Subscribe Us

Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan

Mahfud MD Minta Pemilu 2019 Tidak Bawa Mundur Kemajuan Demokrasi RI

Sejumlah tokoh kebangsaan hadir bersilaturahmi di kediaman Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Mereka membicarakan persoalan masa depan bangsa termasuk penyelenggaraan pemilu 2019 yang masih dalam proses penghitungan suara. 

Usai berdiskusi bersama BJ Habibie, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menjelaskan bahwa pesan pokok dalam pertemuan tersebut bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Indonesia merdeka dengan tujuan untuk bersatu agar bisa menjadi negara maju.

"Oleh sebab itu, pemilu yang sekarang ini supaya tidak membawa mundur lagi kemajuan kita di bidang demokrasi. Kita yang datang di sini berasal dari kelompok politik atau pilihan politik yang berbeda-beda tapi membawa pesan yang sama," kata Mahfud di kediaman BJ Habibie, di Kuningan, Jakarta, Rabu 1 Mei 2019.

Untuk itu, Mahfud mengajak segenap bangsa untuk mengawal jalannya pemilu sampai nanti berakhir dengan sebaik mungkin. Namun setelah pemilu, imbuh Mahfud, Indonesia jangan sampai berpecah lagi. 

Dukung Jokowi, Ketua Demokrat Papua Siap Dipecat

Jayapura - Ketua DPD Partai Demokrat Papua Lukas Enembe secara lantang mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin meski partainya masuk koalisi Prabowo-Sandiaga. Lukas mengaku siap dipecat atas sikapnya yang berlawanan itu.

"Kalau dipecat, tidak ada masalah," ucap Lukas setelah mengikuti rapat pleno KPU Papua penetapan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua terpilih 2018-2023 di Jayapura, Senin (13/8/2018).

Lukas Enembe, yang juga Gubernur Papua terpilih, siap menerima sanksi, bahkan siap dipecat, dari Partai Demokrat karena mendukung Jokowi dalam pilpres mendatang. Dia mengatakan sudah meminang partai lain untuk menerimanya.

"Kemungkinan saya ke Partai NasDem, jadi Dewan Pembina di sana. Tahun depan saya akan gelar musyawarah luar biasa untuk pemilihan Ketua DPD. Kita perlu melakukan kaderisasi selanjutnya," paparnya.

Dia juga menyerukan kepada seluruh kader Demokrat Papua untuk memberikan dukungan kepada Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Saya sudah lapor kepada Sekjen Hinca Pandjaitan bahwa kali ini saya keluar dari barisan untuk mendukung Jokowi. Sikap kita sudah jelas," katanya. 

Bupati Labuhanbatu Ditangkap KPK, Hartanya Miliaran

Jakarta - Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Pangonal Harahap, terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Politikus PDIP itu diketahui memiliki total harta kekayaan Rp 5 miliar.

Ditilik dari laman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Selasa (17/7/2018), harta kekayaan yang dilaporkan Pangonal didominasi bidang tanah dan bangunan. Total ada 41 bidang tanah dan bangunan yang tercantum dalam LHKPN, yang terakhir dilaporkannya pada 7 Oktober 2016.

Aset miliknya itu tersebar di Labuhanbatu, Deli Serdang, hingga Medan. Selain itu, dia melaporkan aset berupa mobil serta simpanan emas.

Total hartanya tercatat Rp 5.022.527.174. Angka itu meningkat jauh dibandingkan terakhir dia melaporkan LHKPN pada 24 Juni 2015, yaitu total Rp 2.325.795.071. Artinya, harta Pangonal bertambah lebih dari 100 persen dalam setahun.

Pangonal ditangkap KPK di Bandara Soekarno-Hatta bersama seorang lainnya. Selain itu, ada tiga orang lain yang ditangkap KPK di Labuhanbatu. Saat ini tiga orang itu sedang menjalani pemeriksaan awal di Polres Labuhanbatu dan baru dibawa ke Jakarta besok.

KPK memiliki waktu 1 x 24 jam untuk melakukan pemeriksaan intensif serta gelar perkara sebelum menentukan status hukum kelima orang itu. KPK menduga transaksi haram yang dilakukan Pangonal berkaitan dengan proyek di Dinas PUPR Labuhanbatu.

Ahmad Dhani “Ngamuk” Setelah Postingan Penulis ?

Beberapa hari yang lalu, penulis mengangkat tulisan tentang pakaian kaos yang dipakai oleh Ahmad Dhani beberapa tahun yang lalu. Bagi pembaca setia di Seword yang ingin membacanya silahkan klik tulisan penulis yang bisa di akses di https://seword.com/politik/ahmad-dhani-teriak-pki-silahkan-perhatikan-bajunya

