Dedi Mulyadi, Islam dan Sunda

Pilkada Serentak 2018 makin dekat, akhir Juni 2018. Pemungutan suara akan dilakukan usai lebaran Idul Fitri tahun depan. Makin terasa pula, hawa dan geliat politik di berbagai daerah yang menyelenggarakan pilkada makin hangat, bahkan mulai panas. Dari sekian pilkada serentak, yang mendapat sorotan dan pemberitaan publik secara nasional adalah Pilgub, Pemilihan Gubernur. Pilbup dan pilwakot nampaknya tidak menarik diulas secara nasional, tentu saja. Beda kelas, dan beda urgensinya secara nasional.
Dari sekian pilgub, yang ramai dan banyak diangkat media (terutama online) adalah Pilgub Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu saja Jawa Barat. Ketiga pilgub di atas mendapatkan pemberitaan lebih banyak daripada pemberitaan pilgub lainnya. Terlebih Pilgub Jawa Barat. Untuk Jawa Barat, bahkan wacana, diskusi, dan manuver sudah dimulai sejak beberapa bulan silam. Salah satunya adalah berupa deklarasi Partai Nasdem yang mencalonkan Ridwan Kamil.
Sepanjang yang bisa dipantau dari media, pemberitaan tentang Pilgub Jabar lebih dominan dan terasa cukup melibatkan emosi publik secara nasional. Apa sebabnya? Kata sebagian pengamat, Pilgub Jabar akan menjadi “Perang Bintang”, karena para calon merupakan bintang-bintang yang banyak diekspos media, baik bintang dalam politik, kebudayaan, dan tentu saja bintang iklan. Dan, mengapa emosional? Itu karena bintang-bintang tersebut sebagiannya telah memiliki para pendukung yang cukup fanatik.
Di antara bintang pilgub Jabar yang banyak ditunggu-tunggu update beritanya adalah Dedi Mulyadi. Setelah mendapatkan kepastian dicalonkan oleh Partai Golkar, dan hampir pasti juga diusung oleh PDIP, langkah dan kiprah Kang Dedi makin intensif disorot. Bahkan apa yang telah ia lakukan dulu, dan apa yang telah menjadi ciri khasnya selama ini, kembali mulai diangkat, atau lebih tepatnya diungkit-ungkit. Dalam beberapa waktu ke depan, sorotan kepada Kang Dedi akan makin intensif dilakukan, terutama oleh kalangan yang sejak awal memang sudah melihatnya secara negatif dan tidak memahami narasi besar yang ia usung.
Seperti diketahui publik, Dedi Mulyadi sangat konsisten mengusung narasi budaya, yang dalam hal ini dimanifestasikan dalam bentuk budaya Sunda. Oleh kalangan tertentu, narasi Sundanya ini lalu dibelokkan menjadi isu syirik dan isu Sunda wiwitan. Dan dalam berbagai kesempatan, Kang Dedi berkali-kali menjelaskan tentang apa yang ia lakukan, dan sekaligus menjawab apa yang mereka salahpahami darinya selama ini.
Dalam sebuah kesempatan misalnya ia pernah menguraikan kaitan antara Islam dan Sunda, atau keislaman dan kesundaan. “Ada sebagian kalangan yang membenturkan antara keislaman dan kesundaan, seolah keduanya bertentangan,” katanya mengawali pembicaraan saat mengisi Ceramah Keagamaan di Masjid Ujungberung Bandung, Jumat 15 Januari 2017 yang lalu.
Pada kesempatan ini, Ki Sunda menyampaikan ceramahnya sepenuhnya dalam bahasa Sunda, dan penuh dengan uraian filosofi kesundaan yang dikaitkan dengan keislaman. Atau lebih tepatnya, Kang Dedi sedang menjelaskan Islam dengan pendekatan kesundaan.
Sejak tahun 1980-an, tema keislaman yang coba dijelaskan dalam konteks keindonesiaan pernah dengar gencar disosialiasikan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid) yang disebut-sebut sebagai Bapak Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia. Saat itu Cak Nur mengangkat tema Keislaman dan Keindonesiaan.
