Mafia Bisnis dan Curut Politik Dibalik Isu Ekonomi Indonesia Lesu
Banyak politisi dan pengusaha yang teriak-teriak ekonomi Indonesia sedang lesu. Joko Widodo pun kembali dikuyo-kuyo seolah gagal menumbuhkan sektor perekonomia. Sepinya Glodok dan beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dijadikan contoh. Betulkah kejadiannya seperti itu?
Saya menemukan sebuah infografis yang dibuat oleh detik, namun sepertinya hasil ini tidak mutlak. Sebab dalam salah satu artikel mereka yang lain disebutkan bahwa penjualan bersih Indomaret masih naik 8,8% dari periode yang sama semester I tahun lalu Rp 29,12 triliun menjadi Rp 31,69 triliun. Namun dalam laporan keuangan sang induk, penghasilan komprehensif Indomaret yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun jauh 81,8% dari Rp 239,4 miliar menjadi Rp 43,53 miliar. Itu artinya tidak selaras dengan kenaikan penjualan bersih Indomaret. Tapi bisa jadi banyak faktor yang melatari terjadinya hal ini, bisa jadi beban perusahaan juga bertambah karena (mungkin) ada kenaikan gaji karyawan misalnya.
Beberapa poin yang dijadikan acuan di infografis itu juga ada yang membuat saya menaikkan alis. Misalnya saja penjualan ritel menurun. Data ini saya asumsikan berasal dari peritel besar yang volume penjualannya lebih mudah didata.
Saya kurang setuju. Buat saya ekonomi bukan lesu, melainkan ada pergeseran pola konsumsi dan jenis serta cara berusaha. Saya pernah mendengarkan saat Rhenald Kasali on air di salah satu radio swasta dan saya kira apa yang beliau sampaikan benar dan mewakili pergerakan usaha saat ini. Stay relevant adalah kunci yang harus dijalankan siapapun yang ingin tetap survive di dunia bisnis saat ini.
“Ada shifting dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini bukan mengakibatkan tumbuhnya infrastruktur baru, tetapi pemerataan ekonomi di masyarakat,”
Ini salah satunya berkaitan dengan sektor ritel pakaian tadi. Saat ini untuk belanja baju, jilbab, celana, kaos, dll kita tidak harus pergi ke mall atau department store. Dan ini yang melakukan bukan cuma Gen Z ataupun Gen Y yang masih belia dan kata Presiden Jokowi akan mengubah landscape politik maupun ekonomi 5-10 tahun ke depan. Mama saya pun yang sudah setengah abad usianya juga keranjingan belanja online. Jilbab sampai innernya 95 persen didapat dari hasil ubek-ubek shopee, instagram, facebook, bahkan lazada. Sangat jarang Beliau pergi ke mall untuk membeli itu.
Dan kalau Anda mengikuti berbagai online shop di Instagram pasti membuat cukup terkejut. Seorang seller bisa membuka order ribuan jilbab dan ludes hanya dalam waktu satu jam. Selain barang-barangnya lebih variatif, punya keleluasaan memilih, harga yang ditawarkan online cukup kompetitif tinggal kita sebagai customer pintar memilih online shop yang reputasinya oke saja.
Saya sendiri sangat tergantung online untuk membeli produk seperti kosmetik ataupun skincare. Selain harganya lebih irit (bayangkan body lotion yang di outlet harganya 490 ribu bisa saya dapatkan cukup dengan 360 ribu di online, original pun!), banyak produk yang tidak ada outletnya di sini maupun kalau ada outletnya tapi tidak lengkap bisa saya temukan di seller-seller online. Dan saya bisa mengecek mana penjual dengan harga murah tapi trusted dengan mudah. Sekedar beli shampoo saja juga saya sering beli online karena tergiur promo buy one get one misalnya.
Kenapa pedagang di Glodok yang hanya punya toko offline sepi? Ya karena mereka nggak jemput bola dengan juga mencoba berjualan online. Saat ini masyarakat tidak perlu datang ke pusat elektronik hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan. Mereka tinggal googling, cek review, cari toko yang trusted dan harganya oke, kemudian melakukan transaksi dan tinggal tunggu barangnya datang. Lumayan kan waktu atau uang yang harus dikeluarkan untuk menuju tempat toko tersebut bisa dihemat.
Orang pun sekarang nggak harus punya kantor ataupun toko untuk mau mulai berbisnis. Anda bisa cari uang dari rumah di lapak digital. Kalau butuh bertemu klien bisa dilakukan di restaurant atau coffee shop. Dan yang sekarang sedang mulai naik daun adalah munculnya co-working space. Dengan konsep ini Anda jauh lebih efisien dalam mengurangi biaya perusahaan untuk utilitas kantor, pemeliharaan gedung, dll. Tak sedikit pula pekerjaan masa kini yang bisa dikerjakan secara remote. Klien dengan penyedia jasa maupun antar teman kantor cukup berkomunikasi via video call, chat, email, telepon, dll.
Dan usaha orang-orang sekarang makin kreatif. Jualan kopi susu, catering diet, tanaman, jajanan, dll bisa dijadikan sumber penghidupan. Menjamurnya sosial media juga mempermudah mereka berpromosi dan in touch dengan konsumen. Gaya berpromosi mereka pun tidak kaku, cocok dengan mayoritas pengguna media sosial saat ini. Rugi para pengusaha besar yang membayar tim marketing dan PR mereka kalau tidak bisa mengimbangi ini.
Hal-hal seperti ini sepertinya agak susah dikejar oleh mafia-mafia bisnis besar yang selama ini bahagia karena merasa sebagai satu-satunya jujugan konsumen. Sekarang pesaing mereka bukan sesama kapitalis bermodal besar tapi justru masyarakat yang mulai bergerak dengan modal yang mereka miliki yang juga menyasar mereka yang dulunya adalah konsumen bisnis besar itu. Mereka mengeluh dengan menciptakan opini seolah ekonomi RI melemah. Dan ini juga dimanfaatkan curut-curut politik yang ingin menjatuhkan Jokowi.
Kalau mau melihat ekonomi lesu atau tidak jangan lihat yang ada di pusat perbelanjaan atau mall. Coba sekarang eranya mulai tengok ke agen-agen ekspedisi seperti JNE, J&T, Sicepat, dll. Anda akan melihat tumpukan barang siap kirim yang mayoritas adalah kiriman dari online shop ke para pembelinya. Atau lihatlah abang-abang Go Food dan Go Send yang setiap hari riwa riwi mengantarkan pesanan.
Sekarang ini yang terjadi bukan hanya perputaran uang tapi juga perpindahan uang. Lihat saja Blue Bird mengeluh omzetnya turun, tapi di satu sisi jumlah penumpang angkutan online nambah sebab memang pangsa pasarnya besar. Orang tertarik dengan harga murah dan kemudahan akses. So, kalau pengusaha besar ingin tetap bisa bersaing dengan sehat dan jadi pilihan konsumen, stay relevantlah dengan perkembangan jaman.
