Subscribe Us

Ada Kerabat Jusuf Kalla di Balik Kemenangan Anies-Sandi

Ada Kerabat Jusuf Kalla di Balik Kemenangan Anies-Sandi


Koran Sulindo – Meski belum resmi diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menurut banyak survei akan menjadi gubernur baru Jakarta, menggantikan Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Syaiful Hidayat. Tak mengherankan jika kubu Anies Baswedan-Sandiaga Uno juga merasa yakin atas kemenangan tersebut.

Bahkan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sebagai ketua partai pendukung utama, juga telah memperkenalkan sejumlah tokoh dan pihak yang dinilai berperan banyak dalam kesuksesan itu. Satu di antaranya yang diperkenalkan secara khusus adalah pengusaha Erwin Aksa. “Kalau enggak ada dia, repot kita,” kata Prabowo di kediaman pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu petang kemarin (19/4).

Prabowo benar. Erwin Aksa memang memiliki peran besar dalam upaya mengusung pasangan itu sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Dialah yang diutus oleh untuk menemui Anies, yang kala itu sedang dirawat di rumah sakit karena terserang demam berdarah. Dalam kesempatan itu, Erwin menyampaikan pesan bahwa sejumlah tokoh nasional menginginkan Anies maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta yang akan diusung Partai Gerindra dan koalisinya. Kesepakatan pun terjadi dan sejarah menulis Anies dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan besar akan menduduki kursi nomor satu di Balai Kota Jakarta.

Erwin Aksa adalah keponakan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dia putra dari pengusaha Aksa Mahmud, pendiri Bosowa Corp, yang bergerak di bidang otomotif, semen, logistik dan transportasi, pertambangan, properti, jasa keuangan, infrastruktur, energi, media, dan berbagai bisnis lain. Aksa Mahmud juga memiliki saham besar di PT Bank Bukopin Tbk, dan PT Bank QNB Kesawan Tbk. Itu sebabnya, majalah Forbes memasukkan Aksa Mahmud ke dalam daftar orang terkaya.

Aksa Mahmud adalah ipar dari Jusuf Kalla. Istri Aksa, Ramlah Kalla, adalah adik kandung Jusuf Kalla.

Dengan pernyataan Prabowo terhadap Erwin Aksa dan bagaimana pertalian darahnya yang sangat dekat dengan Jusuf Kalla, banyak yang pihak berspekulasi bahwa Jusuf Kalla juga berperan besar dalam kemenangan Anies-Sandiaga. Namun, kebenaran spekulasi tersebut berlum dikonfirmasi ke Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla sendiri pernah memuji Anies dalam Peringatan 50 Tahun Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Jakarta, 28 September 2016 lalu. Menurut Jusuf Kalla, Anies Baswedan merupakan sosok pemain single, yang tidak mengandalkan kelompok apa pun, termasuk KAHMI. Bahkan, dalam kesempatan itu juga ia juga mendoakan Anies dan Sylviana Murini—yang merupakan alumni HMI—salah satunya mendapatkan kemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Setelah melakukan pencoblosan pada Rabu kemarin, Jusuf Kalla juga mengatakan dirinya yakin pilkada DKI Jakarta berlangsung jujur, tanpa kecurangan. “Saya yakin aman semua. Kedua, yakin semuanya jujur, adil, dan terbuka,” tuturnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Namun, ketika ditanya, kira-kira pasangan mana yang menang, dirinya menyatakan tak mau berandai-andai. Ia hanya menyatakan, siapa pun yang menang nanti adalah pilihan terbaik rakyat. “Pilkada tergantung pilihan masyarakat yang terbanyak, kita tunggu saja,” ujarnya.

Jusuf Kalla memang politisi matang. Dia dua kali menjadi wakil presiden untuk dua presiden yang berbeda. Yang pertama adalah menjadi wakil presiden untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, banyak media mengatakan Jusuf Kalla telah menjadi “matahari kembar” di pucuk kepemimpinan Republik Indonesia.

