Subscribe Us

Capres Demokrat AHY Dianggap Anak-Anak Sama Jokowi, Disuruh Konpres Sama Gibran

Pertemuan putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Presiden Jokowi menjadi sorotan media hari ini, Kamis (10/8/2017). AHY yang datang ke Istana bertemu Presiden Jokowi untuk meminta restu untuk peluncuran The Yudhoyono Institute. AHY bahkan berharap Presiden Jokowi bisa hadir.

Dalam pertemuan tersebut, AHY dijamu makan siang dengan menu gudeg dan bubur lemu. Makan siang ini disiapkan oleh putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Kedatangan AHY memang membuat Gibran ingin menyajikan sendiri menu makan siang. Entah apa tujuannya, tetapi menu yang disampaikan oleh Gibran kini disebut dengan istilah diplomasi gudeg-bubur lemu..
AHY dalam pertemuan tersebut mengakui bahwa dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi membahas mengenai pentingnya peran generasi muda menjadi tulang punggung perubahan yang terjadi karena kemajuan jaman. Perubahan yang terjadi dalam bidang ekonomi, politik dan sosial.
Sayangnya, AHY yang seharusnya mendapatkan kesan baik dalam pertemuan tersebut dalam menaikkan level politiknya, malah dicuekin oleh Presiden Jokowi. Entah sadar atau tidak, Presiden Jokowi seperti sedang menganggap kedatangan AHY hanyalah sebagai anak mantan Presiden dan bukan seorang tokoh politik yang pernah jadi calon Gubernur DKI.
Sebenarnya kalau saja Presiden Jokowi ikut melakukan jumpa pers berdampingan dengan AHY, maka AHY akan punya sebuh framing dan personal branding yang tinggi. Karena dengan mengadakan jumpa pers bersama tersebut AHY akan dianggap sebagai sosok penting dalam perpolitikan Indonesia.
Sayangnya, Presiden Jokowi malah menyodorkan Gibran untuk menerangkan isi pertemuan dan menyebut bahwa pertemuan hanya bicarakan hal yang santai dan supaya sesuai dengan konteksnya, maka biarlah anak-anak yang menerangkan.
“Biar anak-anak aja, biar bisa lebih santai,” kata Jokowi sebelum Gibran dan Agus menggelar jumpa pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Jleb sekali pernyataan Presiden Jokowi ini. Saya yakin kalau Presiden Jokowi bukan bermaksud merendahkan AHY, tetapi memang apa yang dilihat oleh Presiden Jokowi AHY adalah putra sulung SBY. Tidak salah pendapat Presiden Jokowi, tetapi pernyataan Presiden Jokowi ini pada akhirnya menjadi heboh.
Mengapa jadi heboh?? Karena bagi beberapa orang dan khususnya para elit Partai Demokrat, AHY digadang-gadang sebagai calon Presiden potensial 2019. Kalau melihat spanduk-spanduk yang berkaitan dengan Partai Demokrat, maka bisa kita temukan hampir selalu ada foto AHY. Padahal kalau ditelusuri, AHY ini tidak punya posisi apapun di Partai Demokrat.
Beberapa elit Partai Demokrat sempat mewacanakan pencapresan AHY ini. Salah satunya adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto. Agus mengatakan, rencana itu dipertimbangkan mengingat banyak masukan dari kader agar partai mengusung AHY sebagai capres.
“Rata-rata masyarakat Indonesia, wabil khusus kader Demokrat itu menginginkan Mas AHY itu menjadi next leader. Canangannya itu kami fokuskan di tahun 2019,” ujar Agus di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/6).
Bagaimana bisa seorang yang sudah digadang-gadang menjadi capres hanya disebut anak-anak oleh Presiden Jokowi. Mau ditaruh dimana muka para elit Partai Demokrat kalau hal ini dihebohkan?? AHY hanya dianggap anak-anak dan ditandingkan dengan Gibran yang hanya seorang pedagang martabak dan bukan seorang elit politik.
Pernyataan Presiden Jokowi, kalau dari kacamata orang netral,  sangatlah tepat. AHY memang masih pantas dikategorikan sebagai anak-anak dalam dunia perpolitikan. Anak-anak karena memang levelnya dalam politik masih sangat rendah, apalagi kepemimpinannya yang hanyalah sampai Mayor di dalam kemiliteran. Kalau ada yang menganggap AHY sudah punya kelas di politik, palingan hanya elit Partai Demokrat.
Presiden Jokowi ini memang selalu punya gaya berpolitik apa adanya dan umum-umum saja, tetapi terkadang gayanya yang seperti itu malah jadi serangan tidak terduga bagi lawan politiknya. Saya yakin, sekali lagi, tidak ada tendensi Presiden Jokowi menganggap AHY anak-anak dalam artian merendahkan. Melainkan karena memang bagi Presiden Jokowi AHY memang anak-anak dalam usia.
Meski tidak sengaja, tetap saja pernyataan ini menjadi pedih bagi para pengagum AHY dan yang menggadang-gadang dia sebagai capres. Mudah-mudahan jangan sampai karena akan hebohnya pernyataan para prajurit medsos dan tukang nyinyir dan fitnah Partai Demokrat tidak melakukan serangan kepada Jokowi. Karena kalau itu dilakukan, itu namanya sifat kekanak-kanakan.
Jadi, kalau Jokowi menyebut AHY dan Gibran anak-anak, jangan merasa pedih. Karena memang mereka adalah Anak-anak Presiden. Tidak lebih dari itu. Masih pedih juga?? Yoweslah. Namanya juga anak-anak.

