Subscribe Us

Cak Imin Beberkan Hasil Pertemuan PKB dengan HTI

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar membeberkan hasil pertemuannya, dengan perwakilan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Pria yang karib disapa Cak Imin itu menyebutkan, ormas Islam yang kini sudah dibubarkan pemerintah itu memang sulit mengakui Pancasila sebagai sesuatu yang final.

"HTI anggap Pancasila belum final, saya bilang ngajak, ayolah realistis, Pancasila ini final. Kedua, dalam hal prinsip Islam yang diperjuangkan kita kultural aja, akhlak baik, perilaku santun, tidak korupsi sudah cukup Islam," ujar Cak Imin di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Kamis 27 Juli 2017.
Cak Imin mengakui pembubaran HTI memang sudah nyata. Namun, soal ormas ini mengadukan banyak anggotanya mendapat intimidasi secara tidak langsung, ia mengimbau agar sebaiknya mereka dirangkul dan tidak dimusuhi.

"Kami imbau sudah HTI dibubarkan, tidak usah para pengikutnya dimusuhi. Jadi kita ambil hikmahnya, jangan dimusuhi, kita rangkul, dialog, bicara, dan jadi bagian dari keluarga kita," ujar dia.
Terkait permintaan HTI kepada PKB agar mendukung penolakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas Nomor 2 Tahun 2017, Cak Imin menegaskan, semua harus sesai asas demokrasi.

"Saya berjanji pasal per pasal dikritisi total agar tak ada yang anti-demokrasi, kalau ada ya harus disempurnakan," ujar dia.

Kedatangan perwakilan HTI dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar diinisiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Jadi ada yang mengontak saya dari HTI, mau ketemu, ya boleh, ada inisiatornya dari MUI," Cak Imin menandaskan.

Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) telah mencabut izin ormas HTI baru-baru ini. Pemerintah melalui kajian menilai HTI sebagai ormas anti-Pancasila karena akan mendirikan negara khilafah. Namun, ormas ini telah membantah tudingan ini dan akan menggugat pemerintah melalui uji materi Perppu Ormas di MK.

Akankah Umat Islam Indonesia Patuhi MUI atau Tetap Beraksi 287 Tolak Perppu Ormas?