Mungkin karena itu pula politisi senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait, sempat tidak setuju jika partainya berkoalisi dengan Partai Golkar yang memajukan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden. “Saya bilang, kalau PDIP berkoalisi dengan Golkar, kemungkinan saya mengundurkan diri,” kata Sabam, 19 Mei 2014. Menurut dia, alasannya bersfiat kesejarahan. “Saya pendiri PDI yang masih hidup. PDIP didirikan Mega itu kelanjutan PDI. Saya berpendapat mengenai tidak koalisi dengan Golkar,” tuturnya. [KAR]


Sumber : http://koransulindo.com/ada-jusuf-ka...n-anies-sandi/

Fahri Hamzah: Hasil Pilkada Jangan Jadi Alat Negosiasi Hukum

VIVA.co.id – Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, meminta pada aparat penegak hukum agar tidak memanfaatkan hasil pilkada DKI Jakarta sebagai alat negosiasi kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
"Penegak hukum tetap harus profesional. Jangan sampai ada pandangan hasil pilkada selesai kita jadikan alat negosiasi," kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 20 April 2017.
Fahri mengatakan, tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap Ahok terlalu rendah menurut sebagian orang. Ia berharap hal itu tidak akan menimbulkan gejolak politik.
"Jangan penegak hukum mengikuti irama politik, itu nanti menimbulkan ketidakpastian selanjutnya," ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia akan terus 'digergaji' prestasinya selama ada ketidakpastian hukum. Tak hanya itu, pasar juga tidak akan mau melakukan kegiatan usaha dan kegiatan produktifnya secara baik.
"Karena itulah yang harus utamanya melakukan introspeksi dari seluruh peristiwa ini adalah penegak hukum. Penegak hukum lah yang harus menyadari betul bahwa semua pergolakan ini, baik yang terkait langsung dengan Pilkada atau pun persidangan kasus penistaan agama, awalnya adalah tentang kepastian hukum," kata Fahri.
Menurutnya, akibat ketidakpastian hukum, sebagian dari indikator ekonomi baik yang makro maupun yang mikro sudah terkena efek, termasuk melambatnya pertumbuhan ekonomi. (mus)

Anies-Sandi Menang dari Ahok-Djarot


SIB/ANT/DEDI WIJAYA
ANIES - SANDI: Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (ketiga kanan), Presiden PKS Sohibul Iman (kedua kanan), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kanan), Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (ketiga kiri) dan pasangan calon Gubernur dan Wagub DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kiri) dan Sandiaga Uno (kiri) mengangkat tangan bersama usai memberikan keterangan pers menanggapi hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Jakarta, Rabu (19/4).
Jakarta  (SIB)- Sejumlah lembaga survei melakukan hitung cepat (quick count) Pilgub DKI putaran kedua, Rabu (19/4). Dari tiga lembaga survei, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul versi hitung cepat.

Sementara itu, pasangan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berada di bawahnya. Hasil pemungutan suara kali ini menjadi penentu siapa pasangan yang terpilih menjadi pemimpin di DKI untuk 5 tahun ke depan.

Berikut ini hasil dari tiga lembaga yang melakukan quick count:
Lingkaran Survei Indonesia: Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 44,59%, Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 55,41%, data masuk: 99,71%.

SMRC: Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 41,94%, Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 58,06%, data masuk: 99,75%.

Polmark Indonesia: Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,47%, Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 57,53%, data masuk: 99,75%.

Menanggapi hasil hitung cepat, Anies Baswedan mengaku tidak mau mendahului takdir meski sejumlah quick count lembaga survei menempatkan namanya bersama Sandiaga Uno sebagai pasangan pemenang Pilkada DKI 2017. 

"Hasil akhir masih kita tunggu," ujar Anies Baswedan saat menggelar konferensi pers di Rumah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Jalan Kartanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anies menyatakan, perjuangan masih panjang. Iktiar bukan hanya dilakukan di Pilkada DKI, melainkan membawa Jakarta menuju sejahtera. Pihaknya akan konsisten wujudkan keadilan sosial untuk warga Jakarta.

"Komitmen kita adalah terus menjaga kebinekaan dan persatuan bangsa," ujar dia.

Di pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh partai pendukung Anies - Sandi tersebut, mantan Mendikbud itu menyatakan akan terus bekerja sama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat ke depannya.

"Pak Basuki, Pak Djarot, putra terbaik bangsa. Kita akan terus bersahabat," ucap Anies.

KEMENANGAN RAKYAT JAKARTA
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada Anies dan Sandi. Menurut Prabowo, keunggulan Anies-Sandi di Pilgub DKI adalah kemenangan seluruh rakyat Jakarta.

"Saya mengucapkan selamat kepada Saudara Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ini kemenangan seluruh rakyat Jakarta, kemenangan demokrasi," kata Prabowo.