Dedi Mulyadi, Islam dan Sunda

Pilkada Serentak 2018 makin dekat, akhir Juni 2018. Pemungutan suara akan dilakukan usai lebaran Idul Fitri tahun depan. Makin terasa pula, hawa dan geliat politik di berbagai daerah yang menyelenggarakan pilkada makin hangat, bahkan mulai panas. Dari sekian pilkada serentak, yang mendapat sorotan dan pemberitaan publik secara nasional adalah Pilgub, Pemilihan Gubernur. Pilbup dan pilwakot nampaknya tidak menarik diulas secara nasional, tentu saja. Beda kelas, dan beda urgensinya secara nasional.
Dari sekian pilgub, yang ramai dan banyak diangkat media (terutama online) adalah Pilgub Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu saja Jawa Barat. Ketiga pilgub di atas mendapatkan pemberitaan lebih banyak daripada pemberitaan pilgub lainnya. Terlebih Pilgub Jawa Barat. Untuk Jawa Barat, bahkan wacana, diskusi, dan manuver sudah dimulai sejak beberapa bulan silam. Salah satunya adalah berupa deklarasi Partai Nasdem yang mencalonkan Ridwan Kamil.
Sepanjang yang bisa dipantau dari media, pemberitaan tentang Pilgub Jabar lebih dominan dan terasa cukup melibatkan emosi publik secara nasional. Apa sebabnya? Kata sebagian pengamat, Pilgub Jabar akan menjadi “Perang Bintang”, karena para calon merupakan bintang-bintang yang banyak diekspos media, baik bintang dalam politik, kebudayaan, dan tentu saja bintang iklan. Dan, mengapa emosional? Itu karena bintang-bintang tersebut sebagiannya telah memiliki para pendukung yang cukup fanatik.
Di antara bintang pilgub Jabar yang banyak ditunggu-tunggu update beritanya adalah Dedi Mulyadi. Setelah mendapatkan kepastian dicalonkan oleh Partai Golkar, dan hampir pasti juga diusung oleh PDIP, langkah dan kiprah Kang Dedi makin intensif disorot. Bahkan apa yang telah ia lakukan dulu, dan apa yang telah menjadi ciri khasnya selama ini, kembali mulai diangkat, atau lebih tepatnya diungkit-ungkit. Dalam beberapa waktu ke depan, sorotan kepada Kang Dedi akan makin intensif dilakukan, terutama oleh kalangan yang sejak awal memang sudah melihatnya secara negatif dan tidak memahami narasi besar yang ia usung.
Seperti diketahui publik, Dedi Mulyadi sangat konsisten mengusung narasi budaya, yang dalam hal ini dimanifestasikan dalam bentuk budaya Sunda. Oleh kalangan tertentu, narasi Sundanya ini lalu dibelokkan menjadi isu syirik dan isu Sunda wiwitan. Dan dalam berbagai kesempatan, Kang Dedi berkali-kali menjelaskan tentang apa yang ia lakukan, dan sekaligus menjawab apa yang mereka salahpahami darinya selama ini.
Dalam sebuah kesempatan misalnya ia pernah menguraikan kaitan antara Islam dan Sunda, atau keislaman dan kesundaan. “Ada sebagian kalangan yang membenturkan antara keislaman dan kesundaan, seolah keduanya bertentangan,” katanya mengawali pembicaraan saat mengisi Ceramah Keagamaan di Masjid Ujungberung Bandung, Jumat 15 Januari 2017 yang lalu.
Pada kesempatan ini, Ki Sunda menyampaikan ceramahnya sepenuhnya dalam bahasa Sunda, dan penuh dengan uraian filosofi kesundaan yang dikaitkan dengan keislaman. Atau lebih tepatnya, Kang Dedi sedang menjelaskan Islam dengan pendekatan kesundaan.