Melalui Kyai Haji Ma’ruf Amin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam tidak ikut dalam aksi unjuk rasa menolak Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas, pada Jumat (28/7/2017) besok. Demikian pernyataan Ma’aruf Amin seperti ditulis rapi Kompas.com:
“MUI menganggap tidak perlu ada demo. MUI juga meminta umat enggak usah terprovokasi, enggak usah ikut,” ujar Ma’ruf, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (27/7/2017).
Sebagaimana telah ramai dibahas bahwa aksi unjuk rasa 287 itu digagas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Rencananya, aksi tersebut akan dimulai dari Masjid Istiqlal Jakarta hingga Istana Kepresidenan pada Jumat besok (28/07/2017). Ini pula yang menjadi alasan aksi tersebut berlabel angka keberuntungan 287.
Dari sinilah, permintaan atau himbauan MUI pantas diuji besok. Kalau masih ada yang bandel ikut demo, tentu mereka telah secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling benar-benar melecehkan ulama Indonesia yang layak dimuliakan.
Ketika mereka bandel di hadapan MUI dan tetap menyelenggarakan aksi, nama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) sudah tidak pantas lagi. MUI harus membubarkan nama gerakan itu. Tukang kawal fatwa MUI kok malah mau mbalelo dengan pembuat fatwa.
Apalagi Kyai Ma’ruf sudah menandaskan bahwa ormas anti-Pancasila memang sudah seharusnya dibubarkan. Inilah yang menjadi alasan kalau aksi 287 menjadi kehilangan arti alias zoonk atau dung dung pret.
Apabila masih saja ada yang nekat, berarti memang sengaja menghina ulama dengan cara tidak mau mendengarkan ulama. Istilah ndesanya, MUI ‘dipretke’. Kalau sampai umat Islam ‘ngepretke’ ulamanya, ini tentu sungguh ter-la-lu! Berarti ada maksud secara sengaja, masif dan terstruktur untuk menghina dan menistakan ulama.
Sayang, kalau menjadi umat Islam malah menistakan ulamanya dengan nekat beraksi 287. Ini sangat patut disayangkan. Mengingat, siapa nanti yang akan membela ulama mereka, ketika mereka sendiri yang malah menghina? Padahal, pada waktu mereka dulu melakukan aksi 212 adalah dalam rangka membela ulama. Nah, mengapa pada aksi 287 malah hendak berbalik menghina ulamanya sendiri? Sekali lagi, ter-la-lu!
Dan, dalam situasi seperti ini tentu sangat membingungkan bagi para malaikat penghitung pahala. Oke ocelah, kalau waktu membela ulama terhitung sebagai pahala. Tetapi ketika berbalik menghina ulama? Bagaimana nasib pahala yang dulu secara susah payah telah dikumpulkan? Memang situ rela kalau pahalanya dihapus gara-gara menghina ulama lewat aksi 287?
Mumpung masih ada waktu, sebaiknya sebagai umat Islam yang sudah mengantongi undangan aksi 287 berpikir ulang. Apalah tujuan aksi menolak Perppu Ormas? Majelis Ulama Indonesia telah menilai, pemerintah memiliki wewenang untuk menjaga dasar negara dari ancaman. Apalagi, penerbitan Perppu tersebut telah sesuai dengan peraturan dan perundangan.
Secara lebih gamblang Kyai Ma’aruf Amin menerangkan bahwa hal itu sudah ada mekanismenya. Pemerintah memang berhak menurut UU membuat Perppu. Toh Perppu itu nanti juga masih akan diuji oleh DPR. “Jadi, itu kan perjalanan saja, tidak usah ada tekanan-tekanan dari pihak manapun,” ujar Ma’ruf.
Jika ada yang keberatan terhadap Perppu tersebut, ia menyarankan untuk menempuh jalur hukum. Salah satunya, melalui gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Penjelasan Kyai Ma’aruf ini sesuai dengan keterangan dari Bapak Presiden.
Sudah berulang kali, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Perppu 2/2017 diterbitkan semata-mata demi menjamin keamanan negara saat ini dan masa mendatang. Tidak ada maksud lain. Keutuhan dan keamanan Negara Republik Indonesia adalah hal yang utama. Negara akan utuh dan aman bila dasar negaranya tidak dirongrong oleh para garong yang suka bengong di hari siang bolong kayak kalong.
“Sekali lagi saya sampaikan bahwa Perppu ini terbit untuk menjamin serta menjaga keamanan negara dalam jangka waktu sekarang hingga yang akan datang,” ujar Jokowi, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/7/2017), sebagaimana dicatat kompas.com.
Artinya, jika masih ada yang menolak Perppu tersebut, masih ada peluang menempuh jalur hukum dengan uji materi. Hal mana, terang Jokowi, itu telah diatur dalam mekanisme hukum.
“Kalau ada yang tidak setuju, ya silakan ke jalur hukum, mekanisme hukum kan ada. Kan negara ini juga negara hukum, saya kira dipersilakan,” ujar Jokowi lagi.
Jokowi juga mengingatkan, meski pemerintah telah meneken Perppu 2/2017 tentang Ormas, Perppu itu belum disetujui oleh DPR RI. Proses demokrasi masih berlangsung, hingga semua elemen bangsa benar-benar memahami maksud dan tujuan Perppu Ormas.
Hal yang pantas disyukuri, dengan cepat dan cerdas para ulama memahami hal ini sehingga melalui MUI mendukung penerbitan Perppu. Oleh karena itu, bila ada aksi 287 yang menentang Perppu, berarti menistakan para ulama yang cerdas ini. Saatnya bagi umat Islam yang berakal mikir!
Referensi:
  • http://nasional.kompas.com/read/2017/07/27/15235791/dukung-perppu-ormas-mui-minta-umat-islam-tidak-ikut-aksi-287
  • http://nasional.kompas.com/read/2017/07/27/14372231/ada-rencana-aksi-287-tolak-perppu-ormas-ini-tanggapan-jokowi

Pansus Angket, DPR, dan Manuver Partai Menuju Pemilu 2019

Tidak diragukan lagi semua anggota partai yang berada di DPR, sedang bergerilia menuju PIlkada 2019. Dua tahun adalah waktu yang lama, tetapi bisa menjadi waktu yang singkat bagi semua Partai yang akan mengusung calonnya menjadi RI 1. Pertemuan petinggi partai Demokrat dengan Partai Gerindra menjadi sebuah pintu gerilia politik.