Saat menggelar konferensi pers, sejumlah tokoh terlihat mendampingi Prabowo, Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno. Mereka antara lain Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical).

SUJUD SYUKUR DI ISTIQLAL
Anies Baswedan melakukan sujud syukur bersama para tokoh di Masjid Istiqlal untuk merayakan kemenangan dalam hitung cepat Pilgub DKI.

Sujud syukur itu dilakukan di ruang utama Masjid Istiqlal, sekitar pukul 19.45 WIB. Sujud syukur ini dipimpin langsung oleh imam besar FPI Habib Rizieq Syihab.

"Kita akan melakukan sujud syukur bersama Gubernur DKI Jakarta. Tolong dipersiapkan safnya," kata Rizieq.

Selain Rizieq, turut hadir di Masjid Istiqlal dua petinggi Gerindra, Prabowo Subianto dan Fadli Zon. Ketum GNPF Mui Bachtiar Nasir juga turut hadir.

Diawali dengan bacaan takbir, jemaah melakukan sujud syukur dari posisi berdiri. Jemaah kemudian sujud, lalu bangkit ke posisi duduk melakukan salam ke kanan dan ke kiri.

TUHAN YANG KASIH, TUHAN YANG AMBIL
Ahok menyampaikan selamat kepada Anies-Sandi yang menang dalam hitung cepat. Ahok mengatakan kekuasaan itu merupakan hak prerogatif Tuhan.
"Kepada pendukung kami, sedih nggak apa-apa. Percayalah, kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil," ucap Ahok dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

"Tidak ada seorang pun bisa menjabat tanpa seizin Tuhan," kata Ahok.

Ahok pun mengingat tentang Pilgub Bangka Belitung pada 2007 ketika dia juga kalah. Ahok menyampaikan agar para pendukungnya tidak bersedih.
"Tuhan selalu tahu yang terbaik," ujar Ahok.

Ahok berharap calon Gubernur Jakarta Anies Baswedan bisa meneruskan tugas-tugas di Pemerintahan Provinsi DKI bila nanti Anies menjabat Gubernur DKI secara definitif.

"Kami masih ada 6 bulan sampai pelantikan. Kami akan bekerja cepat dan baik untuk meletakkan dasar-dasarnya. Kami akan berusaha melunasi PR-PR, janji kami," kata Ahok.

Ahok mengakui pekerjaan rumah yang ada padanya tak mungkin bisa diselesaikannya 100 persen sampai Oktober nanti. Maka PR dan janji demi warga Jakarta itu diharapkannya bisa ditunaikan lebih lanjut oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

"Tentu tidak mungkin selesai PR-PR itu. Kita harapkan Pak Sandi dan Pak Anies bisa meneruskan dengan baik," kata Ahok.

Dia membuka diri untuk Anies dan Sandi bila dimintai data soal pemerintahan DKI. Apalagi Pemprov DKI punya sistem open government yang memungkinkan semua pihak mengakses data-data terkait pemerintahan.

"Kami terbuka untuk Pak Anies dan Pak Sandi untuk minta data," kata Ahok.

Djarot juga menyampaikan ucapan selamat kepada Anies-Sandi, yang sebelumnya sudah angkat bicara soal kemenangan mereka. Dia pun meminta kepada seluruh pendukung untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik dalam melampiaskan kekecewaan.

"Berdasarkan quick count, Pak Anies dan Pak Sandi, saya sampaikan ucapkan selamat kepada beliau, sambil kita menunggu nanti hasil penghitungan secara real count yang secara resmi akan dikeluarkan KPU," ujarnya.

"Kami berharap semua pihak bisa menahan diri dan menjaga rasa kebersamaan yang sudah terbangun saat ini. Kami rasakan perjuangan dari kader-kader, relawan, dan masyarakat yang berusaha berjuang sampai akhir dan tadi memberikan hak suaranya. Kami apresiasi warga Jakarta yang telah memilih dan menciptakan kedamaian," sambungnya.

BERJALAN AMAN
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku gembira atas pelaksanaan pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Pilkada DKI berlangsung aman.

"Gembira karena aman, aman. Semua orang memperkirakan ada apa-ada apa, tapi aman. Jadi Anda semua sudah tahu hasilnya ini," ujar JK di kediaman dinasnya, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

JK mengapresiasi masyarakat yang bisa menahan diri dan memastikan keamanan Jakarta saat pelaksanaan Pilkada DKI.