Ternyata postingan penulis tersebut menjadi viral di media sosial bahkan sudah masuk menjadi berita di beberapa media nasional. Tulisan tersebut ternyata membuat Ahmad Dhani “ngamuk” seperti yang diberitakan di dalam salah satu situs media nasional berikut ini :
http://www.tribunnews.com/seleb/2017/08/18/ngamuk-fotonya-pakai-baju-palu-arit-viral-dhani-ditantang-netizen-lakukan-ini
Penulis bingung, kenapa Ahmad Dhani “ngamuk” ya setelah penulis mengangkat foto ini ???
http://mulanjameelafan.weebly.com/uploads/1/0/4/0/1040996/1174022_orig.jpg
Penulis ingin bertanya…
Jadi benar, bahwa simbol merah yang terdapat pada baju kaos yang dipakai oleh Ahmad Dhani pada foto di atas adalah simbol Palu arit yang merupakan ciri khas PKI ???
Jadi benar ya jika tokoh pada baju yang dipakai oleh Ahmad Dhani di atas adalah Josif (Josef) Vissarionovich Stalin, Iósif Vissariónovich Stálin, nama asli Ioseb Jughashvili yang merupakan seorang tokoh komunis dan diktator yang sangat kejam dari Uni Soviet ???
Jika itu bukan simbol palu arit yang merupakan ciri khas PKI, lalu itu simbol apa ???
Jika itu bukan sosok Josef Vissarionovich, lalu itu siapa ???
Ahmad Dhani seharusnya tinggal menjawab saja pertanyaan penulis di atas, tidak perlu “ngamuk” apalagi sampai mencaci maki seperti yang terlihat dalam cuitannya berikut ini :
http://www.tribunnews.com/seleb/2017/08/18/ngamuk-fotonya-pakai-baju-palu-arit-viral-dhani-ditantang-netizen-lakukan-ini
Penulis bertanya secara baik-baik kenapa malah dicaci maki oleh Ahmad Dhani ya ???
Ahmad Dhani “panik” ya ???
Malu ya ketahuan jika pernah memiliki baju kaos simbol Palu arit yang merupakan ciri khas PKI, tapi teriak-teriak anti PKI ???
Beberapah hari yang lalu, penulis juga melihat jika Ahmad Dhani menjual kaos 212 seperti berikut :
http://hiburan.dreamers.id/article/65744/netizen-sindir-ahmad-dhani-karena-jual-kaos-islam-212
Maaf, Ahmad Dhani…
Itu maksudnya apa ya Islam 212 pada kaos tersebut ???
Mau “mencari” simpati umat ???
Anda pernah menggunakan kaos palu arit yang merupakan ciri khas PKI, lalu teriak anti PKI dan sekarang jual kaos Islam 212 ??? Ha ha ha
Gimana logikanya…
Seseorang yang memiliki dan mengenakan baju kaos dengan simbol Palu arit (komunis) lalu sekarang mengenakan kaos Islam 212 ???
Yang lebih lucu lagi, promo kaos Islam 212 tetapi bahasanya “fasih” mencaci maki orang lain dengan kata (Maaf) kodoker dan babier seperti cuitannya di atas ??? wkwkwkwkwk
Terima Kasih Ahmad Dhani…
Saya sebagai salah satu rakyat Indonesia akhirnya menyadari siapa sebenarnya orang-orang yang teriak anti PKI selama ini…
Memang sangat mudah bagi seseorang untuk meneriaki orang lain PKI (komunis) meskipun orang tersebut ternyata pernah menggunakan kaos dengan simbol PKI (komunis) beberapa tahun yang lalu !!!
Terima Kasih Ahmad Dhani…
Saya sebagai salah satu dari umat akhirnya menyadari siapa sebenarnya orang-orang dibalik 212  yang katanya membela agama tetapi bahasanya fasih mencaci maki…
Oh iya…
Penulis ingin mengucapkan Maaf kepada Ahmad Dhani karena penulis tidak memiliki kaos kuning dengan simbol Palu arit merah ciri khas PKI (komunis) seperti foto miliknya di atas karena penulis pernah belajar sejarah jadi penulis mengetahui bagaimana bentuk simbol PKI (komunis) tersebut.
Jadi jika ada orang yang teriak-teriak anti PKI (komunis) tetapi dia sendiri pernah menggunakan kaos dengan simbol PKI (Komunis) itu sama saja ahistoris !!! 😀 😛
Lalu kenapa penulis mengangkat foto lawasnya…???
Karena selama ini ada yang teriak-teriak anti PKI, teriak saat penangkapannya dalam kasus “makar” seperti PKI, mengungkapkan sejarah PKI menurut versinya sendiri untuk menyindir Presiden Jokowi, mengatakan bahwa Ahok merupakan bahaya laten bagi NKRI tetapi ternyata yang teriak tersebut malah memiliki dan menggunakan baju dengan simbol PKI !!! 😀 😛
Jadi sejarah itu sangat berguna bagi kita rakyat Indonesia untuk mengetahui bibit bebet dan bobot seseorang sehingga kita tidak mudah “tertipu” dengan penampilan serta bisa memahami siapa sebenarnya orang tersebut.
Apalah artinya jika seseorang teriak anti PKI, tetapi faktanya dia memiliki dan mengenakan baju simbol PKI…
Apalah artinya jika seseorang mengklaim dirinya sebagai pembela agama HANYA dengan menjual kaos 212 tetapi mulutnya “fasih” mencaci maki orang lain…
Apakah orang tersebut akan tetap bersinar ???
Atau dia malah makin tenggelam ???
Oh iya, Ahmad Dhani, Anda MASIH dicariin tuh oleh Ketua Asosiasi Pedagang Barang Antik Cikapundung, Bandung. (Sumber)

Sandiwara Patrialis Ketika Vonis 12,5 Tahun

Hari ini tanggal 14 Agustus 2017, Eks hakim konstitusi Patrialis Akbar dituntut 12,5 tahun bui karena terbukti melakukan korupsi terkait dengan permohonan uji materi UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Innalillahi, karena saya di persidangan telah mengungkapkan seluruh fakta. Banyak hal fiksi semacam karangan yang dibuat tidak berdasarkan fakta persidangan,” kata Patrialis seusai sidang di PN Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (14/8/2017).
Ha….ha…ha….ada-ada saja ulah manusia bila sudah kena tangkap. “Demi Allah, saya betul-betul dizalimi. Saya tidak pernah menerima uang satu rupiah pun dari Pak Basuki,” ujar Patrialis.
Patrialis justru menganggap dirinya sebagai korban, bukan seorang pelaku korupsi. Korban ? Nggak salah pak ? Patrialis ditangkap dalam operasi tangkap tangan, Rabu (25/1/2017). Patrialis ditangkap setelah diduga menerima suap sebesar 20.000 dollar Amerika Serikat dan 200.000 dollar Singapura, atau senilai Rp 2,15 miliar.
Sudah tertangkap tanganpun masih bilang bahwa dirinya adalah korban. Iya korban kerakusan dirinya sendiri. Mahfud mengatakan tindakan Patrialis tidak pantas lantaran sudah digaji oleh negara sebesar Rp 72,8 juta per bulan dan menerima tunjangan nomor satu.
“Moralnya bobrok, sudah pastilah,” kata Mahfud. Mahfud menambahkan, jika perbuatan korupsi itu terbukti, Patrialis harus dihukum berat. Sebagai penegak hukum, kata Mahfud, Patrialis patut dihukum seumur hidup seperti pendahulunya, Akil Mochtar
Nah, Patrialis Akbar yang dituntut 12,5 tahun penjara saja sudah mengatakan ‘Innalillahi,. Padahal hukuman itu sangat kurang menggigit apalagi bila ditinjau dari ucapan yang pernah disampaikan oleh Patrialis sendiri.
“ Koruptor yang sudah tua dimiskinkan saja dengan mengambalikan kerugian dan denda 10 kali supaya dia miskin. Namun kalau mereka tidak bisa membayar denda berpuluh puluh kali lipat yang kami tentukan, ya koruptor masuk penjara juga,” Kata Patrialis Akbar pada saat menjabat Menteri Hukum dan HAM tahun 2011.
Saat menjabat sebagai Menkum HAM, Patrialis juga pernah menanggapi wacana hukuman mati bagi koruptor. Menurutnya, aturan itu sudah ada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Nah, sekarang bagaimana Patrialis Akbar, hukuman dimiskinkan atau dihukum mati ? Mulutmu adalah Harimaumu.
Gajinya sudah tinggi. Kalau dilihat dari daftar kekayaannya ketika masuk sudah Rp 14 M lebih yang di LHKPN, kok masih kurang ya.
Kalau benar dia menerima suap dan terbukti nanti, dan saya percaya itu akan terbukti nanti, karena KPK yang nangkap, maka tidak ada jawaban lain: dia orang rakus. Kedua, mungkin dia punya agenda politik yang akan ditempuhnya bermodalkan uang, mau jadi apa lagi. Kalau di Indonesia, politiknya nggak punya uang, kan nggak bisa,” papar Mahfud.
Bahkan ketika di MK, Patrialis Akbar diduga pernah mengunakan kop surat MK untuk mengakhiri perselisihan dengan warga Kampung Citeko.
“Itu sempat. Itu sebelum membeli lahan di situ kan ada jalan kecil, jalan buntu. Nggak tahu secara jelas. Tapi saya dengar (Patrialis) menggunakan surat (MK) itu,” ujar Sekretaris Desa Citeko, Sahrudin, kepada detikX di kantornya.
Lebih jauh Sahruddin bahkan menjelaskan walau sudah mengantongi izin lingkungan dari sejumlah warga desa, ternyata pembangunan popes itu belum memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Patrialis baru mengantongi izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bogor.
Melihat kenyataan ini, masihkah pantas Patrialis Akbar di hukum 12,5 penjara ? Seharusnya Patrialis Akbar dihukum seumur hidup dan dimiskinkan atau dihukum mati seperti yang pernah diwacanakan oleh dirinya sendiri kala menjabat Menteri Hukum dan HAM.

