Fahri Hamzah Menyebut Perawatan Novel Dibiayai Asing, KPK Bilang: Jangan Percaya Berita Bohong
Tanggal 11 April 2017 menjadi hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Novel Baswedan. Di pagi hari usai menjalankan Sholat Subuh, ia diserang oleh pecundang dengan cara menyiramkan air keras di wajahnya.
Ketika mendengar berita bahwa Novel Baswedan diserang seseorang tidak dikenal itu, saya marah. Saya yakin bukan hanya saya yang marah dengan peristiwa itu. Warga negara Indonesia yang waras dan ikut terlibat dalam perjuangan melawan korupsi pasti marah mendengar berita itu.
Penyerangan terhadap Novel Baswedan bisa dipastikan sangat terkait dengan perofesinya. Berbagai indikasi menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Novel Baswedan yang dikenal kritis dan hebat dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Karena kehebatannya itulah banyak koruptor dibuat kejang-kejang olehnya.
Dalam kasus pengusutan korupsi E-KTP, Novel menjadi Kepala Satuan Tugas. Menangani kasus ini bukan hal yang mudah sebab selain besarnya jumlah uang yang dicuri koruptor, dalam kasus ini terdapat jalinan yang sangat ruwet. Salah satu keruwetannya adalah orang-orang di senayan yang tidak suka jika kasus ini dibuka. Tentu seworders paham dari kasus inilah DPR membuat Pansus untuk mengusut KPK, eh tepatnya untuk melemahkan KPK.
Serangan pengecut dengan cara menyiramkan air keras di wajah Novel adalah tindakan sadis, biadab dan tidak bisa ditolerir. Dampak penyerangan air keras yang dialami Novel mengakibatkan 95 persen kulit, bahkan sampai 97 persen mata kirinya terbakar. Sementara mata kanannya mengalami kerusakan sekitar 60 persen. Akibatnya Novel harus dibawa ke Singapura untuk menjalani perawatan. Mengapa harus ke Singapura? Novel harus menjalani perawatan di sana supaya mendapat perawatan dan terapi yang lebih intensif akibat keparahan sakitnya.
Sayang, pengobatan Novel ke luar negeri dengan tujuan pemulihan yang lebih cepat tidak mendapat dukungan yang positif dari banyak orang. Salah satunya adalah Fahri Hamzah. Sebagai wakil ketua DPR yang mestinya mencerahkan, ia justru memperkeruh suasana dengan menuduh bahwa pembiayaan pengobatan Novel dibiayai oleh negara asing. Apakah Fahri memiliki bukti bahwa pembiayaan pengobatan terhadap Novel dari luar negeri?
KPK mengatakan tidak!
Komisi Pemberantasan Korupsi membantah pernyataan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah.Febri Diansyah menegaskan bahwa sejak awal KPK sudah memberikan informasi yang jelas tentang mekanisme biaya perawatan Novel Baswedan. Semua pembiayaan pengobatan adalah dari keuangan negara. Bahkan untuk mekanisme itu KPK juga berkoordinasi dengan presiden. Johan Budi yang pernah bekerjasama dengan Novel saat di KPK dan sekarang menjadi staf khusus Presiden bidang komunikasi mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah memutuskan untuk membiayai pengobatan dan perawatan penyidik KPK Novel Baswedan.
KPK perlu memberikan penjelasan pada masyarakat tentang mekaniske pengobatan Novel pada masyarakat untuk mengkliarifikasi pernyataan Fahri yang berpotensi memperkeruh suasana. Potensi itu sangat mungkin karena kapasitas Fahri Hamzah yang saat ini duduk sebagai wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Supaya masyarakat dapat berpikir jernih dan tidak terprovokasi, Diansyah selaku unsur KPK menganjurkan pada semua pihak agar sebaiknya menahan diri menyampaikan informasi yang keliru dan bohong karena itu bisa menjadi fitnah pada pihak lain.
Apa respons Anda saat mendengar tuturan Diansyah? Respons saya yang pertama tentu adalah menyayangkan sikap curiga dari Fahri Hamzah. Jika staf khusus presiden dan KPK sudah menjelaskan bahwa pengobatan Novel murni biaya negara, mengapa masih tidak percaya? Jika masih tidak percaya pada sumber resmi dari negara, apakah Fahri lebih percaya pada hoax? Memang kalangan tertentu senang dengan hoax sebab hoax terkadang lebih memuaskan hati ketimbang kebenaran.
Selain menyayangkan sikap curiga, saya juga menilai Fahri sudah kehilangan empati terhadap Novel Baswedan.
Secara mudah, empati diartikan sebagai rasa iba dan turut merasakan apa yang dialami oleh Novel yang benar-benar mengalami kesakitan akibat luka di wajahnya. Hilangnya rasa empati ditandai dengan sikap nyinyir terhadap mekanisme pengobatan pada Novel.
Ingat, Novel butuh pemulihan. Bukan hanya dia yang ingin Novel pulih. Keluarga, bahkan warga negara Indonesia sangat mengharap Novel Baswedan segera pulih.
Matinya empati sebenarnya merupakan bentuk ketidakberpihakan pada korban, selain itu hilangnya empati merupakan tindakan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ah ngeri rasanya melihat orang-orang yang kehilangan empati.