"Tidak ada insiden apa-apa, semua TPS berjalan dengan lancar," ujarnya.
Hasil hitung cepat, menurut JK, bukan hasil final. Namun JK menyebut selisih persentase suara antara pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno berdasarkan quick count cukup besar.

Selain itu, JK menyampaikan terima kasih kepada warga dan personel pengamanan gabungan Polri dan TNI yang menjaga pencoblosan.

"Dan tentu, sekali lagi, pemerintah sangat apresiasi karena berlangsung dengan sangat baik pilkada ini," kata JK.

YANG MENANG JANGAN SOMBONG
Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali mengimbau kedua pasangan cagub-cawagub menerima apa pun hasil pemungutan suara. Kedua pasangan calon harus bisa berdemokrasi secara dewasa.

"Saya kira kita kan berdemokrasi atau melakukan pilgub baru sekali ini, tapi sudah beberapa kali. Kita harus tunjukkan bahwa sudah bisa berdemokrasi secara dewasa," ujar Zainudin di Menteng, Jakarta Pusat.

Zainudin berharap dinamika politik yang terjadi sebelum pemungutan suara harus diakhiri. Kondisi di masyarakat diharapkan kembali normal.
"Dinamika-dinamika yang terjadi sebelum hari ini, begitu masuk pemungutan dan perhitungan suara, harus distop," imbuhnya.

Politikus Golkar ini berharap pasangan cagub-cawagub terpilih tidak jemawa. Kepercayaan dari warga Jakarta harus dijaga untuk masa kepemimpinan 5 tahun ke depan.

"Siapa pun yang diumumkan yang kalah harus terima dan yang menang tidak boleh menyombongkan diri," tutur dia.

"Karena selama lima tahun ke depan, kepercayaan warga DKI menjadi beban yang sangat berat bagi yang terpilih," ujar Zainudin.

QUICK COUNT HANYA INFORMASI
Ketua KPU Arief Budiman mengimbau masyarakat tidak memperdebatkan hasil hitung cepat (quick count). Perhitungan resmi berada di KPU.
"Hasil resmi itu yang ditetapkan KPU," ujar Arief di kantor KPU, Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Arief mengatakan masyarakat sudah harus memahami kerja lembaga survei yang menggunakan ilmu pengetahuan dalam penghitungan. Hasil sesungguhnya adalah penghitungan manual yang dilakukan KPU.

"Masyarakat harus mulai belajar. Ini pemilu bukan yang pertama bagi kita. Lembaga survei adalah lembaga yang menggunakan ilmu pengetahuan dalam penghitungannya, terukur kegiatannya," imbuhnya.

"Hasilnya juga bisa dikasih dan dibaca oleh masyarakat. Tapi masyarakat harus paham bahwa hasil itu adalah bukan hasil resmi," lanjutnya.
Hasil quick count menurut Arief bisa menjadi informasi saja. Namun ditegaskan lagi quick count bukan hasil akhir.

"Jadi boleh melihat itu, menjadikan itu informasi boleh. Tapi memahami (quick count) itu sebagai hasil yang menentukan hasil yang resmi, final, itu yang bukan," pungkasnya.

KAPOLRI: ADA LAPORAN SOAL INTIMIDASI
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pihaknya menerima laporan dugaan intimidasi dalam pencoblosan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Namun ada juga laporan yang hanya kesalahpahaman namun dilaporkan secara berlebihan.

"Ada saja memang laporan. Bukan hanya dari relawan Badja (Basuki-Djarot), juga dari pihak lain," ujar Tito di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Atas sejumlah laporan yang masuk, Tito mengaku sudah memerintahkan kapolda dan kapolres segera melakukan penanganan, termasuk menetralkan keadaan dengan cepat. Menurut Tito, ada beberapa laporan yang sebenarnya hanyalah kesalahpahaman yang kemudian dilaporkan secara berlebihan.
"Kadang-kadang banyak terjadi kesalahpahaman dianggap intimidasi, kemudian dilaporkan berlebihan," ucapnya.

Di beberapa lokasi, sempat terjadi kericuhan kecil, seperti di daerah Kamal, Jakarta Barat. Polisi berhasil mengamankan dua orang yang diduga melakukan provokasi.

"Setelah kita cek di sana, sebetulnya hanya salah paham saja. Ini sudah selesai," tuturnya.

