Subscribe Us

Akhir Pelarian Bandar Sabu 1 Ton di Pantai Anyer

Liputan6.com, Jakarta - Jajaran Polda Metro Jaya menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu di kawasan Anyer, Serang, Banten. Tak tanggung-tanggung, jumlah sabu yang diamankan mencapai seberat 1 ton.
Kapolda Metro Jaya M Iriawan membeberkan proses penyergapan empat tersangka penyelundupan sabu 1 ton itu berlangsung di bekas bangunan Hotel Mandalika, Anyer, Serang.

Menurut dia, operasi tersebut terungkap berdasarkan hasil pengembangan dari Jakarta. Iriawan mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pengintaian selama dua bulan di lokasi bangunan yang terlihat kusam tak terurus tersebut. 
Halamannya yang dikelilingi rumput ilalang serta kaca bangunan yang pecah menambah kesan tempat tersebut jauh dari perhatian warga. "Anggota saya sudah dua bulan lalu (pantau lokasi) di sini," ujar Iriawan di lokasi kejadian, Serang, Kamis (13/7/2017).

Iriawan pun bercerita bagaimana detik-detik anggotanya mengungkap aksi penyelundupan sabu tersebut. Dia menuturkan, anggotanya yang tergabung dalam Tim Survival Polda Metro Jaya bersama Tim Jaguar Polresta Depok, harus menyelinap di balik rerimbunan ilalang sekitar hotel yang sudah tak terawat itu. 

Malam yang gelap di pantai Anyer, Serang, Banten, ditambah perahu karet yang senyap membuat tantangan tersendiri bagi kepolisian, saat hendak menyergap pelaku. 

"Memakai kapal karet atau perahu kecil. Mesinnya cukup halus, jadi kita pakai peralatan canggih, night vision," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan di lokasi penangkapan Hotel Mandalika, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Kamis.
Detik-Detik Pengepungan
Setelah tim pemburu siap mengepung hotel, tiba saatnya meringkus para penyelundup sabu jaringan internasional tersebut. Namun, keempat kawanan penjahat itu melawan polisi.
Dua pelaku berusaha kabur dan menabrak dua polisi dengan mobil hingga terluka. Polisi akhirnya mengambil sikap tegas dengan menembak bagian bodi mobil Innova krem yang ditumpangi pelaku. Setidaknya ada 24 lobang peluru di sisi kiri bodi mobil tersebut. Akibatnya satu orang tewas.

Lin Ming Hui, yang ditengarai sebagai bos sabu tewas tertembus timah panas. Dua tersangka ditangkap hidup, Chen Wei Cyuan dan Liao Guan Yu. Sedangkan satu tersangka lainnya, Hsu Yung Li, berhasil kabur.

Atas keberhasilan operasi tersebut, Iriawan mengapresiasi jajaran anak buahnya. Dia mengatakan bila diuangkan, total jumlah sabu tersebut mencapai Rp 1,5 Triliun. 

"(Sabu 1 ton itu senilai) Rp 1,5 triliun, jadi ada berapa juta manusia yang bisa diselamatkan?" kata Iriawan. 

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyampaikan pengungkapan Sabu 1 Ton itu merupakan hadiah besar pada peringatan Hari Anti Narkoba (HANI) 2017 yang jatuh pada Kamis, 13 Juli 2017.

"Di HANI ini, Indonesia mendapatkan hadiah karena pada hari ini, kepolisian dan jajarannya beserta gabungan TNI, Bea Cukai, BNN, berhasil menangkap, menyita, jaringan narkotika internasional jenis sabu seberat 1 ton," tutur Budi Waseso dalam pidato acara HANI 2017 di TMII, Jakarta Timur, Kamis (13/7/2017).
Pria yang akrab disapa Buwas itu sangat bersyukur atas prestasi tersebut. Sebab, hasil dari tangkapan itu, 5 juta warga Indonesia terselamatkan dari jerat narkotika.
Selain itu, dia merunut keberhasilan BNN ke belakang. Sepanjang 2016, BNN telah menyosialisasikan bahaya narkoba dan pembekalan diri kepada warga melalui penyelenggaraan 2.566 acara yang melibatkan 9 juta orang lebih dari berbagai kalangan.

"BNN telah mengungkap 807 kasus narkoba dengan 1.238 tersangka yang mereka 1.217 merupakan WNI dan 21 WNA. Untuk kasus Tindakan Pidana Pencucian Uang (TPPU) ada 21 kasus dengan 30 tersangka dan menyita aset sebesar Rp 261.863.413.345," jelas Buwas.