Sejak tahun 1980-an, tema keislaman yang coba dijelaskan dalam konteks keindonesiaan pernah dengar gencar disosialiasikan oleh Cak Nur (Nurcholish Majid) yang disebut-sebut sebagai Bapak Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia. Saat itu Cak Nur mengangkat tema Keislaman dan Keindonesiaan.
Sekalipun awalnya –seperti biasa– banyak pihak yang kontra keras kepadanya, namun akhirnya gagasan Cak Nur tentang hal ini makin dimengerti dan diterima. Intinya, baik keislaman, keindonesiaan maupun kemodernan –menurut Cak Nur– bukan tema-tema yang mesti dipertentangkan dan saling menegasikan. Ketiganya justru saling menguatkan.
Kini, tema keindonesiaan kembali mencuat ke tengah publik, dan menjadi bahan perbincangan yang memicu perdebatan, sekalipun belum segempita masa Cak Nur. Kali ini keindonesiaan dihadapkan dengan tema kesundaan (sebagai bagian dari keindonesiaan).
Perbedaannya, kalau dulu wacana ini diangkat oleh sosok pemikir Muslim akademis, maka kali ini pengusungnya adalah sosok kepala daerah Muslim yang budayawan, yakni Dedi Mulyadi, bupati Purwakarta. Perbedaan lainnyaa adalah, kalau dulu Cak Nur bermain di wilayah wacana intelektual teoritis, kali ini Kang Dedi bermain di wilayah intelektual praktis yang diterjemahkan dalam kebijakan publik dan politis.
Kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama disalahpahami pada awalnya, bahkan dituduh macam-macam. Dulu Cak Nur dituruh liberal, sekarang Kang Dedi dituduh musyrik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi, intensitas penjelasan, dan kematangan nalar audiens, pelan tapi pasti gagasan keduanya makin dipahami dan diterima. Apalagi untuk konteks Kang Dedi, gagasannya itu diwujudkan dalam karya-karya nyata yang bisa terlihat dan tersentuh, lebih konkret.
Singkat cerita, waktu membuktikan, bahwa apa yang kang Dedi sampaikan itu kini makin dimengerti. Kalangan yang sebelumnya sempat menolak dan menuduhnya negatif pun sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang dimaksudkan Kang Dedi. Kecuali mereka yang memang enggan membuka akalnya untuk memahami dan mengapresiasi cara berpikir bagus dari orang lain.
Pelan tapi pasti, publik makin diyakinkan bahwa Islam dan Sunda itu bukan dua entitas yang pantas dihadap-hadapkan, keduanya justru tidak berlawanan bahkan satu kesatuan. Melalui ceramah-ceramahnya, Kang Dedi mampu menjelaskan hal ini dengan sangat baik dan mudah dipahami, bahkan oleh kalangan awam sekalipun. Misalnya, dalam penjelasannya tentang makna puasa, tentang kematian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, ia mampu menguraikan panjang lebar dengan pendekatan filosofi dan budaya Sunda.
Secara psikologis-internal, ia sangat meyakini bahwa Islam dan Sudan itu tidak bisa dipisahkan. Dan secara sosial-eksternal ia meyakinkan hal ini kepada masyarakat melalui kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik. Dan publik kini mengakuinya…*

Fahri Hamzah Menyebut Perawatan Novel Dibiayai Asing, KPK Bilang: Jangan Percaya Berita Bohong

Tanggal 11 April 2017 menjadi hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Novel Baswedan. Di pagi hari usai menjalankan Sholat Subuh, ia diserang oleh pecundang dengan cara menyiramkan air keras di wajahnya.