Realisasi Kinerja Jokowi

Kebebasan berdemokrasi telah mengantarkan seluruh elemen masyarakat ikut berperan serta dalam memperjuangkan pilihannya. Melihat realitas dari janji kampanye Joko Widodo yang mendengarkan keluhan rakyat, bersentuhan langsung, mementingkan pelayanan rakyat, jujur dan bekerja nyata yang menjadi sebuah prioritas, dengan ideologi politik seperti itulah mampu mengantarkan masyarakat mempercayakan beliau menjadi presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 dan mendapatkan kemenangan.

Jokowi menegaskan bahwasannya dengan adanya etos kerja yang baik akan mempercepat pencapaian  kehendak kita bersama untuk menjadikan bangsa kita besar.  Bagaimana pidato Presiden Jokowi tentang pentingnya bekerja? Di sini ada hal yang menarik pidato dari beliau bagaimana keberpihakannya, merakyatnya, tanpa melihat kelas yang dilihat hanyalah prioritas dalam bekerja harus dilakukan dengan maksimal di segala aspek, kepada para nelayan, buruh, petani, pedagang bakso, pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI, pengusaha dan kalangan profesional.
Saya menyerukan untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong. Inilah, momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama untuk bekerja…bekerja… dan bekerja. baca disini 
Jokowi menekankan bangsa ini perlu bekerja keras, karena kerja merupakan makna budaya dan representasi pembangkit karakter bangsa, dengan itulah tidak akan ada kemunduran di berbagai bidang. Bekerja yang baik menurut Jokowi ialah bagaimana kita bisa menghasilkan sebuah hasil yang bisa di lihat, dirasakan orang lain dan mempunyai kebanggaan dan kepuasaan bagi diri sendiri.
Sejarah mencatat bangsa ini merdeka dengan cara bekerja keras dalam menumpas penjajahan sehingga kita merdeka. Setelah bangsa ini merdeka selama 71 tahun Jokowi berharap seluruh elemen masyarakat beserta stakeholder yang merupakan aset berharga bangsa dapat meneruskan cita-cita perjuangan para pendahulu kita yang menginginkan bangsa kita berjaya.
Jokowi melihat perlu adanya revolusi dengan cara merubah pola pikir bangsa melalui realitas yang ada dengan cara kerja keras dan bergotong royong. Bekerja dengan semangat yang sama dalam menjalankan tugasnya masing-masing, di segala bidang apapun, dengan kreativitas yang dimiliki.
Jokowi yakin Negara ini akan semakin kuat dan mampu bersaing dalam dunia global dengan selalu mengedepankan dan  menumbuhkan kecintaan kita terhadap bangsa ini.
Oleh sebab itu Jokowi mengusung adanya konsep Revolusi Mental. Revolusi Mental memang tidak akan bisa terlepas dari Bung Karno. Beliaulah yang menjadi pencetus dan membuat idenya. Jokowi berharap bangsa ini menjadi manusia yang berintegrasi.
Jokowi melihat bagaimana kerusakan di dalam etos kerjaterjadinya penyelewangan-penyelewangan di bidang ekonomi, politik, kebobrokan di bidang hukum para pemangku jabatan yang lebih mementingkan kepentingan sendiri dan golongannya dimana mereka bekerja semata-mata  hanya untuk uang.
Program-program yang dijalankan sebatas wacana tanpa memerdulikan tanggung jawab dari apa yang semestinya dilakukan, masyarakat sudah terlalu lelah untuk mendengarkan retorika-retorika yang diaspirasikan dan dijanjikan, prinsip kerja asal kerja menjadi sebuah keterbiasaan,  wacana dalam bekerja dianggap menjadi hal mudah dan lumrah bagi mereka.
Revolusi mental menurut Jokowi adalah bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah dan bergotong royong. Artinya masyarakat harus mengenal orisinal bangsa Indonesia, karena dengan menerapkan sistem seperti itu tidak akan ada munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, dan kerja yang tidak baik.
Menurut Jokowi terminologi revolusi tidak selalu perang melawan penjajahan, menurutnya revolusi merupakan refleksi tajam bahwa karakter bangsa harus dikembalikan keaslinya. baca disini dan implementasinya adalah melalui jalur pendidikan yang berkualitas dan merata, serta penegakan hukum yang tak pandang bulu.
Kepercayaan masyarakat lantas dibuktikan oleh Joko Widodo perjalanan tiga tahun dari kepemimpinan Jokowi membawa perubahan, Ideologi  kerja Kabinet Jokowi dalam menerapkan prinsip kerja nyata pun dilaksanakan, misalnya prioritas Nawa Cita mulai memberikan angin segar kepada masyarakat.
Bagaimana dampak yang dirasakan  dari program KIS (Kartu Jakarta Sehat) dalam perubahan ekonomi menurut Direktur utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris dalam waktu 3 tahun. Program JKN – KIS telah menanggung hampir 70% dari total penduduk Indonesia. baca disini 
Sistem Pemerintahan yang transparan, pengurusan birokrasi terhadap pelayanan publik di segala aspek kepemerintahan semakin baik dan berkurangnya pungli, sidak yang dilakukan di kantor pemerintahan menjadikan para pegawai ketar-ketir dan tidak ada kata bermalas-malasan dalam bekerja.  Beberapa proyek mangkrak berhasil diselesaikan, salah satunya insfratuktur jalan dan pembangunan proyek kelistrikan. baca disini
Perubahan nyata dari pembangunan khususnya insfrastuktur jalan setelah beliau memimpin tidak hanya terfokus di Jakarta dan Pulau Jawa saja, tetapi lebih ke pemerataan pada daerah-daerah yang sulit di jangkau seperti Sumatra hingga Papua.
Pemerataan insfratuktur akan dapat merubah perputaran ekonomi yang lebih baik, penjualan dan produk-produk dari hasil bumi daerah dapat tersalurkan dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Semua itu tak semudah mengembalikan telapak tangan untuk mewujudkannya.
Para pemimpin besar adalah pemimpin yang mampu memicu imajinasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita dan impian yang besar. Sehingga pengaruhnya merubah pola pikir rakyat untuk tidak ragu dan penuh semangat melakukan apapun untuk mencapainya, bahkan melakukan pengorbanan-pengorbanan  besar. Para pemimpin seperti Soekarno, Gandhi, Wasinghton atau Kennedy mampu membakar semangat pengikutnya sehingga tujuan besarnya tercapai.
Seseorang yang memiliki visi besar, impian, imajinasi dan karakter yang cukup kuat untuk mendorong perubahan dan kemajuan, Revolutionaries, dia harus memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus empati. baca disini  
Jokowi mempunyai kemampuan dekat dengan rakyat, dengan cara itulah beliau mempunyai harapan untuk menentukan wajah Indonesia mencapai cita-citanya menuju masa depan yang lebih baik, semoga dengan kekuasaan politik yang dimiliki tetap konsisten dengan kerja nyata, Pemimpin yang baik, harus bisa memilih solusi yang terbaik dari yang terburuk, memberikan solusi-solusi kreatif yang bisa diterima di semua pihak.
Kemampuan komunikasi Jokowi menjadi hal yang vital karena merupakan hal yang sangat penting dalam penyampaian visi dan ide yang baik, sebuah ide yang besar bisa gagal dan sering gagal karena terlalu banyak alasan dalam komunikasi, dan kesadaran warga Negara pun akan sangat membantu dalam kinerja pemerintah untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
Ungkapan Jokowi sebagai Presiden RI bukan semata omong kosong,  akan tetapi kata kerja yang diungkapkan Jokowi merupakan sebuah kerja nyata, membangun karakter bangsa, membangun budaya seperti itulah Jokowi membangun sebuah kesadaran tentang etos berbangsa dan bernegara.