Tito juga mengajak seluruh masyarakat Jakarta tetap mempertahankan situasi kondusif. Hingga saat ini belum ada laporan tentang peristiwa yang menonjol.

"Saya mengajak semua masyarakat, khususnya di Jakarta, mari kita pertahankan, khususnya kesejukan, kenyamanan, yang sudah berlangsung sampai dengan perhitungan suara berjalan lancar," ucapnya.

JANGAN SAMPAI MEMECAH BELAH
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggunakan hak pilihnya di TPS 04 Gambir yang berlokasi di halaman Universitas Mandiri, Jl Tanah Abang Timur, Jakarta Pusat. Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

eusai memberikan hak pilih, Jokowi menyampaikan pesan dan harapan atas digelarnya Pilgub DKI. "Saat ini proses Pilkada DKI Jakarta ini akan berjalan dengan lancar dan menghasilkan pemimpin DKI Jakarta yang terbaik yang terpercaya," kata Jokowi di TPS 04 Gambir, Jakarta Pusat.

Presiden juga berharap perbedaan pilihan politik di Pilgub lalu tidak sampai memecah belah. "Perbedaan pemilihan politik jangan sampai memecah belah karena kita ingat kita semua bersaudara apa pun hasilnya, siapa pun yang terpilih, harus kita terima dengan lapang dada. Terima kasih," tutup Jokowi.

Sebelum menggunakan hak pilih, Jokowi dan Iriana ternyata memiliki permintaan khusus yakni penampilan orkes musik keroncong. Walhasil sejak pukul 07.30 WIB sekelompok pemusik keroncong dari Keroncong Tugu pimpinan Pak Andri memainkan lagu-lagu keroncong.

SANDIAGA KOMPAK SALAM 3 JARI
Calon Wakil Gubernur DKI Sandiaga Salahuddin Uno menggunakan hak pilih di TPS 01 di Jalan Daha IV, Selong, Kebayoran Baru. Ia ditemani keluarga untuk mencoblos bersama.

Sandiaga tiba di TPS 01, Rabu (19/4) pada pukul 08.42 WIB. Cawagub nomor urut 3 itu ditemani sang istri, Nur Asia, anak perempuannya, Amyra Atheefa Uno, serta ibunya, Mien Uno. Sandiaga beserta keluarga kompak mengenakan pakaian berwarna putih.

Setelah mencoblos, Sandiaga beserta istri dan anaknya kompak mencelupkan 3 jari ke tinta. Setelah itu, dengan wajah semringah, mereka kompak melakukan salam 3 jari.

Sebelum mencoblos, Sandiaga meminta doa kepada orang tua.

"Pah, Mah, aku mohon doanya lagi, demi kelancarannya hari ini," kata Sandi meminta doa di kediaman orang tua Sandiaga di Jl Galuh II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ibunda Sandiaga, Mien R Uno, pun hanya berpesan tetap tegar apa pun hasil pilkada nanti.

"Maju terus dan tetap tegar apa pun hasilnya," ucap singkat Mien.

Sementara itu, Anies mencoblos bersama istrinya Fery Farhati Ganis dan putrinya Mutiara Annisa. Anies bersama keluarga kompak mengenakan baju warna putih berjalan ke TPS 28.

TANPA KEMEJA KOTAK-KOTAK
Cagub DKI yang juga petahana, Basuki T Purnama (Ahok) menyalurkan hak suaranya di putaran kedua Pilgub DKI. Tanpa kemeja kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya, dia mencoblos bersama istri dan anak pertamanya.

Ahok tiba di TPS 54 yang berada di dekat rumahnya, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara pada pukul 07.53 WIB, Rabu (19/4). Mengenakan kemeja abu-abu, dia datang bersama dengan sang istri, Veronica Tan yang memakai baju putih, dan anak pertamanya, Nicholas Sean Purnama.

Sedangkan saat ditanya hal apa yang paling berkesan dalam pilgub kali ini, Ahok menyebut saat anak sulungnya, Nicholas, mencoblos dua kali pada tahun ini.

"Nicholas pengalaman setahun pilih dua kali," ujar Ahok.

AHOK BERGEGAS KE KEDIAMAN MEGAWATI
Basuki Tjahaja Purnama langsung kembali ke kediamannya setelah mencoblos di TPS 54, Pluit. Setelah rehat, Ahok langsung bergegas meninggalkan rumahnya.