Hampir semua mata petinggi partai akan tertuju pada pertemuan besar ini. Partai Gerindra yang identik dengan Prabowo Subianto, saat ini sedang menunjukkan tindakan berada di pihak rakyat dengan keluar dari Pansus Angket KPK. Tujuan yang disampaikan ke masyarakat adalah bahwa Hak Angket KPK disinyalir melemahkan KPK.
Dari awal Partai Gerindra tahu bahwa Pansus Angket cacat hukum, tetap berjuang di dalamnya. Apakah karena Setia Novanto telah ditetapkan sebagai tersangka sehingga Partai Gerindra keluar dari Pansus Angket? Kemungkinan ini merupakan pertanyaan yang ngawur dan tidak memiliki arah. Tetapi Partai Gerindra keluar dari Pansus setelah SN ditetapkan sebagai tersangka, dan ini merupakan fakta yang kuat.
Partai PAN yang juga saat ini berada pada barisan Pansus Angket KPK, sedang memberikan wacana akan keluar dari Pansus Angket. Dengan demikian akan menyisakan 6 Partai yang berada pada Pansus Angket KPK. Ke 6 partai ini merupakan partai yang berada pada garda depan mendukung pemerintahan Jokowi. Dengan demikian Partai PAN dan Partai Gerindra sedang menanamkan paham bahwa mereka mendukung KPK. Sehingga aroma wangi yang ditebarkan dengan parfum palsu sudah menyebar di masyarakat.
Bersih dari korupsi menjadi jualan politik. Bebas dari korupsi akan menjadi komoditi utama. Permainan silat lidah akan sering dipertontonkan menjadi beberapa episode. Sanggahan-sanggahan dan pandangan yang menurut mereka benar akan terus menghiasi media cetak dan elektronik.
Permainan cantik dan menawan akan coba dipertontonkan oleh beberapa Partai Politik. Tentu saja para anggota DPR dari berbagai Partai Politik yang akan bermain. Karena mereka telah memiliki nama di masyarakat. Walapun mereka dikenal dari kebencian dan rasa tidak suka masyarakat terhadap lembaga DPR , tetapi mereka akan terus berjuang demi satu tujuan, yaitu pemenang di PIlkada 2019.
Sementara simpatisan partai berjuang di lapangan untuk menyakinkan rakyat bahwa Partai mereka mengusung orang yang tepat. Hati nurani dan perasaan akan dicoba dibenturkan untuk mengambil suara rakyat.
Karakter miring dari beberapa petinggi DPR telah menjadi alat yang nyata untuk terjun berpolitik di tengah-tengah masyarakat. Setia Novanto telah menjadi tersangka kasus e-KTP, tetapi masih menjabat sebagai ketua DPR. Fahri Hamzah yang telah dikeluarkan dari Partai PKS, tetap berdiri dengan tegar sebagai salah satu pimpinan DPR. Fadli Zon telah mempertontonkan bagaimana kuatnya dia terhadap kritik publik yang menyoroti kinerja DPR.
Ini akan menjadi senjata yang ampuh bagi para kader di DPR, terutama bagi simpatisan partai di lapangan. Apa yang dipertotonkan oleh SN, FH, dan FZ adalah sebuah luka berpolitik yang dibungkus dengan cantik oleh hausnya orang akan kekuasaan.
Partai yang mendukung pemerintahan Jokowi saat ini tidak menunjukkan gerak yang menghebohkan. Tetapi dukungan untuk Pilpres 2019 terhadap Jokowi tidak bisa dibantahkan. Kinerja yang baik disertai dengan kualitas pekerjaan yang mumpuni telah diberikan dan dirasakan dampaknya bagi masyarakat.
Begitu banyak infrastuktur yang dibangun, revolusi mental yang telah mendarat, dan tingkat kepercayaan kepada pemerintah tinggi, bukanlah hal yang dikemas indah dalam sebuah pernyataan politik. Tetapi lebih kepada apa yang telah dilakukan untuk bangsa Indonesia. Ini semua merupakan sebuah hasil dari pemerintahan Joko Widodo yang bisa dilihat secara jelas dan bisa dibuktikan.
Pernyataan penguatan KPK yang langsung keluar dari mulut Pak Jokowi menandakan, dia seorang pemimpin yang berkarakter dan benci terhadap tindakan korupsi. Ketika anggota DPR meminta agar Pak Jokowi turun tangan menengahi kisruh KPK dangan DPR, hingga saat ini masih dibiarkan. Karena kemungkinan besar pada prinsipnya Pak Jokowi memegang prinsip bahwa KPK adalah lembaga independen.
Kita juga akan melihat bahwa 2 tahun bukan waktu yang lama. Kecerdasan dan ketelitian dalam menentukan pilihan juga akan dimulai dari sekarang. Karena masa depan bangsa akan kita wariskan pada generasi mendatang untuk Indonesia yang maju.

BNN Tembak Mati Satu Pengedar Sabu di Pluit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati satu pengedar sabu pada penggerebekan di Pluit, Jakarta Utara. Satu orang itu merupakan warga negara Taiwan.
Sementara, dua pelaku lainnya berhasil diamankan.