Capres Demokrat AHY Dianggap Anak-Anak Sama Jokowi, Disuruh Konpres Sama Gibran

Pertemuan putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Presiden Jokowi menjadi sorotan media hari ini, Kamis (10/8/2017). AHY yang datang ke Istana bertemu Presiden Jokowi untuk meminta restu untuk peluncuran The Yudhoyono Institute. AHY bahkan berharap Presiden Jokowi bisa hadir.

Dalam pertemuan tersebut, AHY dijamu makan siang dengan menu gudeg dan bubur lemu. Makan siang ini disiapkan oleh putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Kedatangan AHY memang membuat Gibran ingin menyajikan sendiri menu makan siang. Entah apa tujuannya, tetapi menu yang disampaikan oleh Gibran kini disebut dengan istilah diplomasi gudeg-bubur lemu..
AHY dalam pertemuan tersebut mengakui bahwa dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi membahas mengenai pentingnya peran generasi muda menjadi tulang punggung perubahan yang terjadi karena kemajuan jaman. Perubahan yang terjadi dalam bidang ekonomi, politik dan sosial.
Sayangnya, AHY yang seharusnya mendapatkan kesan baik dalam pertemuan tersebut dalam menaikkan level politiknya, malah dicuekin oleh Presiden Jokowi. Entah sadar atau tidak, Presiden Jokowi seperti sedang menganggap kedatangan AHY hanyalah sebagai anak mantan Presiden dan bukan seorang tokoh politik yang pernah jadi calon Gubernur DKI.
Sebenarnya kalau saja Presiden Jokowi ikut melakukan jumpa pers berdampingan dengan AHY, maka AHY akan punya sebuh framing dan personal branding yang tinggi. Karena dengan mengadakan jumpa pers bersama tersebut AHY akan dianggap sebagai sosok penting dalam perpolitikan Indonesia.
Sayangnya, Presiden Jokowi malah menyodorkan Gibran untuk menerangkan isi pertemuan dan menyebut bahwa pertemuan hanya bicarakan hal yang santai dan supaya sesuai dengan konteksnya, maka biarlah anak-anak yang menerangkan.
“Biar anak-anak aja, biar bisa lebih santai,” kata Jokowi sebelum Gibran dan Agus menggelar jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Jleb sekali pernyataan Presiden Jokowi ini. Saya yakin kalau Presiden Jokowi bukan bermaksud merendahkan AHY, tetapi memang apa yang dilihat oleh Presiden Jokowi AHY adalah putra sulung SBY. Tidak salah pendapat Presiden Jokowi, tetapi pernyataan Presiden Jokowi ini pada akhirnya menjadi heboh.
Mengapa jadi heboh?? Karena bagi beberapa orang dan khususnya para elit Partai Demokrat, AHY digadang-gadang sebagai calon Presiden potensial 2019. Kalau melihat spanduk-spanduk yang berkaitan dengan Partai Demokrat, maka bisa kita temukan hampir selalu ada foto AHY. Padahal kalau ditelusuri, AHY ini tidak punya posisi apapun di Partai Demokrat.
Beberapa elit Partai Demokrat sempat mewacanakan pencapresan AHY ini. Salah satunya adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto. Agus mengatakan, rencana itu dipertimbangkan mengingat banyak masukan dari kader agar partai mengusung AHY sebagai capres.
“Rata-rata masyarakat Indonesia, wabil khusus kader Demokrat itu menginginkan Mas AHY itu menjadi next leader. Canangannya itu kami fokuskan di tahun 2019,” ujar Agus di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/6).
Bagaimana bisa seorang yang sudah digadang-gadang menjadi capres hanya disebut anak-anak oleh Presiden Jokowi. Mau ditaruh dimana muka para elit Partai Demokrat kalau hal ini dihebohkan?? AHY hanya dianggap anak-anak dan ditandingkan dengan Gibran yang hanya seorang pedagang martabak dan bukan seorang elit politik.
Pernyataan Presiden Jokowi, kalau dari kacamata orang netral,  sangatlah tepat. AHY memang masih pantas dikategorikan sebagai anak-anak dalam dunia perpolitikan. Anak-anak karena memang levelnya dalam politik masih sangat rendah, apalagi kepemimpinannya yang hanyalah sampai Mayor di dalam kemiliteran. Kalau ada yang menganggap AHY sudah punya kelas di politik, palingan hanya elit Partai Demokrat.
Presiden Jokowi ini memang selalu punya gaya berpolitik apa adanya dan umum-umum saja, tetapi terkadang gayanya yang seperti itu malah jadi serangan tidak terduga bagi lawan politiknya. Saya yakin, sekali lagi, tidak ada tendensi Presiden Jokowi menganggap AHY anak-anak dalam artian merendahkan. Melainkan karena memang bagi Presiden Jokowi AHY memang anak-anak dalam usia.
Meski tidak sengaja, tetap saja pernyataan ini menjadi pedih bagi para pengagum AHY dan yang menggadang-gadang dia sebagai capres. Mudah-mudahan jangan sampai karena akan hebohnya pernyataan para prajurit medsos dan tukang nyinyir dan fitnah Partai Demokrat tidak melakukan serangan kepada Jokowi. Karena kalau itu dilakukan, itu namanya sifat kekanak-kanakan.
Jadi, kalau Jokowi menyebut AHY dan Gibran anak-anak, jangan merasa pedih. Karena memang mereka adalah Anak-anak Presiden. Tidak lebih dari itu. Masih pedih juga?? Yoweslah. Namanya juga anak-anak.