Presiden Jokowi Resmikan Proyek Rumah DP 1 Persen di Kaltim, Tamparan Keras Bagi Pencetus DP Nol Rupiah!

Presiden kita ini biar badannya kurus, tetapi otaknya pintar dan selera humornya tinggi. Situasi panas dan semenegangkan apapun bisa dihadapi dengan ketenangan tingkat dewa. Untuk hal-hal tertentu, Jokowi sanggup menyindir secara halus dan seolah tak kentara. Apapun yang ia katakan. Ia lakukan. Ia pertontonkan pasti selalu ada pesan di balik itu semua. Ia maestro pertunjukkan yang sanggup memukau siapa saja dalam sekali pentas.

Bayangkan saja, ketika dia dihina dan dikata-katai macam-macam, misalnya oleh si Jonru kutu itu, Jokowi dengan tenangnya malah ke Sumba, naik kuda ia di sana. Ketika ada yang ‘ngotot’ ibukota nggak boleh pindah, kata jokowi: Tetap pindah. Hehehehe…Ketika ada yang grasak grusuk sibuk cari cara mengutak ngatik dasar negara Pancasila, Jokowi keluarkan Perppu, termasuk pembubaran ormas radikal.
Sekali lagi, dalam sebuah permainan catur, Jokowi itu ibarat Grand Master yang sudah malang melintang ikut kejuaraan dunia. Lawan adu menteri, Jokowi malah memberi menterinya secara gratis, asal raja lawan bisa di-skak mati dalam tiga langkah ke depan. Semua sudah diperhitungkan dengan cermat. Lawan tawarkan remis, Jokowi malah tertawa dan bilang, 10 langkah ke depan raja kamu bakalan terkapar tak berdaya. Itu Jokowi. Dia berpikir beberapa langkah ke depan, sementara orang lain baru bangun dari mimpi buruk dan coba-coba melangkah satu dua tertatih-tatih.
Hari ini pukulan telak kembali dilakukan Jokowi. Tidak sampai membuat lawan knock out sih. Tetapi paling nggak ada pesan penting yang tersampaikan. Gaungnya keras menghantam. Pesan itu adalah, kehebatanmu dan kecintaan warga padamu tidak terletak pada seberapa jago ‘congor’mu cuap-cuap. Tetapi pada seberapa serius kamu berusaha mewujudkan apa yang kamu katakan, dan seberapa tulus kamu melakukan itu pada warga yang kau sudah janjikan.kira-kira dengan bahasa sarkasme, begitulah pesan yang menggema.
Pukulan telak itu adalah soal DP rumah nol rupiah yang hanya hidup dalam angan-angan, telah dibalas secara cantik dengan DP 1 persennya Pemerintahan Jokowi yang membumi, dan rumahnya bahkan sudah ada, yang jadi.
Presiden Jokowi memang terus berkomitmen untuk mewujudkan program satu juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ini rumah yang benar-benar rumah bukan bualan, dan TIDAK ada batasan bahwa yang bisa memilikinya adalah bagi mereka yang punya gaji 7 – 10 juta.
Kalau harus yang punya gaji 7 – 10 juta baru bisa dapat rumah DP nol rupiah, maka tetangga saya akan bilang, “Ini niat nggak sih bantu orang miskin untuk bisa punya rumah….” Dalam hati saya, mas….mas….itu kan waktu kampanye, mana ada rumah DP nol rupiah di alam semesta ini. Kalau tinggal di hutan mungkin iya. Bukan hanya nol rupiah tapi minus rupiah sekalian.
Nah, dalam kunjungannya ke Balikpapan, Kalimantan Timur hari ini, Jokowi meninjau proyek rumah murah dengan DP 1 persen yang berlokasi di Kecamatan Balikpapan Utara. Lalu dengan tersenyum saat ditanya-tanyai wartawan Presiden kita ini mengatakan begini, “Ini perumahan yang disubsidi oleh pemerintah baik yang disubsidi uang muka maupun yang disubsidi bunga, jadi ini rumah dengan DP 1 persen betul-betul.”
Kata-kata Presiden manis sekali bukan. “….Jadi ini rumah dengan DP 1 persen betul-betul…” Berarti kan Presiden Jokowi sudah tau bahwa rupanya ada yang ndak betul betul hahahaha…. Selera humor Presiden kita ini tinggi juga. Berkelas. Nyindirnya halus.
Menurut Presiden, sebanyak 500 unit rumah tapak telah dibangun di proyek perumahan bernama Pesona Bukit Batuah ini dari total target 4000 unit rumah. Masih akan terus dibangun sesuai target.
Bagaimana harganya? Oow, tidak perlu tunggu gaji Anda sudah di atas 7 – 10 juta dulu baru boleh dapat rumah ini. Menurut Jokowi setelah dia tanya ke pembeli, harga rumah itu sekitar Rp.128-135 juta, lalu cicilannya tergantung . Jadi umpamanya 10 tahun maka sebulan harus dicicil sekitar Rp.1,3 juta.