"Ada 3 orang pelaku, 1 meninggal," ujar Kabag Humas BNN, Kombes Sulistiandriatmoko, kepada Liputan6.com, Jakarta, Rabu (26/7/2017).
Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menuturkan satu pelaku yang telah diamankan adalah warga negara Taiwan. Sisanya merupakan warga negara Indonesia.
Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengamankan sekitar 300 kilogram narkotika jenis sabu dari dalam rumah di Jalan Muara Karang Cantik Nomor 16 Blok D Selatan RT 04 RW 18, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Sabu itu disembunyikan pelaku di mesin pemoles sepatu.
"Dari 8 mesin pemoles sepatu (berisi @ 1 mesin 1,1 kg sabu) total Barang bukti yang berhasil disita 256 Kg sabu," tulis Kabag Humas BNN, Kombes Sulistiandriatmoko, kepada Liputan6.com, Jakarta, Rabu (26/7/2017).
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan pengungkapan ini merupakan operasi kerja sama antara BNN, Bareskrim Polri, Bea dan Cukai serta intelejen antarnegara. Namun, operasi memang dikendalikan oleh BNN.

Jokowi dan Kemajuan Gerakan Literasi

Peringkat minat baca Indonesia dalam data world’s Most Literate Nations berada di urutan 60 dari 61 negara. Indonesia hanya menempati satu peringkat di atas Bostwana, serta berada di bawah Thailand yang menempati peringkat 59. Unesco juga melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Artinya dari 1000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Ditambah lagi dengan sulitnya akses terhadap buku-buku yang semakin memperburuk kondisi tersebut.
Berangkat dari kenyataan di atas, dapat kita lihat bahwa kegiatan membaca belum berjalan dengan baik di Indonesia, baik dari segi ketersediaan akses terhadap buku-buku, maupun minat baca masyarakatnya. Padahal membaca merupakan faktor penting untuk meningkatkan mutu pendidikan serta kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia. Persoalan rendahnya literasi masyarakat Indonesia merupakan kendala serius yang sedang kita hadapi dalam upaya meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia.
Pada era kepemimpinan Jokowi, persoalan literasi ini rupanya menjadi salah satu persoalan yang diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Hal ini terbukti dengan dicanangkannya berbagai program sebagai upaya meningkatkan literasi oleh pemerintah, seperti Gerakan Indonesia membaca (GIM), Gerakan Literasi Bangsa (GLB), serta Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yang pada saat ini menjadi program wajib yang harus dilaksanakan seluruh sekolah sebelum memulai proses belajar mengajar.
Gerakan Literasi Sekolah, merupakan program yang resmi secara nasional di bawah payung hukum Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti, program literasi ini disebut gerakan karena program ini bukan program jangka pendek tetapi merupakan program jangka panjang yang berkesinambungan dan tidak akan berhenti sebelum literasi membudaya di Indonesia. Selain itu, alasan diberi nama gerakan juga karena program ini membutuhkan orang orang yang terus bergerak dan dinamis untuk terus mau membumikan budaya literasi di Indonesia, khususnya di lingkungan sekolah.
Kemajuan gerakan literasi inilah yang ingin dibahas pada tulisan ini, yang dianggap sebagai salah satu keberhasilan di era kepemimpinan Jokowi. Karena, sedikit banyaknya beberapa program yang dicanangkan pemerintah di atas, menjadi pemantik untuk lahirnya berbagai gerakan-gerakan literasi di seluruh pelosok negeri ini. Bisa kita lihat, dalam satu tahun ini saja, muncul ratusan perpustakaan bergerak di berbagai pelosok daerah yang langsung menemui pembacanya, terutama anak-anak. Perpustakaan bergerak ini muncul dengan beragam bentuk yang sangat kreatif, seperti motor pustaka, bemo pustaka, angkot pustaka, perahu pustaka, vespa pustaka, serta berbagai pustaka bergerak lainnya.
Dalam upaya meningkatkan gerakan literasi ini, baik secara langsung atau tidak Presiden Jokowi memiliki peranan penting. Peran Jokowi secara tidak langsung dalam hal ini bisa kita lihat bahwa Jokowi memosisikan diri sebagai contoh atau bagian dari masyarakat Indonesia yang perlu membiasakan budaya membaca. Hal ini terbukti dalam beberapa kesempatan kita temui Jokowi membeli buku, atau membagi-bagikan buku kepada siswa-siswa dalam berbagai acara.