Dedi Mulyadi, Islam dan Sunda

Pilkada Serentak 2018 makin dekat, akhir Juni 2018. Pemungutan suara akan dilakukan usai lebaran Idul Fitri tahun depan. Makin terasa pula, hawa dan geliat politik di berbagai daerah yang menyelenggarakan pilkada makin hangat, bahkan mulai panas. Dari sekian pilkada serentak, yang mendapat sorotan dan pemberitaan publik secara nasional adalah Pilgub, Pemilihan Gubernur. Pilbup dan pilwakot nampaknya tidak menarik diulas secara nasional, tentu saja. Beda kelas, dan beda urgensinya secara nasional.
Dari sekian pilgub, yang ramai dan banyak diangkat media (terutama online) adalah Pilgub Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu saja Jawa Barat. Ketiga pilgub di atas mendapatkan pemberitaan lebih banyak daripada pemberitaan pilgub lainnya. Terlebih Pilgub Jawa Barat. Untuk Jawa Barat, bahkan wacana, diskusi, dan manuver sudah dimulai sejak beberapa bulan silam. Salah satunya adalah berupa deklarasi Partai Nasdem yang mencalonkan Ridwan Kamil.
Sepanjang yang bisa dipantau dari media, pemberitaan tentang Pilgub Jabar lebih dominan dan terasa cukup melibatkan emosi publik secara nasional. Apa sebabnya? Kata sebagian pengamat, Pilgub Jabar akan menjadi “Perang Bintang”, karena para calon merupakan bintang-bintang yang banyak diekspos media, baik bintang dalam politik, kebudayaan, dan tentu saja bintang iklan. Dan, mengapa emosional? Itu karena bintang-bintang tersebut sebagiannya telah memiliki para pendukung yang cukup fanatik.
Di antara bintang pilgub Jabar yang banyak ditunggu-tunggu update beritanya adalah Dedi Mulyadi. Setelah mendapatkan kepastian dicalonkan oleh Partai Golkar, dan hampir pasti juga diusung oleh PDIP, langkah dan kiprah Kang Dedi makin intensif disorot. Bahkan apa yang telah ia lakukan dulu, dan apa yang telah menjadi ciri khasnya selama ini, kembali mulai diangkat, atau lebih tepatnya diungkit-ungkit. Dalam beberapa waktu ke depan, sorotan kepada Kang Dedi akan makin intensif dilakukan, terutama oleh kalangan yang sejak awal memang sudah melihatnya secara negatif dan tidak memahami narasi besar yang ia usung.
Seperti diketahui publik, Dedi Mulyadi sangat konsisten mengusung narasi budaya, yang dalam hal ini dimanifestasikan dalam bentuk budaya Sunda. Oleh kalangan tertentu, narasi Sundanya ini lalu dibelokkan menjadi isu syirik dan isu Sunda wiwitan. Dan dalam berbagai kesempatan, Kang Dedi berkali-kali menjelaskan tentang apa yang ia lakukan, dan sekaligus menjawab apa yang mereka salahpahami darinya selama ini.
Dalam sebuah kesempatan misalnya ia pernah menguraikan kaitan antara Islam dan Sunda, atau keislaman dan kesundaan. “Ada sebagian kalangan yang membenturkan antara keislaman dan kesundaan, seolah keduanya bertentangan,” katanya mengawali pembicaraan saat mengisi Ceramah Keagamaan di Masjid Ujungberung Bandung, Jumat 15 Januari 2017 yang lalu.
Pada kesempatan ini, Ki Sunda menyampaikan ceramahnya sepenuhnya dalam bahasa Sunda, dan penuh dengan uraian filosofi kesundaan yang dikaitkan dengan keislaman. Atau lebih tepatnya, Kang Dedi sedang menjelaskan Islam dengan pendekatan kesundaan.
Sejak tahun 1980-an, tema keislaman yang coba dijelaskan dalam konteks keindonesiaan pernah dengar gencar disosialiasikan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid) yang disebut-sebut sebagai Bapak Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia. Saat itu Cak Nur mengangkat tema Keislaman dan Keindonesiaan.
Sekalipun awalnya –seperti biasa– banyak pihak yang kontra keras kepadanya, namun akhirnya gagasan Cak Nur tentang hal ini makin dimengerti dan diterima. Intinya, baik keislaman, keindonesiaan maupun kemodernan –menurut Cak Nur– bukan tema-tema yang mesti dipertentangkan dan saling menegasikan. Ketiganya justru saling menguatkan.
Kini, tema keindonesiaan kembali mencuat ke tengah publik, dan menjadi bahan perbincangan yang memicu perdebatan, sekalipun belum segempita masa Cak Nur. Kali ini keindonesiaan dihadapkan dengan tema kesundaan (sebagai bagian dari keindonesiaan).
Perbedaannya, kalau dulu wacana ini diangkat oleh sosok pemikir Muslim akademis, maka kali ini pengusungnya adalah sosok kepala daerah Muslim yang budayawan, yakni Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta. Perbedaan lainnyaa adalah, kalau dulu Cak Nur bermain di wilayah wacana intelektual teoritis, kali ini Kang Dedi bermain di wilayah intelektual praktis yang diterjemahkan dalam kebijakan publik dan politis.
Kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama disalahpahami pada awalnya, bahkan dituduh macam-macam. Dulu Cak Nur dituruh liberal, sekarang Kang Dedi dituduh musyrik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi, intensitas penjelasan, dan kematangan nalar audiens, pelan tapi pasti gagasan keduanya makin dipahami dan diterima. Apalagi untuk konteks Kang Dedi, gagasannya itu diwujudkan dalam karya-karya nyata yang bisa terlihat dan tersentuh, lebih konkret.
Singkat cerita, waktu membuktikan, bahwa apa yang kang Dedi sampaikan itu kini makin dimengerti. Kalangan yang sebelumnya sempat menolak dan menuduhnya negatif pun sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang dimaksudkan Kang Dedi. Kecuali mereka yang memang enggan membuka akalnya untuk memahami dan mengapresiasi cara berpikir bagus dari orang lain.
Pelan tapi pasti, publik makin diyakinkan bahwa Islam dan Sunda itu bukan dua entitas yang pantas dihadap-hadapkan, keduanya justru tidak berlawanan bahkan satu kesatuan. Melalui ceramah-ceramahnya, Kang Dedi mampu menjelaskan hal ini dengan sangat baik dan mudah dipahami, bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Misalnya, dalam penjelasannya tentang makna puasa, tentang kematian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, ia mampu menguraikan panjang lebar dengan pendekatan filosofi dan budaya Sunda.
Secara psikologis-internal, ia sangat meyakini bahwa Islam dan Sudan itu tidak bisa dipisahkan. Dan secara sosial-eksternal ia meyakinkan hal ini kepada masyarakat melalui kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik. Dan publik kini mengakuinya…*