Ahok meninggalkan rumahnya tanpa didampingi istrinya, Veronica Tan, dan anaknya, Nicholas Sean, yang sebelumnya ikut memberikan hak suara. Ahok tidak menyebut akan ke mana setelah mencoblos.

"Kita akan keliling saja, kontrol nanti," kata Ahok di rumahnya.

Sementara itu, anggota timses Ahok-Djarot, Aria Bima, mengatakan, dari informasi yang diterima, Ahok akan pergi ke kediaman Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di Kebagusan, Jakarta Selatan.

"Tadi malam ada informasi Pak Ahok ke Kebagusan. Tapi nggak tahu jam berapanya," ujar Bima kepada wartawan.

Sementara Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat mencoblos di TPS 08 Kuningan, Jakarta Selatan. Djarot sempat mengacungkan salam 2 jari, simbol nomor urutnya dalam pilkada DKI.

Djarot tiba di TPS bersama istri Happy Farida datang ke TPS sekitar pukul 08.30 WIB. Djarot mengenakan kemeja abu-abu sedangkan istrinya mengenakan kemeja khas kotak-kotak. (Detikcom/Liputan6/l)

Ruhut: Kalau Ibukota Pindah ke Palangkaraya, Anies Baswedan Jadi Gubernur Desa Besar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Juru Bicara Tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)- Djarot Saiful Hidayat, Ruhut Sitompul mengaku bangga dengan sikap yang ditunjukkan Ahok menyikapi kekalahannya dari pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI.
Ia menegaskan, sejak awal pihaknya siap untuk menang maupun kalah.
"Oh saya bangga lihat Ahok. Statementnya, 'Tuhan yang memberi jabatan saya dan Tuhan juga yang mengambilnya. Saya siap untuk itu.' Waduh keren," kata Ruhut saat dihubungi, Kamis (20/4/2017).
Anies, kata dia, diuntungkan dengan beberapa kondisi.
Salah satunya dengan kejadian yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Novel Baswedan yang beberapa waktu lalu terkena siraman air keras.
" Novel Baswedan itu pahlawan pencegah, pemberantasan korupsi. Kita harus acungi jempol. Dengan dia disiram air keras, sekarang lagi berjuang untuk matanya di Singapura, Anies lah yang menikmati itu. Kan sepupu kandung, kata Anies. Jadi dianggap empati lah," tutur Ruhut.
Termasuk Wisata Al Maidah yang menyebut akan menggerakkan massa untuk mengawasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Ruhut menyebutkan, hal itu sempat membuat warga Tionghoa takut untuk memilih.
"Bahkan mereka bilang ada 1,6 juta (orang) menunggu di sekitar Jakarta. Ya, orang takut dong," kata dia.

Heboh...!!! Wanita Ini Tepati Janjianya Potong Payudara Setelah Tau Anies - Sandi Menang

Masih ingat dengan video seorang wanita yang berjanji untuk memotong payudaranya jika calon pasangan gubernur dan wakil gubernur nomor urut tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua?

Beberapa waktu lalu seorang wanita berkacamata mengunggah sebuah video yang kemudian menjadi viral.

Video itu viral karena dirinya menantang seorang pria yang ia panggil dengan sebutan Linglung.
Ia menantang Linglung untuk lakukan hal yang sama seperti janjinya. 


Kini penghitungan cepat sudah menyatakan kemenangan untuk pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno.

Video tersebut kembali mengemuka setelah viral beberapa waktu yang lalu.

Kini netizen mulai menagih janji wanita tersebut untuk segera menepatinya.

Gayung bersambut, wanita yang tidak diketahui nama dan asalnya tersebut mengetahui permintaan para netizen dan ia pun dengan tegas menyatakan dirinya siap untuk menepati janji yang ia anggap adakah sebuah utang itu.

Ia kembali membuat video yang menyatakan dirinya siap untuk menepati janjinya tersebut.
Video itu diunggah oleh sebuah akun gosip di Instagram, @lambe_turah pada, Rabu (19/4/2017).

Tak terlihat gentar apalagi ketakutan, wanita itu pada mulanya menyampaikan ucapan selamatnya atas kemenangan yang diraih oleh pasangan Anies dan Sandi pada hitungan cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Yang kemudian ia lanjutkan dengan mendoakan Anies dan Sandi agar bisa menjalankan tugasnya sebagai gubernur dan wakil gubernur dengan baik dan sesuai dengan amanah warganya.
Dengan tegas ia pun menjelaskan bahwa ia siap untuk memotong payudaranya karena janji adalah utang.