Tokoh terkenal Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ajip Rosidi, Gusdur, Habibie, adalah sederetan tokoh yang literat, mereka membaca sepanjang hidupnya. Karena itu, sebagai orang nomor satu di Indonesia saat ini, sudah semestinya Jokowi memberi teladan seperti beberapa tokoh nasional yang disebut di atas. Dampaknya, jika kita tanyakan kepada siswa-siswa mengenai kesan mereka terhadap Jokowi, sebagian besar menjawab Jokowi adalah Presiden Indonesia yang suka memberi hadiah sepeda atau buku-buku.
Selain dengan beberapa cara di atas, Presiden Jokowi juga menunjukan apresiasinya terhadap pegiat-pegiat literasi di Indonesia. Hal ini terbukti beberapa waktu lalu, dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada hari Selasa, 2 Mei 2017, Presiden Jokowi mengundang kurang lebih 38 orang pegiat literasi dari berbagai pelosok daerah untuk berdiskusi di Istana Negara. Pertemuan ini, selain sebagai bentuk apresiasi dari Presiden Jokowi terhadap pegiat-pegiat literasi, juga merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2015.
Sebagaimana kita tahu, pertemuan semacam ini seringkali diadakan pada masa kepemimpinan Jokowi. Semua lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, seniman, sampai tukang ojekpun pernah dijamu Jokowi. Hal ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi begitu konsisten dengan kesederhanaan yang melekat pada dirinya. Istana Negara menjadi tempat yang terbuka untuk siapa saja. Sehingga pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, pemandangan yang menarik adalah banyaknya kendaraan-kendaraan sederhana yang di parkir di halaman Istana Negara. Kendaraan ini diantaranya bemo, angkot, motor bebek, serta vespa yang disulap oleh para pegiat literasi menjadi pustaka bergerak. Presiden Jokowi bahkan sempat mengendarai salah satu motor pustaka tersebut, sebagai bentuk penghargaannya terhadap usaha para pegiat literasi.
Selain menyampaikan apresiasi yang luar biasa terhadap pegiat-pegiat literasi, Presiden Jokowi juga menanggapi keinginan-keinginan yang diutarakan pegiat literasi dalam diskusi tersebut. Jokowi juga akan memberikan bantuan sebanyak 10.000 buku bacaan kepada tiap-tiap perpustakaan bergerak ini. Tidak hanya itu, presiden juga menghubungi Menteri BUMN agar ikut mendorong peningkatan program literasi, serta menginstruksikan kepada Direksi PT Pos Indonesia untuk memberikan fasilitas khusus terkait pengiriman buku dengan menggratiskan biaya pengiriman buku pada waktu tertentu.
Apresiasi yang diberikan Presiden Jokowi terhadap pegiat-pegiat literasi di Indonesia merupakan bentuk penghargaan terhadap upaya-upaya kreatif yang telah dilakukan oleh pegiat secara sukarela dalam mendukung gerakan literasi. Hal ini tentu menjadi motivasi bagi para pegiat untuk tetap mempertahankan konsistensinya dalam menumbuhkembangkan minat baca masyarakat serta mendorong lahirnya pustaka bergerak baru di seluruh pelosok daerah Indonesia. Pertemuan tersebut juga menjadi wadah untuk membangun sinergi yang baik antara pemerintah dengan pegiat-pegiat literasi dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.
Salah satu realisasi dari janji Presiden Jokowi setelah pertemuan dengan pegiat literasi ini adalah adanya kebijakan baru dari PT. Pos Indonesia, yaitu menggratiskan pengiriman buku ke seluruh pelosok Indonesia setiap tanggal 17. Dengan adanya kebijakan ini, para pegiat literasi serta orang-orang yang ingin mendonasikan buku sampai ke pelosok-pelosok negeri lebih dimudahkan dalam hal biaya dan akses pengiriman.
Dengan berbagai cara yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi, baik secara langsung maupun tidak ini, gerakan literasi ke depannya tentu akan menjadi gerakan masif di Indonesia. Lahirnya kerja sama antara pemerintah dan pegiat-pegiat literasi di Indonesia, tentu saja upaya meningkatkan literasi masyarakat Indonesia akan jauh lebih efektif lagi. Kemajuan gerakan literasi ini memberi harapan besar untuk membebaskan Indonesia dari predikat negara dengan minat baca peringkat kedua terendah, serta menjadi sebuah harapan akan meningkatnya mutu Sumber Daya Manusia, sesuai dengan revolusi mental yang sering dikatakan Presiden Jokowi.
Oleh karena itu, tanpa bermaksud mengenyampingkan prestasi dan keberhasilan lain Presiden Jokowi, baik itu pembangunan infrastruktur jangka panjang, kemajuan ekonomi serta keberhasilan lainnya dalam bentuk fisik, maka keberhasilan non fisik seperti kemajuan gerakan literasi di era Jokowi ini layak disebut sebagai salah satu pencapaian Jokowi dan patut kita acungi jempol.
Sumber:

Akankah Setnov, Fadli dan Fahri Jadi Pimpinan DPR Seumur Hidup?