Fahri Hamzah Menyebut Perawatan Novel Dibiayai Asing, KPK Bilang: Jangan Percaya Berita Bohong

Tanggal 11 April 2017 menjadi hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Novel Baswedan. Di pagi hari usai menjalankan Sholat Subuh, ia diserang oleh pecundang dengan cara menyiramkan air keras di wajahnya.

Ketika mendengar berita bahwa Novel Baswedan diserang seseorang tidak dikenal itu, saya marah. Saya yakin bukan hanya saya yang marah dengan peristiwa itu. Warga negara Indonesia yang waras dan ikut terlibat dalam perjuangan melawan korupsi pasti marah mendengar berita itu.
Penyerangan terhadap Novel Baswedan bisa dipastikan sangat terkait dengan perofesinya. Berbagai indikasi menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Novel Baswedan yang dikenal kritis dan hebat dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Karena kehebatannya itulah banyak koruptor dibuat kejang-kejang olehnya.
Dalam kasus pengusutan korupsi E-KTP, Novel menjadi Kepala Satuan Tugas. Menangani kasus ini bukan hal yang mudah sebab selain besarnya jumlah uang yang dicuri koruptor, dalam kasus ini terdapat jalinan yang sangat ruwet. Salah satu keruwetannya adalah orang-orang di senayan yang tidak suka jika kasus ini dibuka. Tentu seworders paham dari kasus inilah DPR membuat Pansus untuk mengusut KPK, eh tepatnya untuk melemahkan KPK.
Serangan pengecut dengan cara menyiramkan air keras di wajah Novel adalah tindakan sadis, biadab dan tidak bisa ditolerir. Dampak penyerangan air keras yang dialami Novel mengakibatkan 95 persen kulit, bahkan sampai 97 persen mata kirinya terbakar. Sementara mata kanannya mengalami kerusakan sekitar 60 persen.  Akibatnya Novel harus dibawa ke Singapura untuk menjalani perawatan.  Mengapa harus ke Singapura? Novel harus menjalani perawatan di sana supaya mendapat perawatan dan terapi yang lebih intensif akibat keparahan sakitnya.
Sayang, pengobatan Novel ke luar negeri dengan tujuan pemulihan yang lebih cepat tidak mendapat dukungan yang positif dari banyak orang. Salah satunya adalah Fahri Hamzah.  Sebagai wakil ketua DPR yang mestinya mencerahkan, ia justru memperkeruh suasana dengan menuduh bahwa pembiayaan pengobatan Novel dibiayai oleh negara asing. Apakah Fahri memiliki bukti bahwa pembiayaan pengobatan terhadap Novel dari luar negeri?
KPK mengatakan tidak!
Komisi Pemberantasan Korupsi membantah pernyataan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah.Febri Diansyah menegaskan bahwa sejak awal KPK sudah memberikan informasi yang jelas tentang mekanisme biaya perawatan Novel Baswedan. Semua pembiayaan pengobatan adalah dari keuangan negara. Bahkan untuk mekanisme itu KPK juga berkoordinasi dengan presiden. Johan Budi yang pernah bekerjasama dengan Novel saat di KPK dan sekarang menjadi staf khusus Presiden bidang komunikasi mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah memutuskan untuk membiayai pengobatan dan perawatan penyidik KPK Novel Baswedan.
KPK perlu memberikan penjelasan pada masyarakat tentang mekaniske pengobatan Novel pada masyarakat untuk mengkliarifikasi pernyataan Fahri yang berpotensi memperkeruh suasana. Potensi itu sangat mungkin karena kapasitas Fahri Hamzah yang saat ini duduk sebagai wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Supaya masyarakat dapat berpikir jernih dan tidak terprovokasi, Diansyah selaku unsur KPK menganjurkan pada semua pihak agar sebaiknya menahan diri menyampaikan informasi yang keliru dan bohong karena itu bisa menjadi fitnah pada pihak lain.
Apa respons Anda saat mendengar tuturan Diansyah? Respons saya yang pertama tentu adalah menyayangkan sikap curiga dari Fahri Hamzah. Jika staf khusus presiden dan KPK sudah menjelaskan bahwa pengobatan Novel murni biaya negara, mengapa masih tidak percaya? Jika masih tidak percaya pada sumber resmi dari negara, apakah Fahri lebih percaya pada hoax? Memang kalangan tertentu senang dengan hoax sebab hoax terkadang lebih memuaskan hati ketimbang kebenaran.
Selain menyayangkan sikap curiga, saya juga menilai Fahri sudah kehilangan empati terhadap Novel Baswedan.
Secara mudah, empati diartikan sebagai rasa iba dan turut merasakan apa yang dialami oleh Novel yang benar-benar mengalami kesakitan akibat luka di wajahnya. Hilangnya rasa empati ditandai dengan sikap nyinyir terhadap mekanisme pengobatan pada Novel.
Ingat, Novel butuh pemulihan. Bukan hanya dia yang ingin Novel pulih. Keluarga, bahkan warga negara Indonesia sangat mengharap Novel Baswedan segera pulih.
Matinya empati sebenarnya merupakan bentuk ketidakberpihakan pada korban, selain itu hilangnya empati merupakan tindakan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ah ngeri rasanya melihat orang-orang yang kehilangan empati.

Pansus Angket, DPR, dan Manuver Partai Menuju Pemilu 2019

Tidak diragukan lagi semua anggota partai yang berada di DPR, sedang bergerilia menuju PIlkada 2019. Dua tahun adalah waktu yang lama, tetapi bisa menjadi waktu yang singkat bagi semua Partai yang akan mengusung calonnya menjadi RI 1. Pertemuan petinggi partai Demokrat dengan Partai Gerindra menjadi sebuah pintu gerilia politik.