Ketika mendengar berita bahwa Novel Baswedan diserang seseorang tidak dikenal itu, saya marah. Saya yakin bukan hanya saya yang marah dengan peristiwa itu. Warga negara Indonesia yang waras dan ikut terlibat dalam perjuangan melawan korupsi pasti marah mendengar berita itu.
Penyerangan terhadap Novel Baswedan bisa dipastikan sangat terkait dengan perofesinya. Berbagai indikasi menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Novel Baswedan yang dikenal kritis dan hebat dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Karena kehebatannya itulah banyak koruptor dibuat kejang-kejang olehnya.
Dalam kasus pengusutan korupsi E-KTP, Novel menjadi Kepala Satuan Tugas. Menangani kasus ini bukan hal yang mudah sebab selain besarnya jumlah uang yang dicuri koruptor, dalam kasus ini terdapat jalinan yang sangat ruwet. Salah satu keruwetannya adalah orang-orang di senayan yang tidak suka jika kasus ini dibuka. Tentu seworders paham dari kasus inilah DPR membuat Pansus untuk mengusut KPK, eh tepatnya untuk melemahkan KPK.
Serangan pengecut dengan cara menyiramkan air keras di wajah Novel adalah tindakan sadis, biadab dan tidak bisa ditolerir. Dampak penyerangan air keras yang dialami Novel mengakibatkan 95 persen kulit, bahkan sampai 97 persen mata kirinya terbakar. Sementara mata kanannya mengalami kerusakan sekitar 60 persen.  Akibatnya Novel harus dibawa ke Singapura untuk menjalani perawatan.  Mengapa harus ke Singapura? Novel harus menjalani perawatan di sana supaya mendapat perawatan dan terapi yang lebih intensif akibat keparahan sakitnya.
Sayang, pengobatan Novel ke luar negeri dengan tujuan pemulihan yang lebih cepat tidak mendapat dukungan yang positif dari banyak orang. Salah satunya adalah Fahri Hamzah.  Sebagai wakil ketua DPR yang mestinya mencerahkan, ia justru memperkeruh suasana dengan menuduh bahwa pembiayaan pengobatan Novel dibiayai oleh negara asing. Apakah Fahri memiliki bukti bahwa pembiayaan pengobatan terhadap Novel dari luar negeri?
KPK mengatakan tidak!
Komisi Pemberantasan Korupsi membantah pernyataan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah.Febri Diansyah menegaskan bahwa sejak awal KPK sudah memberikan informasi yang jelas tentang mekanisme biaya perawatan Novel Baswedan. Semua pembiayaan pengobatan adalah dari keuangan negara. Bahkan untuk mekanisme itu KPK juga berkoordinasi dengan presiden. Johan Budi yang pernah bekerjasama dengan Novel saat di KPK dan sekarang menjadi staf khusus Presiden bidang komunikasi mengatakan bahwa Presiden Jokowi telah memutuskan untuk membiayai pengobatan dan perawatan penyidik KPK Novel Baswedan.
KPK perlu memberikan penjelasan pada masyarakat tentang mekaniske pengobatan Novel pada masyarakat untuk mengkliarifikasi pernyataan Fahri yang berpotensi memperkeruh suasana. Potensi itu sangat mungkin karena kapasitas Fahri Hamzah yang saat ini duduk sebagai wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Supaya masyarakat dapat berpikir jernih dan tidak terprovokasi, Diansyah selaku unsur KPK menganjurkan pada semua pihak agar sebaiknya menahan diri menyampaikan informasi yang keliru dan bohong karena itu bisa menjadi fitnah pada pihak lain.
Apa respons Anda saat mendengar tuturan Diansyah? Respons saya yang pertama tentu adalah menyayangkan sikap curiga dari Fahri Hamzah. Jika staf khusus presiden dan KPK sudah menjelaskan bahwa pengobatan Novel murni biaya negara, mengapa masih tidak percaya? Jika masih tidak percaya pada sumber resmi dari negara, apakah Fahri lebih percaya pada hoax? Memang kalangan tertentu senang dengan hoax sebab hoax terkadang lebih memuaskan hati ketimbang kebenaran.
Selain menyayangkan sikap curiga, saya juga menilai Fahri sudah kehilangan empati terhadap Novel Baswedan.
Secara mudah, empati diartikan sebagai rasa iba dan turut merasakan apa yang dialami oleh Novel yang benar-benar mengalami kesakitan akibat luka di wajahnya. Hilangnya rasa empati ditandai dengan sikap nyinyir terhadap mekanisme pengobatan pada Novel.
Ingat, Novel butuh pemulihan. Bukan hanya dia yang ingin Novel pulih. Keluarga, bahkan warga negara Indonesia sangat mengharap Novel Baswedan segera pulih.
Matinya empati sebenarnya merupakan bentuk ketidakberpihakan pada korban, selain itu hilangnya empati merupakan tindakan abai terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ah ngeri rasanya melihat orang-orang yang kehilangan empati.