Presiden ke 16 Amerika, Abraham Lincoln, pernah mengatakan, jika anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.
Sebuah kekuasaan sejatinya adalah amanah besar yang mempertaruhkan nasib orang banyak. Nasib penduduk kota atau wilayah, banyak ditentukan oleh Bupati atau Walikotanya. Begitu juga dengan nasib provinsi atau negara, tergantung pada Gubernur atau Presidennya.
Sejarah sudah mencatat, 32 tahun Soeharto, mewariskan sebuah trauma mendalam tentang penculikan, ototirer dan tidak sepenuhnya merdeka sebagai manusia. Begitu pula dengan 10 tahun SBY, mewariskan utang luar negeri yang sangat banyak, sementara proyek-proyek yang menghabiskan triliunan rupiah banyak yang mangkrak. Ke mana uangnya? Tanyakan saja kepada anak buah SBY seperti Nazarudin, Anas, Anggie, Andi M, Sutan Batugana dan kawan-kawan dari partai penguasa saat itu, Demokrat.
Di era Jokowi, awalnya semua nampak penuh semangat. Dengan slogan kerja, kerja, kerja, kita melihat setitik cahaya optimisme. Pembangunan dikerjakan siang malam, mengejar ketertinggalan dari negara lain. Bukit Papua pun berhasil dibangun jalan besar. Bandara-bandara di wilayah terluar Indonesia dirombak dan dibangun. Kita pikir inilah kepemimpinan era Jokowi, era transformasi.
Namun belakangan saya seperti baru sadar, bahwa Presiden Jokowi dan kabinetnya memiliki batu sandungan yang sangat besar di parlemen, DPR. Sekilas memang terlihat tidak ada masalah. Presiden nampak begitu sibuk blusukan, begitu menikmati kerja keras dan menerapkan semangat kerja, kerja, kerja.
Ada suatu masalah yang sangat serius yang mungkin tidak disadari oleh semua orang. Untuk itu saya menuliskan ini, harapannya semakin banyak orang yang sadar.
Dulu, di era SBY, pimpinan DPR selalu diisi oleh partai pemenang pemilu. Hal ini diatur dalam UU MD3 yang lama. Namun saat Jokowi JK menang secara sempurna atas Capres kalah Prabowo, UU MD3 tersebut diubah dengan sistem paket pemilihan. Jadi setiap anggota DPR berhak dipilih dan memilih pemimpin alat kelengkapan dewan dengan cara musyawarah mufakat atau voting.
Logikanya, pimpinan DPR bukan lagi merepresentasikan suara rakyat terbanyak di Indonesia. Melainkan hasil koalisi terbesar dari partai-partai yang ada.
Meski mayoritas rakyat Indonesia memilih Jokowi JK sebagai pemimpin sampai 2019, tapi mereka didukung oleh partai minoritas di DPR. Sehingga saat Jokowi JK menang total, partai-partai yang sakit hati permanen itu kemudian berkoalisi untuk mengubah UU MD3.
Sehingga terpilihlah Setya Novanto (Golkar), Fahri Hamzah (PKS), Fadli Zon (Gerindra) dan Agus Hermanto (Demokrat) dan Taufik Kurniawan (PAN) sebagai pimpinan DPR. Mereka semua memang adalah bagian dari KMP, partai koalisi yang keok di Pilpres 2014.
Saat PDIP dulu ngotot untuk banding ke MK, saya pikir itu hanya karena masalah kekuasaan. PDIP tidak mendapat haknya sebagai partai pemenang pemilu. Namun hari ini saya baru sadar, rupanya ada yang lebih buruk dari itu. UU MD3 yang baru telah menghasilkan pimpinan DPR otoriter yang jadi mustahil digeser. Mari kita telaah.
Saat Fadli dan Setnov tertangkap basah sedang jalan-jalan di Amerika, kemudian hadir di kampanye Donald Trump di sela-sela tugas, publik marah besar. Bagaimana mungkin para pimpinan DPR itu, yang mewakili suara rakyat Indonesia, harus ikut-ikutan mendukung bakal calon Presiden Donald Trump? Apa urusannya?
Tapi Fadli dan Setnov kokoh sebagai pimpinan dan tak tergantikan. Kesalahan yang sangat tidak etis tersebut hanya jadi angin lalu. Padahal menurut saya itu adalah pelanggaran etik yang sangat fundamental. Mereka seolah tidak menghargai dan menjaga kehormatan rakyat Indonesia.