Namun ternyata ada alasan di balik dari keberanian dan kenekatan wanita ini.
Ia berani untuk menepati janjinya tersebut dikarenakan dirinya saat ini adalah pengidap penyakit kanker payudara yang sudah memasuki stadium empat.

Oleh karena itu ia harus segera melakukan pemotongan pada payudaranya.

Simak video:

Gawat.! Jubir Presiden, Johan Budi: Jika Ahok gagal jadi Gubernur akan kami Jadikan Ketua KPK

Ahok adalah sosok yang sangat fenomenal, sepak terjang dan tindak tanduknya memang selalu jadi perhatian publik dan pemburu berita.

Banyak orang yang mencintainya, namun banyak juga yang membencinya, baik mencintainya karena kejujuran dan ketulusannya, maupun juga membenci karena sukunya, agamanya dan rasnya.

Banyak serangan ditujukan kepada Ahok dan Banyak juga pembelaan dilakukan oleh pendukung Ahok, apalagi dimasa Pilgub saat ini serangan bertubi – tubi ditujukan kepada Ahok.


Demonstrasi berseri, berjilid dan bertiga nomor selalu mewarnai Jakarta, banyak pihak mendesak mundurnya atau dilengserkannya Ahok dari jabatan Gubernurnya.

Sempat terbesit tanya didalam hati, apakah dengan lengsernya Ahok bangsa ini jadi lebih baik? Apakah dengan tidak menjabatnya Ahok sebagai Gubernur DKI jadi jaminan aman dan damainya negeri ini? Siapakah yang paling tenang dan paling damai jika Ahok lengser? Jawabnya tentu para koruptor, apakah warga DKI jadi lebih baik ? Tidak, apakah para koruptor didalam Pemprov dan diluar Pemprov akan benar – benar aman, nyaman dan damai? Belum tentu.

Dengan popularitas dan kredibilitas setinggi dirinya Ahok tentu dapat menjadi dan menjabat apa saja dinegeri ini, ditambah lagi koneksi hubungan baik dengan banyak petinggi di Republik ini tentu membuat asumsi ini jadi sangat mungkin dan sangat masuk akal.

Seperti kita tahu bahwa Ahok adalah pribadi yang jujur, bersih, adil dan transparan, oleh sebab itu saya sangat yakin bahwa orang semacam Ahok ini tidak akan pernah mungkin jadi pengangguran di Negeri ini, dia bisa jadi apa saja, dia bisa menjabat apa saja di Negeri ini salah satunya Ketua
KPK.

Banyak pihak yang sangat naif berpikir bahwa Ahok pasti hancur jika tidak lagi menjabat sebagai Gubernur, mereka berpikir mereka akan dapat tidur tenang jika Ahok tidak menjadi Gubernur, sungguh naifnya pikiran mereka ini.

Sangat memungkinkan jika tidak menjabat lagi sebagai Gubernur DKI Ahok akan direkrut menjabat posisi – posisi strategis salah satunya adalah Ketua KPK, jika Ahok menjabat Ketua KPK maka para koruptor didalam Pemprov dan diluar Pemprov akan lebih susah dan lebih sengsara, mengapa ? Ini beberapa alasannya :

Ahok tahu persis permainan didalam Pemprov DKI, Jika Ahok jadi Ketua KPK dia akan jadi orang yang paling tahu tentang seluk – beluk permainan orang dalam Pemprov, KPK akan punya jalan mudah untuk ciduk Birokrat nakal yang ada didalam Pemprov, hal ini juga dapat diaplikasikan kepada Pemprov lain diluar DKI, karena wewenang KPK mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Ahok tahu persis permainan anggaran di DPRD, Jika Ahok menjadi Ketua KPK dia juga akan jadi orang yang paling tahu tentang permainan didalam Anggota Dewan, ini juga jadi jalan mudah bagi KPK usut keterlibatan Anggota Dewan yang gemar mempermainkan anggaran.

Ahok sangat nekat dan tidak takut mati, Jika Ahok jadi Ketua KPK ia akan sangat berani untuk membongkar dan mengusut Proyek – proyek Mangkrak dan Jingkrak yang ada di Negeri ini, para koruptor tidak pernah bisa tidur pulas, karena KPK yang dipimpin Ahok akan menjadi Lembaga Negara yang paling ditakuti di Negeri ini.