Selamat jalan DL Sitorus, RIP

Agak kaget saya dan mungkin anda membaca berita konglomerat DL Sitorus menghembuskan nafas terakhirnya. Sitorus meninggal di kursi pesawat Garuda GA 188 saat boarding di Medan dari Jakarta tadi siang.
Darianus Lungguk Sitorus yang saya ingat dan laporan foto-foto media  selalu menjaga kebugaran dan tubuh yang proporsional.
Pertama kali melihat sosoknya yang tinggi dan proposional pada awal tahun 1980an. Saat itu Pak De eL, begitu biasa dipanggil, mau memberi modal pembangunan Gereja HKBP Tanjung Priok sekitar ratusan juta rupiah. Jumlah yang sangat besar saat itu.
Kenyataannya, lelaki Batak itu mau memodali tanpa jaminan apapun, sehingga jemaat HKBP Tanjung Priok yang umumnya hidup pas-pas-an,  bisa mencicil biaya sampai belasan tahun.
De eL merupakan satu pengusaha Batak yang sukses dan punya komitmen sosial yang tinggi.  Konon De eL memiliki ikatan batin dengan Gereja HKBP Tanjung Priok karena saat masih remaja ia sempat bekerja sebagai buruh di pelabuhan Tanjung Priok.
Karena itulah ia sempat berkaul, jika mendapat rejeki, ia akan membangun gereja yang tadinya cuma numpang di gereja lain di gang sempit gang Forth / Ford  menjadi bangunan gedung yang layak.
Bukan cuma layak, dari bangunan gereja 100 meter persegi, jemaat HKBP Tanjung Priok di bawah pimpinan Voorhanger St HP Sihombing bisa pindah ke Jl Swasembada Timur. Gedung gereja megah berdiri di  tanah sekitar 1000 meter persegi sehingga bisa menampung ribuan keluarga Batak Kristen jemaatnya.
Sejak dibangun tahun 1980an sampai  kini, Gereja HKBP Tanjung Priok termasuk gedung gereja terbesar di DKI Jakarta dan di Indonesia.
Jasa DL Sitorus bukan cuma dirasakan komunitas Batak di ibukota. Di kampung halamannya, penghargaan pada Sitorus dibuat menjadi nama jalan.
Peresmian DL Sitorus menjadi nama jalan terpanjang di Toba Samosir yang meliputi dua kecamatan, Lumbanjulu dan Ajibata, dilakukan Bupati  Monang Sitorus  dan Ketua DPRD Toba Samosir, pada 21 Maret 2009.
Kasus Hukum DL Sitorus
Selain dikenal dermawan, De eL juga “berani” menjalani bisnis kebon kelapa sawit. Tak heran ayah 5 anak itu menguasai ribuan bahkan puluhan ribu hektare tanah yang diubah jadi kebon sawit di sepanjang pulau Sumatera.
Karena sepak terjang berani itu, maka DL Sitorus sempat divonis bersalah dalam kasus perambahan hutan register 40 di Tapanuli Selatan.tahun 2004. Sebelumnya juga ia pernah dituduh bisnis illegal logging.
Kasus tahun 2004 itu bermula saat PT Torganda, core-business Sitorus mengonversi 72.000 hektare (dari 172.000 hektar) hutan di Register 40 menjadi perkebunan sawit, di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Tapanuli Selatan. Konversi hutan menjadi perkebunan sawit itulah yang menjebloskan DL Sitorus ke balik jeruji besi selama 8 tahun. 
Setelah menjalani hukuman,  DL lebih banyak mengabdikan diri ke dunia pendidikan SD SMP SMA SMK bahkan LPK dan universitas. Sitorus juga memiliki yayasan pendidikan termasuk Universitas Satya Negara di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.
Konglomerat ini juga banyak membantu komunitas Batak dengan menyewakan tempat pesta Batak yang bernama Rumah Gorga. Adalah bergengsi bagi komunitas Batak di Jakarta dan Bekasi bila mampu mengadakan pesta perkawinan di satu dari enam Rumah Gorga yang megah dan bernuansa etnik Batak Toba yang indah.
Ia juga memiliki BPR yang melayani banyak keluarga Batak di seluruh Jawa dan Sumatera. Konon bisnisnya yang moncer itu ditangani oleh anak-anaknya dengan baik.
RIP Ompung De eL Sitorus, 1938 – 2017.