Selanjutnya Setnov terkena kasus mencatut nama Presiden dalam negosiasi Freeport. Papa Minta Saham. Kasus ini memang membuat Setnov lengser dari jabatannya sebagai ketua DPR. Akan tetapi bukan dilengserkan, melainkan mengundurkan diri. Lalu apa hukuman kepada Setnov yang telah berani meminta saham pada Freeport dengan mecatut nama Presiden? Entahlah…
Setnov sempat kembali sebagai ketua DPR, setelah beberapa waktu lalu berhasil terpilih menjadi ketua umum Golkar. Tapi lagi-lagi Setnov bermasalah, sekarang dia secara resmi menyandang status tersangka kasus korupsi e-KTP. Bedanya, kali ini Setnov enggan untuk mengundurkan diri.
Terakhir Fahri Hamzah. Saya pikir dia adalah satu-satunya manusia di dunia, yang berhasil bertahan sebagai pimpinan DPR meski tidak memiliki partai. Beberapa waktu lalu Fahri Hamzah sudah dipecat oleh PKS, namun Fahri tidak mau mundur atau melepas jabatan politisnya di DPR.
Dari serangkaian cerita ini, kita harus sadar bahwa UU MD3 dari koalisi partai yang kalah di Pilpres 2014 telah menghasilkan sebuah sistem yang sangat buruk. Silahkan dibayangkan, betapa malunya kita memiliki ketua DPR yang menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP. Sementara wakilnya adalah orang yang sudah dipecat oleh partainya dan tidak mau mengundurkan diri.
UU MD3 yang dirumuskan oleh koalisi partai pendukung Prabowo telah berhasil membuat sejarah kelam demokrasi di Indonesia. Sehingga kalau anak cucu kita nanti bertanya mengapa Indonesia pernah memiliki pimpinan DPR tersangka dan tidak punya partai, sepertinya kita akan kebingungan bagaimana menjawabnya.
Setnov, Fadli dan Fahri begitu kokoh di DPR berkat produk UU MD3 itu. Mereka tak tergantikan karena menjadi bagian dari partai dengan suara mayoritas yang menguasai DPR. Bahkan kalau nanti Setnov terbukti bersalah pun, saya juga tidak yakin partai koalisi pendukung Capres kalah Prabowo itu ada yang berani bersuara untuk menggantikannya.
UU MD3 sistem paket berhasil menciptakan sebuah sistem kekuasaan permanen, selama mereka berhasil partai-partai untuk berkoalisi. Coba perhatikan. Saat Fahri dipecat oleh PKS, seharusnya PKS punya kuasa untuk menggantikan posisi Fahri. Namun kenyataannya sampai sekarang PKS tidak berdaya, karena Fahri sudah masuk sebagai pimpinan paket dan mendapat dukungan penuh dari Fadli, Setnov, Agus dan Taufik Kurniawan. PKS nampak seperti bukan partai politik, sebab terlihat begitu lemah dan kalah oleh seorang Fahri Hamzah.
Ketika Setnov mengundurkan diri karena kasus, dia bisa kembali menjadi ketua DPR setelah berhasil terpilih sebagai ketua umum Golkar. Silahkan perhatikan, tidak ada penolakan berarti kepada Setnov. Padahal dia pernah terkena kasus.
Sampai di sini, sepertinya apa yang diucapkan oleh Abraham Lincoln mulai terasa. Karakter asli mereka mulai terlihat, berkuasa secara permanen. Bahwa kemudian Prabowo adalah mantu Soeharto yang dikenal otoriter dan berkuasa nyaris permanen (jika tidak didesak mundur), saya pikir itu hanya kebetulan belaka.
Pada intinya, sejarah demokrasi di negara kita bisa menjadi bahan tertawaan. Ini terjadi karena partai-partai yang memiliki karakter buruk masih mendapat suara, dan berhasil berkoalisi. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa adalah dengan tidak memilih partai-parati koalisi anu tersebut. Jika kita tetap memilih mereka, bukan tidak mungkin kalau Fadli, Fahri, dan Setnov akan menjadi pimpinan DPR seumur hidup di Indonesia. Tidak perduli lagi siapa Presidennya, partai pemenang pemilu dan sebagainya, yang penting mereka tetap berkoalisi menjadi partai mayoritas. Dan kita akan melihat langkah Indonesia yang cukup berat ke depannya.