Sekalipun awalnya –seperti biasa– banyak pihak yang kontra keras kepadanya, namun akhirnya gagasan Cak Nur tentang hal ini makin dimengerti dan diterima. Intinya, baik keislaman, keindonesiaan maupun kemodernan –menurut Cak Nur– bukan tema-tema yang mesti dipertentangkan dan saling menegasikan. Ketiganya justru saling menguatkan.
Kini, tema keindonesiaan kembali mencuat ke tengah publik, dan menjadi bahan perbincangan yang memicu perdebatan, sekalipun belum segempita masa Cak Nur. Kali ini keindonesiaan dihadapkan dengan tema kesundaan (sebagai bagian dari keindonesiaan).
Perbedaannya, kalau dulu wacana ini diangkat oleh sosok pemikir Muslim akademis, maka kali ini pengusungnya adalah sosok kepala daerah Muslim yang budayawan, yakni Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta. Perbedaan lainnyaa adalah, kalau dulu Cak Nur bermain di wilayah wacana intelektual teoritis, kali ini Kang Dedi bermain di wilayah intelektual praktis yang diterjemahkan dalam kebijakan publik dan politis.
Kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama disalahpahami pada awalnya, bahkan dituduh macam-macam. Dulu Cak Nur dituruh liberal, sekarang Kang Dedi dituduh musyrik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi, intensitas penjelasan, dan kematangan nalar audiens, pelan tapi pasti gagasan keduanya makin dipahami dan diterima. Apalagi untuk konteks Kang Dedi, gagasannya itu diwujudkan dalam karya-karya nyata yang bisa terlihat dan tersentuh, lebih konkret.
Singkat cerita, waktu membuktikan, bahwa apa yang kang Dedi sampaikan itu kini makin dimengerti. Kalangan yang sebelumnya sempat menolak dan menuduhnya negatif pun sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang dimaksudkan Kang Dedi. Kecuali mereka yang memang enggan membuka akalnya untuk memahami dan mengapresiasi cara berpikir bagus dari orang lain.
Pelan tapi pasti, publik makin diyakinkan bahwa Islam dan Sunda itu bukan dua entitas yang pantas dihadap-hadapkan, keduanya justru tidak berlawanan bahkan satu kesatuan. Melalui ceramah-ceramahnya, Kang Dedi mampu menjelaskan hal ini dengan sangat baik dan mudah dipahami, bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Misalnya, dalam penjelasannya tentang makna puasa, tentang kematian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, ia mampu menguraikan panjang lebar dengan pendekatan filosofi dan budaya Sunda.
Secara psikologis-internal, ia sangat meyakini bahwa Islam dan Sudan itu tidak bisa dipisahkan. Dan secara sosial-eksternal ia meyakinkan hal ini kepada masyarakat melalui kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik. Dan publik kini mengakuinya…*

Berita Terkait

Laporan Masyarakat Dipetieskan Polres Labuhanbatu, Rame – Rame Buat Kuasa ke PH Beriman Panjaitan,S.H.,M.H

Diduga Kuasai ±2.000 Hektare Tanpa Kejelasan HGU, SEPRakyat Siapkan Surat Resmi ke PT. PAL

Polres Labuhanbatu Selatan Sita 3,63 Gram Sabu, Dua Pria Diamankan dalam Sehari

Mediasi Buntu, Dugaan Penyerobotan Tanah oleh Yayasan Pesantren Darul Sholihin Masuk Babak Pembuktian

Persetubuhan Anak di Bawah Umur di Kotapinang Terungkap, Karyawan Hotel Diamankan Polres Labusel

Petani Kopi di Tanah Karo Gembira, Harganya Kini meroket

Gerak Cepat STM Simalem! Pohon Tumbang di Kacaribu Dibersihkan