Tetapi kalau dicicil selama 15 tahun maka sebulan ‘hanya’ bayar Rp.1,050 juta. Bagaimana kalau untuk cicilan 20 tahun? Ya lebih murah lagi dong, yaitu sekitar Rp.780 ribuan saja. Ini perbulan, jadi untuk masyarakat kurang mampu tentu subsidi yang pemerintah berikan pasti amat sangat membantu. Daripada yang 0 rupiah tapi harus punya gaji minimum 7 juta!
Presiden kemudian menekankan lagi bahwa  program serupa ini juga akan dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia. “Ini memang setiap tahun akan kita tambah terus tergantung kebutuhan lapangan,” kata Jokowi. Keren kali Presiden kita ini. Membangun dari pinggiran sudah pasti jalan.
Jokowi sangat serius dengan proyek ini, bahkan untuk mengurangi adanya penyimpangan, Presiden kembali menegaskan bahwa akan dilakukan pengecekan yang menyeluruh kepada pembeli proyek rumah tersebut agar penerimanya merupakan masyarakat yang memang membutuhkan.
Dalam proyek pengadaan rumah murah ini, pemerintah bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai Bank BUMN yang khusus bergerak di bidang kredit kepemilikan rumah. Untuk menyukseskan Program Sejuta Rumah yang diusung Pemerintah sejak bulan April 2015, hingga Juni 2017, Bank BTN telah menyalurkan kredit perumahan untuk sekitar 1,44  juta unit dengan nilai total Rp156 triliun (Data Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden).
Bagaimana dengan program 0 rupiah? Nggak usah ditanyalah, kirim ke laut saja sebab hanya bikin sakit hatinya orang miskin. Itu yang punya gaji tidak menyentuh angka 7 juta juga harus gigit jari, kalau perlu jari kaki juga digigit.
Wakil gubernur terpilih DKI Jakarta Sandiaga Uno dengan entengnya bilang bahwa program rumah DP 0 rupiah yang dia gagas bersama Anies Baswedan adalah untuk masyarakat berpenghasilan antara Rp 7 hingga Rp 10 juta.
“Itu yang mereka harus dipastikan mereka bisa sanggup mencicil. Karena DP 0 rupiah kategorinya untuk pendapatan sekitar Rp 7-Rp 10 juta per bulan. Kalau di bawah itu enggak cocok untuk pola rumah dengan DP 0 rupiah,” kata Sandiaga ditemui di posko pemenangannya di Melawai, Jakarta (Lengkapnya baca di sini: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/12/11173641/sandiaga.dp.0.rupiah.untuk.pendapatan.rp.7.juta-rp.10.juta.per.bulan)
Mereka berdua tentu bukan Jokowi. Beda jauh. Jokowi menunjukkan kapabilitas dirinya. Dia mewujudkan apa yang disebut orang sebagai ‘melayani dengan hati, bekerja dengan tulus’. Tidak memuja kemahiran berkata-kata, tetapi selalu mengandalkan proses dan hasil kerja…kerja…kerja.
Salah satu keberhasilan seorang pemimpin adalah membuat program yang outputnya dapat dirasakan dan dinikmati warga secara maksimal. Jokowi berhasil membangun banyak infrastruktur yang dapat dinikmati orang banyak, termasuk rumah DP satu rupiah ini.
Semoga kata-kata indah Immanuel Kant berikut ini dapat mengakhiri tulisan ini dengan damai (Bagi yang benci Jokowi sampai ke ubun-ubun, monggo untuk nggak usah baca) “We are not rich by what we possess but by what we can do without.”

Polisi ringkus dua pengeroyok Hermansyah

Jakarta (ANTARA News) - Petugas gabungan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Timur dan Polres Kota Depok meringkus dua pelaku lainnya yang diduga terlibat pengeroyokan ahli telematika Hermansyah yakni DO dan R.

"Kita tangkap di Bandung," kata Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Hendy F Kurniawan melalui keterangan tertulis di Jakarta Rabu (12/7) malam.

Hendy mengungkapkan petugas masih memburu seorang pelaku lainnya berinisial ER berdasarkan keterangan istri Hermansyah, Irina Ustinova.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, jumlah pelaku yang mengeroyok Hermansyah sebanyak lima orang dengan menggunakan dua unit mobil.