Breaking News!! DL Sitorus ‘Si Raja Perkebunan’ Dikabarkan Meninggal Dunia di Pesawat

Kroniknews.com – Pengusaha asal Sumatera Utara Darius Lungguk (DL) Sitorus dikabarkan meninggal dunia di dalam pesawat, Kamis (3/8/2017).
Info yang dihimpun Tribun-medan.com, DL Sitorus diketahui meninggal di dalam Pesawat Garuda Indonesia GA 188 tujuan Jakarta-Medan sesaat sebelum pesawat take off.
Karena peristiwa ini, pesawat yang seharusnya berangkat pukul 13.35 WIB tertunda keberangkatanya.
Anak DL Sitorus, Sihar Sitorus mengaku belum mengetahui prihal kematian ayahnya.
“Saya masih di pesawat belum tahu kepastiannya,” kata Sihar melalui whatsapp.
Dari pesan berantai Whatsapp tersebar foto meninggalkan DL Sitorus saat masih di dalam pesawat. Berikut fotonya:
DL Sitorus meninggal di Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 188.
Karena peristiwa ini, pesawat yang seharusnya berangkat pukul 13.35 WIB menjadi tertunda keberangkatanya.
Berita dukacita ini disampaikan oleh anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan kepada awak media ini sekira pukul 15.15 WIB.
“DL Sitorus meninggal dunia di pesawat GA 188 setelah boarding,” katanya melalui pesan singkat.
Pengusaha Sukses
Darianus Lungguk (DL) Sitorus adalah seorang pengusaha sukses asal Sumatera Utara. Beliau dijuluki Si Raja Perkebunan asal Sumut.
Selain memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas puluhan ribu hektare, DL Sitorus juga memiliki yayasan pendidikan.
Konglomerat ini juga dikabarkan memiliki gedung-gedung –untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan suku Batak– yang diberi nama “Rumah Gorga” dan tersebar di Jakarta dan Bekasi.
DL Sitorus dilahirkan di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Toba Samosir, Sumut. Dia kemudian pindah dan besar di Siantar. DL Sitorus menikah dengan Boru Siagian, dan dikaruniai 5 orang anak, 2 perempuan dan 3 laki-laki.
Sebagai putra daerah yang disebut-sebut paling sukses di perantauan (luar Sumut) dan selalu memberikan perhatian untuk membangun kampung halaman (Bona Pasogit), nama DL Sitorus diabadikan menjadi nama suatu jalan di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
Bupati Toba Samosir, Sumatera Utara, Drs Monang Sitorus SH MBA meresmikan nama Jalan DR Sutan Raja DL Sitorus, sekitar 12 km, mulai dari simpang Sibisa di Aek Natolu
Kecamatan Lumban Julu sampai simpang Kantor Kelurahan Parsaoran Ajibata melintasi Sibisa, Bandara Sibisa, Simarata dan Motung Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, Sumut.
Kini, nama DL Sitorus menjadi perbincangan publik. Pasalnya, seorang anaknya yang bernama Sabar Ganda Leo, yang sehari-hari memegang kendali di PT Sabar Ganda (perusahaan yang terlibat sengketa tanah seluas 9,9 hektare di Cengkareng, Jakarta Barat).
Sengketa inilah yang membuat pengacara PT Sabar Ganda bernama Adner Sirait diduga menyuap hakim Ibrahim –hakim PT Tata Usaha Negara (TUN)– sebesar Rp 300 juta di Cempaka Putih. Ibrahim adalah hakim yang menangani sengketa tanah antara PT Sabar Ganda melawan Pemprov DKI.
Kasus hukum yang menyeret pengusaha yang diberi gelar “Raja Kebun” ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebel.umnya, tahun 2004, DL Sitorus pernah mendekam di hotel prodeo dalam kasus perambahan hutan register 40 di Tapanuli Selatan.
Kasus ini bermula saat perusahaa milik DL Sitorus, PT Torganda mengonversi 72.000 hektare (dari 172.000 hektar) hutan di Register 40 menjadi perkebunan sawit, di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. PT Torganda mempekerjakan lebih dari 15.000 karyawan.
Itu belum termasuk pekerja yang bekerja di perkebunan lain dan perusahaan keluarganya yang lain. Grup Torganda ini juga diduga memiliki 33 bank perkreditan rakyat (BPR).
Konversi hutan menjadi perkebunan sawit itulah yang menjebloskan DL Sitorus ke balik jeruji besi selama 8 tahun. Ia ditangkap pada 30 Agustus di Pematang Siantar dan dibawa ke Medan. Kejaksaan Agung menuduh DL Sitorus melakukan tindak pidana korupsi. Selain itu, ia juga dituduh melakukan penebangan liar.
Kesuksesan DL Sitorus di bisnis kelapa sawit ternyata membawanya ke panggung politik. Pada 20 Januari 2006, DL Sitorus mendeklarasikan Partai Peduli Rakyat Nasional, dimana dia menjadi tokoh utama pendiri partai ini.
Di dunia pendidikan, DL Sitorus yang memiliki perhatian lebih di dunia pendidikan menjabat sebagai Ketua Yayasan Abdi Karya (YADIKA) yang berdiri sejak tahun 1976.
YADIKA secara bertahap telah menyelenggarakan semua strata pendidikan tingkat TK, SD, SMP, SMU, SMEA, STM, LPK dan BLK.
Tahun 1989 DL Sitorus semakin menancapkan bisnisnya di dunia pendidikan dengan mendirikan Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta

Mafia Bisnis dan Curut Politik Dibalik Isu Ekonomi Indonesia Lesu

Banyak politisi dan pengusaha yang teriak-teriak ekonomi Indonesia sedang lesu. Joko Widodo pun kembali dikuyo-kuyo seolah gagal menumbuhkan sektor perekonomia. Sepinya Glodok dan beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dijadikan contoh. Betulkah kejadiannya seperti itu?

Saya menemukan sebuah infografis yang dibuat oleh detik, namun sepertinya hasil ini tidak mutlak. Sebab dalam salah satu artikel mereka yang lain disebutkan bahwa  penjualan bersih Indomaret masih naik 8,8% dari periode yang sama semester I tahun lalu Rp 29,12 triliun menjadi Rp 31,69 triliun. Namun dalam laporan keuangan sang induk, penghasilan komprehensif Indomaret yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun jauh 81,8% dari Rp 239,4 miliar menjadi Rp 43,53 miliar. Itu artinya tidak selaras dengan kenaikan penjualan bersih Indomaret. Tapi bisa jadi banyak faktor yang melatari terjadinya hal ini, bisa jadi beban perusahaan juga bertambah karena (mungkin) ada kenaikan gaji karyawan misalnya.
Beberapa poin yang dijadikan acuan di infografis itu juga ada yang membuat saya menaikkan alis. Misalnya saja penjualan ritel menurun. Data ini saya asumsikan berasal dari peritel besar yang volume penjualannya lebih mudah didata.
Saya kurang setuju. Buat saya ekonomi bukan lesu, melainkan ada pergeseran pola konsumsi dan jenis serta cara berusaha. Saya pernah mendengarkan saat Rhenald Kasali on air di salah satu radio swasta dan saya kira apa yang beliau sampaikan benar dan mewakili pergerakan usaha saat ini. Stay relevant adalah kunci yang harus dijalankan siapapun yang ingin tetap survive di dunia bisnis saat ini.
“Ada shifting dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini bukan mengakibatkan tumbuhnya infrastruktur baru, tetapi pemerataan ekonomi di masyarakat,”
Ini salah satunya berkaitan dengan sektor ritel pakaian tadi. Saat ini untuk belanja baju, jilbab, celana, kaos, dll kita tidak harus pergi ke mall atau department store. Dan ini yang melakukan bukan cuma Gen Z ataupun Gen Y yang masih belia dan kata Presiden Jokowi akan mengubah landscape politik maupun ekonomi 5-10 tahun ke depan. Mama saya pun yang sudah setengah abad usianya juga keranjingan belanja online. Jilbab sampai innernya 95 persen didapat dari hasil ubek-ubek shopee, instagram, facebook, bahkan lazada. Sangat jarang Beliau pergi ke mall untuk membeli itu.
Dan kalau Anda mengikuti berbagai online shop di Instagram pasti membuat cukup terkejut. Seorang seller bisa membuka order ribuan jilbab dan ludes hanya dalam waktu satu jam. Selain barang-barangnya lebih variatif, punya keleluasaan memilih, harga yang ditawarkan online cukup kompetitif tinggal kita sebagai customer pintar memilih online shop yang reputasinya oke saja.
Saya sendiri sangat tergantung online untuk membeli produk seperti kosmetik ataupun skincare. Selain harganya lebih irit (bayangkan body lotion yang di outlet harganya 490 ribu bisa saya dapatkan cukup dengan 360 ribu di online, original pun!), banyak produk yang tidak ada outletnya di sini maupun kalau ada outletnya tapi tidak lengkap bisa saya temukan di seller-seller online. Dan saya bisa mengecek mana penjual dengan harga murah tapi trusted dengan mudah. Sekedar beli shampoo saja juga saya sering beli online karena tergiur promo buy one get one misalnya.
Kenapa pedagang di Glodok yang hanya punya toko offline sepi? Ya karena mereka nggak jemput bola dengan juga mencoba berjualan online. Saat ini masyarakat tidak perlu datang ke pusat elektronik hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan. Mereka tinggal googling, cek review, cari toko yang trusted dan harganya oke, kemudian melakukan transaksi dan tinggal tunggu barangnya datang. Lumayan kan waktu atau uang yang harus dikeluarkan untuk menuju tempat toko tersebut bisa dihemat.