Ahok tidak Doyan duit, Jadi jika ia menjabat sebagai Ketua KPK ia akan menjadi penegak hukum yang tidak akan terbeli, para koruptor dan penjahat di Negeri ini tidak akan punya celah sedikitpun untuk bisa lepas dari tangannya.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi para musuh – musuh Ahok, sebab dengan lengsernya Ahok dari Gubernur DKI justru akan menjadi tendangan balik dan pukulan tajam bagi para koruptor dan bajingan dinegeri ini, jika saya jadi anda maka saya akan membiarkan Ahok tetap jadi Gubernur DKI saja dari pada nanti jadi Ketua KPK, karena Gubernur DKI hanya punya wewenang di DKI saja, tapi Ketua KPK punya wewenang keseluruh Negeri, ia bahkan bisa “Comot” dan “Ciduk” anda diluar negeri sekalipun.

AHOK : Saya Belum Kalah Sebelum Bunyi 4 Paku Di Atas Peti Mati, Jadi Jangan Anggap Diri Kamu Hebat

“Waktu saya kalah, saya satu kalimat gini, tidak usah terlalu senang sebelum ada bunyi empat paku di atas peti mati, kamu jangan mengklaim kamu hebat,” ujar Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pepatah Tiongkok ini yang digunakan Ahok untuk menanggapi hasil elektabilitas yang dikatakan Lingkaran Survei Indonesia bahawa pasangan Ahok – Djarot Saiful Hidayat elektabilitas terus menurun.

Bunyi empat paku di peti mati menandakan kalau peti mati tersebut sudah ditutup, disegel rapat dan menjadi kepastian kalau jenazah segera dikubur.


Ahok seolah ingin mengatakan kalau survei elektabilitas bukan segalanya karena hal yang pasti adalah hasil Pilkada Jakarta setelah selesai penghitungan suara pemilih.

Berdasarkan Lingkaran Survei Indonesia elektabilitas pasangan petahana Ahok dan Djarot Saiful Hidayat terus menurun. S
urvei yang dilakukan sejak 31 Oktober hingga 5 November itu, menunjukan elektabilitas Ahok hanya 24,6 persen.

Elektabilitas petahana semakin ditempel ketat pasangan lain, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni 20,9 persen, serta pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno dengan 20 persen.

Ahok menyebut LSI tak pernah memberikan survei yang positif sejak penyalonannya di Pilkada Bangka Belitung 2007 lalu.
Saat itu, Ahok mundur sebagai Bupati Belitung Timur untuk ikut Pilkada Babel.

Ujungnya, Ahok harus takluk dari kontestan lainnya, yaitu Almarhum Eko Maulana Ali yang saat itu Ahok mundur pula dari jabatannya sebagai Bupati Bangka.

“Turun di survei, ya tidak apa-apa, itu kan’ memang LSI dari sejak Pilkada Babel membela Eko Maulana Ali. Dari dulu dia (LSI) begitu,” ucap Ahok di kediamannya, Pantai Mutiara, Jakarta Utara, 

Menanggapi elektabilitasnya yang terus merosot, Ahok malah menyinggung pepatah tiongkok.

Yang maknanya, serupa dengan lebih baik menunggu hasil akhir pada Pilkada Ibu Kota yang berlangsung 15 Februari 2017.

Hal itu juga yang pernah diutarakannya saat kalah di Pilkada Babel.

Ahok juga menyinggung pendiri LSI, Denny Januar Ali, yang hasil surveinya kerap memenangkan elektabilitas Eko Maulana Ali dibandingkan Ahok.

Kondisinya, sama seperti saat ini, di mana elektabilitas Ahok menurut LSI terus merosot.

“Waktu saya kalah, saya satu kalimat gini, tidak usah terlalu senang sebelum ada bunyi empat paku di atas peti mati, kamu jangan mengklaim kamu hebat. Akhirnya apa? Yang dibela Denny JA, Eko Maulana Ali itu sudah almarhum sekarang. Saya masih Gubernur DKI,” imbuh Ahok.

Hiraukan hasil survei, Ahok memilih untuk fokus menjalankan roda pemerintahannya di Jakarta, setelah Pilkada selesai, apapun hasilnya, kalah atau menang.

“Saya sudah bilang kan’ saya ini sampai Oktober 2017 kok berakhir,” tutup Ahok.