Hampir semua mata petinggi partai akan tertuju pada pertemuan besar ini. Partai Gerindra yang identik dengan Prabowo Subianto, saat ini sedang menunjukkan tindakan berada di pihak rakyat dengan keluar dari Pansus Angket KPK. Tujuan yang disampaikan ke masyarakat adalah bahwa Hak Angket KPK disinyalir melemahkan KPK.
Dari awal Partai Gerindra tahu bahwa Pansus Angket cacat hukum, tetap berjuang di dalamnya. Apakah karena Setia Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka sehingga Partai Gerindra keluar dari Pansus Angket? Kemungkinan ini merupakan pertanyaan yang ngawur dan tidak memiliki arah. Tetapi Partai Gerindra keluar dari Pansus setelah SN ditetapkan sebagai tersangka, dan ini merupakan fakta yang kuat.
Partai PAN yang juga saat ini berada pada barisan Pansus Angket KPK, sedang memberikan wacana akan keluar dari Pansus Angket. Dengan demikian akan menyisakan 6 Partai yang berada pada Pansus Angket KPK. Ke 6 partai ini merupakan partai yang berada pada garda depan mendukung pemerintahan Jokowi. Dengan demikian Partai PAN dan Partai Gerindra sedang menanamkan paham bahwa mereka mendukung KPK. Sehingga aroma wangi yang ditebarkan dengan parfum palsu sudah menyebar di masyarakat.
Bersih dari korupsi menjadi jualan politik. Bebas dari korupsi akan menjadi komoditi utama. Permainan silat lidah akan sering dipertontonkan menjadi beberapa episode. Sanggahan-sanggahan dan pandangan yang menurut mereka benar akan terus menghiasi media cetak dan elektronik.
Permainan cantik dan menawan akan coba dipertontonkan oleh beberapa Partai Politik. Tentu saja para anggota DPR dari berbagai Partai Politik yang akan bermain. Karena mereka telah memiliki nama di masyarakat. Walapun mereka dikenal dari kebencian dan rasa tidak suka masyarakat terhadap lembaga DPR , tetapi mereka akan terus berjuang demi satu tujuan, yaitu pemenang di PIlkada 2019.
Sementara simpatisan partai berjuang di lapangan untuk menyakinkan rakyat bahwa Partai mereka mengusung orang yang tepat. Hati nurani dan perasaan akan dicoba dibenturkan untuk mengambil suara rakyat.
Karakter miring dari beberapa petinggi DPR telah menjadi alat yang nyata untuk terjun berpolitik di tengah-tengah masyarakat. Setia Novanto telah menjadi tersangka kasus e-KTP, tetapi masih menjabat sebagai ketua DPR. Fahri Hamzah yang telah dikeluarkan dari Partai PKS, tetap berdiri dengan tegar sebagai salah satu pimpinan DPR. Fadli Zon telah mempertontonkan bagaimana kuatnya dia terhadap kritik publik yang menyoroti kinerja DPR.
Ini akan menjadi senjata yang ampuh bagi para kader di DPR, terutama bagi simpatisan partai di lapangan. Apa yang dipertotonkan oleh SN, FH, dan FZ adalah sebuah luka berpolitik yang dibungkus dengan cantik oleh hausnya orang akan kekuasaan.
Partai yang mendukung pemerintahan Jokowi saat ini tidak menunjukkan gerak yang menghebohkan. Tetapi dukungan untuk Pilpres 2019 terhadap Jokowi tidak bisa dibantahkan. Kinerja yang baik disertai dengan kualitas pekerjaan yang mumpuni telah diberikan dan dirasakan dampaknya bagi masyarakat.
Begitu banyak infrastuktur yang dibangun, revolusi mental yang telah mendarat, dan tingkat kepercayaan kepada pemerintah tinggi, bukanlah hal yang dikemas indah dalam sebuah pernyataan politik. Tetapi lebih kepada apa yang telah dilakukan untuk bangsa Indonesia. Ini semua merupakan sebuah hasil dari pemerintahan Joko Widodo yang bisa dilihat secara jelas dan bisa dibuktikan.
Pernyataan penguatan KPK yang langsung keluar dari mulut Pak Jokowi menandakan, dia seorang pemimpin yang berkarakter dan benci terhadap tindakan korupsi. Ketika anggota DPR meminta agar Pak Jokowi turun tangan menengahi kisruh KPK dangan DPR, hingga saat ini masih dibiarkan. Karena kemungkinan besar pada prinsipnya Pak Jokowi memegang prinsip bahwa KPK adalah lembaga independen.
Kita juga akan melihat bahwa 2 tahun bukan waktu yang lama. Kecerdasan dan ketelitian dalam menentukan pilihan juga akan dimulai dari sekarang. Karena masa depan bangsa akan kita wariskan pada generasi mendatang untuk Indonesia yang maju.

Akankah Setnov, Fadli dan Fahri Jadi Pimpinan DPR Seumur Hidup?

