sekarang hingga yang akan datang,” ujar Jokowi, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/7/2017), sebagaimana dicatat kompas.com.
Artinya, jika masih ada yang menolak Perppu tersebut, masih ada peluang menempuh jalur hukum dengan uji materi. Hal mana, terang Jokowi, itu telah diatur dalam mekanisme hukum.
“Kalau ada yang tidak setuju, ya silakan ke jalur hukum, mekanisme hukum kan ada. Kan negara ini juga negara hukum, saya kira dipersilakan,” ujar Jokowi lagi.
Jokowi juga mengingatkan, meski pemerintah telah meneken Perppu 2/2017 tentang Ormas, Perppu itu belum disetujui oleh DPR RI. Proses demokrasi masih berlangsung, hingga semua elemen bangsa benar-benar memahami maksud dan tujuan Perppu Ormas.
Hal yang pantas disyukuri, dengan cepat dan cerdas para ulama memahami hal ini sehingga melalui MUI mendukung penerbitan Perppu. Oleh karena itu, bila ada aksi 287 yang menentang Perppu, berarti menistakan para ulama yang cerdas ini. Saatnya bagi umat Islam yang berakal mikir!
Referensi:
  • http://nasional.kompas.com/read/2017/07/27/15235791/dukung-perppu-ormas-mui-minta-umat-islam-tidak-ikut-aksi-287
  • http://nasional.kompas.com/read/2017/07/27/14372231/ada-rencana-aksi-287-tolak-perppu-ormas-ini-tanggapan-jokowi