Selain menangkap DO dan R, petugas telah menyita mobil Yaris yang digunakan Lauren Paliyama bersama tersangka DO dan ER.

Sebelumnya, Hermansyah terlibat pertengkaran dengan pengemudi lain berjumlah lima orang yang berujung pembacokan usai kendaraannya bersenggolan di Tol Jagorawi Jakarta Timur pada Minggu (9/7) sekitar pukul 04.00 WIB.

Petugas gabungan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Timur dan Polres Kota Depok telah meringkus pelaku pengeroyokan Hermansyah yakni Edwin Hitupeuw dan Lauren Paliyama di Jalan Dewi Sartika Depok usai menyembunyikan kendaraan yang bersenggolan dengan mobil korban di Bandung Jawa Barat pada Rabu (12/7) pukul 01.00 WIB.
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Perppu Ormas Dipastikan Tidak Bertentangan dengan Demokrasi

Jakarta: Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memastikan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) tidak bertentangan dengan demokrasi. Prinsip berdemokrasi sendiri sudah diatur dalam Pasal 28 Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

"Artinya Perppu ini enggak ada kaitannya sama sekali dengan penggembosan demokrasi," kata Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Soedarmo ketika dihubungi, Jakarta, Rabu 12 Juli 2017.

Atas dasar itu, ia menegaskan perppu berlaku bagi seluruh ormas, tanpa terkecuali. Baik yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM maupun Kemendagri.

Lebih lanjut Soedarmo menyebut harus ada pemisahan antara pemetaan ormas dengan penerbitan perppu ini. Sebab regulasi baru ini bertujuan menutup celah yang masih bisa ditemui di beleid terdahulu. Celah itu dijadikan ormas tertentu mengembangkan dan mengajarkan paham dan aliran yang selalu bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945.

"Maka ke depan ini kan memang perlu disempurnakan. Penyempurnaan itulah melalui Perppu ini," pungkas Soedarmo.

Sebelumnya Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto menjamin kebebasan masyarakat untuk terus berkarya melalui organisasi. Saat ini sudah ada 300 ribu lebih ormas yang terdaftar secara sah di Kemenkumham dan Kemendagri.

Niatan pemerintah membuat Perppu Ormas semata hanya ingin mencegah ormas bertindak di luar ketentuan. Salah satunya seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dalam prakteknya menyebarkan paham negara Kekhalifahan dan tak sesuai dengan ideologi Pancasila.

Kapolda: Ada 16 Lekuk Tubuh yang Tak Bisa Dimungkiri Firza Husein

Jakarta - Polisi masih terus mengumpulkan alat bukti terkait kasus pornografi 'baladacintarizieq' yang menyeret imam besar FPI Habib Rizieq Syihab dan Firza Husein. Polisi menghadirkan ahli antropometri untuk menganalisis lekuk tubuh guna memastikan bahwa foto telanjang yang tersebar di media sosial itu adalah Firza Husein.

"Dari lekuk-lekuk tubuh itu, ada 16 menjadi (analisis) titik lekuk tubuh yang tidak bisa dimungkiri dengan titik lekuk tubuh Firza dalam kasus ini. Nanti ada kedokteran forensik yang dalami itu, seperti di kasus Ariel juga," kata Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Menurut Iriawan, Firza tidak mengakui foto wanita telanjang di percakapan WhatsApp yang tersebar di media sosial itu adalah dirinya. Namun, dengan adanya bukti-bukti tersebut, Firza tidak bisa menyangkal lagi.

"Yang bersangkutan tidak mengakui, itu bukan dia. Tapi nanti kita akan periksa dengan kedokteran forensik. Itu kayak kasus Luna Maya sama Ariel, Ariel kan tidak mengaku, ya nggak apa-apa," ujar Iriawan. 

Selain itu, polisi akan membuktikan rekaman audio di WhatsApp tersebut dengan memintakan pendapat ahli. "Nanti dari voice itu ada voice forensik juga. Firza ada suara juga di situ," tambahnya.

Hanya, Iriawan tidak secara tegas mengungkap bahwa foto telanjang itu adalah Firza. "Jadi nanti kita buktikan. Untuk pastinya, nanti hakim yang akan menilai di persidangan, apakah itu Firza atau bukan," sambungnya.

Dari beberapa barang bukti yang disita dari rumah Firza di Depok, Jawa Barat, Iriawan menyatakan bahwa itu identik dengan yang ada di dalam foto yang beredar. "TV-nya jelas, tegelnya jelas, lantai jelas," ucapnya.