Fadli Zon Serang Jokowi Dengan ‘Sajak Diktator Kecil’, Ini Sajak Balasan, ‘Sajak Begundal Hambalang’

Fadli Zon kembali serang Presiden Jokowi. Kali ini dia serang melalui maha karya puisi teranyarnya yang top markotop dengan judul, ‘Sajak Diktator Kecil’. Dalam puisi itu Fadli Zon serang Presiden Jokowi sebagai Diktator.

Sajak itu dibuatnya dalam upayanya menghina Presiden Jokowi melalui karya sastra. Dalam sajak itu Fadli Zon sebut pencitraan, ormas, utang, dan kodok. Silahkan disimak sajaknya Fadli Zon yang top markotop itu, berikut ini.
SAJAK DIKTATOR KECIL
ada diktator besar
bicara ideologi dasar
pidato propaganda akbar
narasi bersinar massa berkobar
jiwa bergetar rakyat terbakar
semangat menggebu maju tak gentar
membabat total komprador barbar
tapi diktator besar pun akhirnya pudar
ditelan kuasa pasti bertukar
ada diktator kecil
bicara remeh temeh serba mungil
tuna sejarah berpikir kerdil
pencitraan murah dipoles centil
rakyat ditindas ancaman bedil
ormas ditumpas seperti kutil
ekonomi merangkak labil
utang menjulang tak bisa nyicil
hukum ditabrak makin tak adil
wajah demokrasi berbedak dekil
kodok lincah bagai kancil
lawan politik dianggap kerikil
kedunguan mewabah ganjil
tapi roda zaman berputar stabil
kebenaran pasti kalahkan yang batil
Fadli Zon, Jakarta, 26 Juli 2017
Hebat, kan? Inilah contoh nyata perjuangan cari panggung tanpa kenal lelah, khususnya membela junjungannya di Hambalang sana selama hayat masih dikandung badan.
Segala cara, kasar maupun halus, dilakukan sebagai pembuka kunci gembok untuk merongrong pemerintahan Presiden Jokowi yang sah dan legitimasi secara konstitusional dan Undang-Undang yang berlaku sahih dan mengikat di negeri ini.
Bubarin ormas anti Pancasila demi keamanan negara dibilang Diktator. Padahal kalau mau dibilang yang Diktator itu siapa? Demi bela Soeharto siapa yang tukang culik aktifis? Siapa yang perintahkan tembak mahasiswa di jembatan Semanggi? Jadi kalau teriak Diktaror, tolong kembalikan dulu nyawa para aktifis dan para mahasiswa baru boleh teriak-teriak Diktator.
Oleh sebab itu, sodara-sodara sebangsa dan setanah air, kawan-kawan sejagad nusantara, percayalah bahwa Gusti Ora Sare. Diserang dengan cara apapun, pemerintahan Presiden Jokowi adalah pemerintahan yang sah dan legitimasi secara Konstitusional dan Undang-undang yang berlaku di negeri ini.
Sudah jelas posisi Presiden Jokowi saat ini yang terus bekerja keras demi rakyat. Umur pemerintahan belum juga tiga tahun, asal main tuding Diktator. Kalau Presiden Jokowi Diktator, mungkin nasibnya Fadli Zon ini aejak 2014 yang lalu sudah jadi mayat Mr. X yang terapung di Kepulauan Seribu. Mikir, dong.
Utang pemerintah saat ini untuk bangun infrastruktur, bandingkan dengan utang di era Presiden sebelumnya yang mewarisi maha karya prasasti berupa proyek mangkrak dimana-mana, mulai dari wisma atlit Hambalang sampai ratusan mobil internet Kecamatan yang jadi sarang tikus dan kecoak.
Banyak orang yang merasa dirinya pintar, tapi jiwanya sakit. Orang sakit jiwa bukan berarti orang itu gila, akan tetapi jiwanya sakit karena sakit hati yang berkepanjangan, sehingga tabiatnya juga ikut jadi sakit. Sajak tidak bermutu tersebut tentu saja tidak lepas dari rasa sakit hati, kejengkelan, kekesalan, dan dendam membara yang berkepanjangan akibat kalah telak dalam pilpres 2014 yang lalu.
Apapun upaya Fadli Zon menghina Presdien Jokowi, yang pasti kekuatan dan kekuasaan Presiden adalah absolut dan mutlak. Jadi kalau ada oknum kemaruk super serakah yang kebelet mau jadi Presiden, tidak usah gaya-gayaan bikin sajak segala. Tunggu pilpres 2019 mendatang, bertarunglah secara sportif.
Biar fair dan adil, maka ijinkanlah saya bikin sajak berikut ini khusus buat Fadli Zon. Memangnya cuma Fadli Zon doang yang bisa bikin sajak? Saya juga bisa.
SAJAK BEGUNDAL HAMBALANG
ada begundal besar
dari Hambalang yang barbar
selalu propaganda serang negara
narasi bersinar massa berkobar
jiwa bergetar piyungan terbakar
semangat menggebu maju tak gentar
tapi begundal besar itu akhirnya pudar
karena rakyat muak melihatnya serakah
ada begundal kecil
namanya ikan lele jumbo yang tengil
bicara remeh temeh suruhan junjungannya yang degil
mulut nyinyir tapi otak kerdil
demi sesuap nasi apapun jadi
rakyat ditipu dengan jargon kutil babi
kaum bumi peang yang ababil
mulut manyun tukang nyempil
seperti emak-emak kentir yang bau dan dekil
begundal besar dan begundal kecil itu makin lama makin tengil
Jokowi Presiden dua periode terpilih
Kura-kura begitu.