Presiden ke 16 Amerika, Abraham Lincoln, pernah mengatakan, jika anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.
Sebuah kekuasaan sejatinya adalah amanah besar yang mempertaruhkan nasib orang banyak. Nasib penduduk kota atau wilayah, banyak ditentukan oleh Bupati atau Walikotanya. Begitu juga dengan nasib provinsi atau negara, tergantung pada Gubernur atau Presidennya.
Sejarah sudah mencatat, 32 tahun Soeharto, mewariskan sebuah trauma mendalam tentang penculikan, ototirer dan tidak sepenuhnya merdeka sebagai manusia. Begitu pula dengan 10 tahun SBY, mewariskan utang luar negeri yang sangat banyak, sementara proyek-proyek yang menghabiskan triliunan rupiah banyak yang mangkrak. Ke mana uangnya? Tanyakan saja kepada anak buah SBY seperti Nazarudin, Anas, Anggie, Andi M, Sutan Batugana dan kawan-kawan dari partai penguasa saat itu, Demokrat.
Di era Jokowi, awalnya semua nampak penuh semangat. Dengan slogan kerja, kerja, kerja, kita melihat setitik cahaya optimisme. Pembangunan dikerjakan siang malam, mengejar ketertinggalan dari negara lain. Bukit Papua pun berhasil dibangun jalan besar. Bandara-bandara di wilayah terluar Indonesia dirombak dan dibangun. Kita pikir inilah kepemimpinan era Jokowi, era transformasi.
Namun belakangan saya seperti baru sadar, bahwa Presiden Jokowi dan kabinetnya memiliki batu sandungan yang sangat besar di parlemen, DPR. Sekilas memang terlihat tidak ada masalah. Presiden nampak begitu sibuk blusukan, begitu menikmati kerja keras dan menerapkan semangat kerja, kerja, kerja.
Ada suatu masalah yang sangat serius yang mungkin tidak disadari oleh semua orang. Untuk itu saya menuliskan ini, harapannya semakin banyak orang yang sadar.
Dulu, di era SBY, pimpinan DPR selalu diisi oleh partai pemenang pemilu. Hal ini diatur dalam UU MD3 yang lama. Namun saat Jokowi JK menang secara sempurna atas Capres kalah Prabowo, UU MD3 tersebut diubah dengan sistem paket pemilihan. Jadi setiap anggota DPR berhak dipilih dan memilih pemimpin alat kelengkapan dewan dengan cara musyawarah mufakat atau voting.
Logikanya, pimpinan DPR bukan lagi merepresentasikan suara rakyat terbanyak di Indonesia. Melainkan hasil koalisi terbesar dari partai-partai yang ada.
Meski mayoritas rakyat Indonesia memilih Jokowi JK sebagai pemimpin sampai 2019, tapi mereka didukung oleh partai minoritas di DPR. Sehingga saat Jokowi JK menang total, partai-partai yang sakit hati permanen itu kemudian berkoalisi untuk mengubah UU MD3.
Sehingga terpilihlah Setya Novanto (Golkar), Fahri Hamzah (PKS), Fadli Zon (Gerindra) dan Agus Hermanto (Demokrat) dan Taufik Kurniawan (PAN) sebagai pimpinan DPR. Mereka semua memang adalah bagian dari KMP, partai koalisi yang keok di Pilpres 2014.
Saat PDIP dulu ngotot untuk banding ke MK, saya pikir itu hanya karena masalah kekuasaan. PDIP tidak mendapat haknya sebagai partai pemenang pemilu. Namun hari ini saya baru sadar, rupanya ada yang lebih buruk dari itu. UU MD3 yang baru telah menghasilkan pimpinan DPR otoriter yang jadi mustahil digeser. Mari kita telaah.
Saat Fadli dan Setnov tertangkap basah sedang jalan-jalan di Amerika, kemudian hadir di kampanye Donald Trump di sela-sela tugas, publik marah besar. Bagaimana mungkin para pimpinan DPR itu, yang mewakili suara rakyat Indonesia, harus ikut-ikutan mendukung bakal calon Presiden Donald Trump? Apa urusannya?
Tapi Fadli dan Setnov kokoh sebagai pimpinan dan tak tergantikan. Kesalahan yang sangat tidak etis tersebut hanya jadi angin lalu. Padahal menurut saya itu adalah pelanggaran etik yang sangat fundamental. Mereka seolah tidak menghargai dan menjaga kehormatan rakyat Indonesia.
Selanjutnya Setnov terkena kasus mencatut nama Presiden dalam negosiasi Freeport. Papa Minta Saham. Kasus ini memang membuat Setnov lengser dari jabatannya sebagai ketua DPR. Akan tetapi bukan dilengserkan, melainkan mengundurkan diri. Lalu apa hukuman kepada Setnov yang telah berani meminta saham pada Freeport dengan mecatut nama Presiden? Entahlah…
Setnov sempat kembali sebagai ketua DPR, setelah beberapa waktu lalu berhasil terpilih menjadi ketua umum Golkar. Tapi lagi-lagi Setnov bermasalah, sekarang dia secara resmi menyandang status tersangka kasus korupsi e-KTP. Bedanya, kali ini Setnov enggan untuk mengundurkan diri.
Terakhir Fahri Hamzah. Saya pikir dia adalah satu-satunya manusia di dunia, yang berhasil bertahan sebagai pimpinan DPR meski tidak memiliki partai. Beberapa waktu lalu Fahri Hamzah sudah dipecat oleh PKS, namun Fahri tidak mau mundur atau melepas jabatan politisnya di DPR.
Dari serangkaian cerita ini, kita harus sadar bahwa UU MD3 dari koalisi partai yang kalah di Pilpres 2014 telah menghasilkan sebuah sistem yang sangat buruk. Silahkan dibayangkan, betapa malunya kita memiliki ketua DPR yang menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP. Sementara wakilnya adalah orang yang sudah dipecat oleh partainya dan tidak mau mengundurkan diri.
UU MD3 yang dirumuskan oleh koalisi partai pendukung Prabowo telah berhasil membuat sejarah kelam demokrasi di Indonesia. Sehingga kalau anak cucu kita nanti bertanya mengapa Indonesia pernah memiliki pimpinan DPR tersangka dan tidak punya partai, sepertinya kita akan kebingungan bagaimana menjawabnya.
Setnov, Fadli dan Fahri begitu kokoh di DPR berkat produk UU MD3 itu. Mereka tak tergantikan karena menjadi bagian dari partai dengan suara mayoritas yang menguasai DPR. Bahkan kalau nanti Setnov terbukti bersalah pun, saya juga tidak yakin partai koalisi pendukung Capres kalah Prabowo itu ada yang berani bersuara untuk menggantikannya.
UU MD3 sistem paket berhasil menciptakan sebuah sistem kekuasaan permanen, selama mereka berhasil partai-partai untuk berkoalisi. Coba perhatikan. Saat Fahri dipecat oleh PKS, seharusnya PKS punya kuasa untuk menggantikan posisi Fahri. Namun kenyataannya sampai sekarang PKS tidak berdaya, karena Fahri sudah masuk sebagai pimpinan paket dan mendapat dukungan penuh dari Fadli, Setnov, Agus dan Taufik Kurniawan. PKS nampak seperti bukan partai politik, sebab terlihat begitu lemah dan kalah oleh seorang Fahri Hamzah.
Ketika Setnov mengundurkan diri karena kasus, dia bisa kembali menjadi ketua DPR setelah berhasil terpilih sebagai ketua umum Golkar. Silahkan perhatikan, tidak ada penolakan berarti kepada Setnov. Padahal dia pernah terkena kasus.
Sampai di sini, sepertinya apa yang diucapkan oleh Abraham Lincoln mulai terasa. Karakter asli mereka mulai terlihat, berkuasa secara permanen. Bahwa kemudian Prabowo adalah mantu Soeharto yang dikenal otoriter dan berkuasa nyaris permanen (jika tidak didesak mundur), saya pikir itu hanya kebetulan belaka.
Pada intinya, sejarah demokrasi di negara kita bisa menjadi bahan tertawaan. Ini terjadi karena partai-partai yang memiliki karakter buruk masih mendapat suara, dan berhasil berkoalisi. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa adalah dengan tidak memilih partai-parati koalisi anu tersebut. Jika kita tetap memilih mereka, bukan tidak mungkin kalau Fadli, Fahri, dan Setnov akan menjadi pimpinan DPR seumur hidup di Indonesia. Tidak perduli lagi siapa Presidennya, partai pemenang pemilu dan sebagainya, yang penting mereka tetap berkoalisi menjadi partai mayoritas. Dan kita akan melihat langkah Indonesia yang cukup berat ke depannya.