Orang pun sekarang nggak harus punya kantor ataupun toko untuk mau mulai berbisnis. Anda bisa cari uang dari rumah di lapak digital. Kalau butuh bertemu klien bisa dilakukan di restaurant atau coffee shop. Dan yang sekarang sedang mulai naik daun adalah munculnya co-working space. Dengan konsep ini Anda jauh lebih efisien dalam mengurangi biaya perusahaan untuk utilitas kantor, pemeliharaan gedung, dll. Tak sedikit pula pekerjaan masa kini yang bisa dikerjakan secara remote. Klien dengan penyedia jasa maupun antar teman kantor cukup berkomunikasi via video call, chat, email, telepon, dll.
Dan usaha orang-orang sekarang makin kreatif. Jualan kopi susu, catering diet, tanaman, jajanan, dll bisa dijadikan sumber penghidupan. Menjamurnya sosial media juga mempermudah mereka berpromosi dan in touch dengan konsumen. Gaya berpromosi mereka pun tidak kaku, cocok dengan mayoritas pengguna media sosial saat ini. Rugi para pengusaha besar yang membayar tim marketing dan PR mereka kalau tidak bisa mengimbangi ini.
Hal-hal seperti ini sepertinya agak susah dikejar oleh mafia-mafia bisnis besar yang selama ini bahagia karena merasa sebagai satu-satunya jujugan konsumen. Sekarang pesaing mereka bukan sesama kapitalis bermodal besar tapi justru masyarakat yang mulai bergerak dengan modal yang mereka miliki yang juga menyasar mereka yang dulunya adalah konsumen bisnis besar itu. Mereka mengeluh dengan menciptakan opini seolah ekonomi RI melemah. Dan ini juga dimanfaatkan curut-curut politik yang ingin menjatuhkan Jokowi.
Kalau mau melihat ekonomi lesu atau tidak jangan lihat yang ada di pusat perbelanjaan atau mall. Coba sekarang eranya mulai tengok ke agen-agen ekspedisi seperti JNE, J&T, Sicepat, dll. Anda akan melihat tumpukan barang siap kirim yang mayoritas adalah kiriman dari online shop ke para pembelinya. Atau lihatlah abang-abang Go Food dan Go Send yang setiap hari riwa riwi mengantarkan pesanan.
Sekarang ini yang terjadi bukan hanya perputaran uang tapi juga perpindahan uang. Lihat saja Blue Bird mengeluh omzetnya turun, tapi di satu sisi jumlah penumpang angkutan online nambah sebab memang pangsa pasarnya besar. Orang tertarik dengan harga murah dan kemudahan akses. So, kalau pengusaha besar ingin tetap bisa bersaing dengan sehat dan jadi pilihan konsumen, stay relevantlah dengan perkembangan jaman.

Prabowo - SBY Bertemu, PAN Klaim Dukung Pemerintah Sampai 2019

Liputan6.com, Jakarta - Partai Amanat Nasional (PAN) optimistis kesepakatan antara Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Puri Cikeas tidak akan mempengaruhi sikapnya. Oleh karena itu, PAN tidak terlalu ambil pusing soal pertemuan kedua tokoh tersebut.
"Enggak ada hubungannya dengan PAN pertemuan tersebut," ucap Sekjen PAN Eddy Soeparno kepada Liputan6.com, Jakarta, Kamis 27 Juli 2017.

Dia menegaskan partai berlambang matahari itu tetap berkomitmen mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hingga 2019.

"Kita memiliki komitmen mendukung pemerintah sampai dengan 2019," tegas Eddy.
Sebelumnya, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto melawat ke kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Keduanya membicarakan kondisi politik saat ini. Salah satunya terkait UU Pemilu yang baru disahkan.

Keduanya sepakat untuk mengkritisi pemerintah. Terutama terkait presidential trashold atau ambang batas pencalonan Presiden sebesar 20 persen.

SBY - Prabowo pun bersyukur atas sikap PAN dan PKS yang sejalan dalam menolak UU Pemilu.