Mata Uang yang Guncang

Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu. Layar-layar televisi di berbagai sudut kota menyiarkan breaking news: “Presiden Prabowo resmi mengganti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Purbaya Yudhi Sadewa dilantik sebagai penggantinya.”

Di ruang kerjanya yang sederhana, Sri Mulyani menutup laptop pelan. Tak ada tangisan, tak ada kemarahan—hanya senyum kecil yang samar. Ia tahu, kursi itu bukan miliknya selamanya. Tapi ia juga tahu, setiap kebijakan, setiap angka yang ia jaga, adalah darah dan napas jutaan rakyat.

Di luar sana, pasar keuangan bergemuruh. Rupiah jatuh lebih dari seribu poin, investor asing menarik modal, dan di media sosial, perdebatan semakin panas. Ada yang menyesali, ada pula yang bersorak.

Presiden Prabowo berdiri di depan para menteri, wajahnya tegas.
“Negara ini butuh keberanian baru. Kita tidak bisa selamanya dikekang oleh disiplin fiskal yang kaku. Rakyat ingin perubahan—dan saya akan memberikan itu.”

Beberapa menteri saling pandang. Mereka tahu, mengganti Sri Mulyani adalah perjudian besar. Ia bukan hanya menteri, tapi simbol kredibilitas ekonomi Indonesia di mata dunia.

Sri Mulyani melangkah keluar dari kantor Kemenkeu, disambut tepuk tangan pegawai. Beberapa menahan air mata. Ia menunduk, lalu berkata:
“Jaga negara ini. Angka-angka bukan sekadar tabel, mereka adalah wajah rakyat. Jangan biarkan mereka kehilangan harapan.”

Di antara kerumunan, seorang staf muda berbisik ke rekannya:
“Kalau bukan Bu Sri, siapa yang bisa menjaga kita dari utang yang membengkak?”

Hari berikutnya, Purbaya Yudhi Sadewa berdiri di podium, mengenakan jas hitam dengan senyum percaya diri.
“Tugas ini tidak mudah,” katanya lantang. “Tapi saya berjanji membawa pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, 6 hingga 8 persen! Kita harus berani bermimpi lebih besar.”

Seketika ruangan penuh tepuk tangan—namun di luar gedung, rupiah terus melemah, dan harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik.

Di sebuah warung kopi di Depok, seorang pedagang berkata sambil mengaduk kopinya:
“Buat apa pertumbuhan tinggi kalau harga beras makin mahal? Yang penting stabil, bukan janji.”

Seorang mahasiswa menjawab dengan nada optimis:
“Tapi mungkin ini saatnya kita coba jalan baru. Sri Mulyani hebat, tapi rakyat juga butuh gebrakan.”

Mereka terdiam sejenak, sama-sama sadar bahwa kebijakan ekonomi bukan hanya soal angka, tapi soal perut dan masa depan.

Malam itu, Sri Mulyani duduk di balkon rumahnya, memandangi Jakarta yang dipenuhi lampu. Ia tahu perjuangannya selesai—setidaknya untuk sekarang. Tapi ia juga yakin, sejarah akan mencatat: di saat badai datang, ia pernah menjadi jangkar yang menahan kapal agar tidak karam.

Sementara di istana, Prabowo menatap peta besar Indonesia. Ia tersenyum tipis. “Ini baru awal,” gumamnya.

Dan di bursa saham esok paginya, ribuan angka merah menari di layar, seolah ikut berbisik:
“Apakah ini awal kemakmuran, atau awal dari krisis baru?”