Namun, saat ditanya apakah wanita di foto itu adalah Firza, Iriawan menjawab, "Sekarang begini saja, kalau difitnah, marah nggak? Firza lapor (soal fitnah) nggak?" tuturnya. 
(mei/idh)

Tak Bertemu Sandiaga di Balai Kota, Djarot: Kan Pengin Makan Bareng

Jakarta - Djarot Saiful Hidayat mengungkap alasan pertemuan dengan Sandiaga Salahuddin Uno di restoran, alih-alih di Balai Kota. Menurut Djarot, tidak ada alasan khusus selain memang untuk makan malam bersama.

"Ya kan mau makan, kan pengin makan bareng," kata Djarot singkat seusai pertemuan di Restoran Meradelima, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Rabu (26/4/2017).

Saat ditanya apakah akan ada pertemuan lagi untuk membahas program-program, Djarot enggan berkomentar. Dia menjawab dengan berseloroh kepada awak media.

"Jangankan dengan Mas Sandi, dengan sampean saja bertemu terus," ujarnya seraya tertawa.

Saat kembali ditanya soal program yang dibahas dalam pertemuan itu, Djarot kembali bungkam. Bersama istrinya, Happy Farida, Djarot bergegas menuju mobilnya.

Sebelumnya, Djarot mengaku sempat bernyanyi bersama Sandiaga. Tak hanya itu, Djarot menyempatkan diri berfoto bersama Sandiaga, yang juga ditemani istrinya, Nur Asia.

Kemudian Djarot mengaku tetap berdiskusi mengenai masalah isu politik dengan Sandiaga. Dia menegaskan akan berbagi pengalamannya selama menjadi Wakil Gubernur DKI.


(nth/dhn)

Lingkaran Komplotan Pengemplang Utang Triliunan BLBI

JakartaCNN Indonesia -- Kejaksaan Agung (Kejagung) sebelumnya menetapkan 19 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), namun enam orang di antaranya dihentikan penyidikan.

Jurnal Kriminologi Volume 5 Nomor 1 Februari 2009 Universitas Indonesia menyebutkan para pelaku BLBI dan pidana yang mereka terima. 

Kasus BLBI terjadi saat krisis moneter terjadi di Indonesia pada 1997—1998. Sejumlah bank memiliki saldo negatif akhirnya mengajukan permohonan likuiditas kepada BI saat itu, namun akhirnya diselewengkan. 

Total dana yang dikucurkan mencapai Rp144,53 triliun untuk sedikitnya 48 bank. Pada Januari 1998, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dibentuk untuk menagih kewajiban para obligor.

Ada enam orang yang dihentikan penyidikan saat Kejagung merilis Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3); tujuh orang divonis di bawah 5 tahun penjara; tiga orang dihukum di atas 5 tahun penjara; serta tiga vonis seumur hidup.

Mereka yang mendapatkan SP3 adalah Kaharudin Ongko; Leonard Tanubrata; Leo Ardyanto; Sjamsul Nursalim; Hokianto; dan Jean Ronald Pea. 

Pelaku yang mendapatkan vonis di bawah 5 tahun penjara adalah Hendrawan Haryono; Setiawan Haryono; Samadikun Hartono; Hendri Sunardyo; Jemy Sutjiwan; Supari Dhirjo Prawiro; serta Soemeri.

Vonis 5 tahun penjara dijatuhkan pada David Nusa Wijaya; Eko Adi Putranto; dan Sherny Konjongian. Sedangkan hukuman seumur hidup adalah Hendra Raharja; Bambang Sutrisno; serta Adrian Kiki Ariawan.

“Kasus Samadikun merupakan kasus penyalahgunaan BLBI yang tergolong kelas berat,” demikian jurnal tersebut seperti dikutip CNNIndonesia.com, Selasa (35/4). “Samadikun Hartono merupakan salah satu kasus yang menjadi sorotan publik.”

Kejagung sebelumnya menetapkan tersangka Samadikun karena ada kerugian negara mencapai Rp169,47 miliar. 

Pada pengadilan tingkat pertama, pengusaha itu justru dibebaskan dari segala tuduhan, namun kasasi MA menghukumnya 4 tahun penjara pada 2003. 

Namun Samadikun berhasil ‘kabur’ ke luar negeri sampai akhirnya ditangkap di Shanghai, China pada 14 April 2016. 

Ia berhasil ditangkap oleh tim gabungan dari Badan Intelijen Negara, Polri, Kementerian Luar Negeri, Bea Cukai, dan Kejaksaan Agung. (asa)