PAN: “Duri dalam Daging” di Pemerintahan Jokowi

Di Pilpres 2014, Partai Amanat Nasional (PAN) dengan gagah mendukung Prabwo Subiyanto. Ibarat pertempuran di Padang Kurusetra antara Pandawa dan Kurawa, PAN dengan Amien Rais sebagai tokoh dibalik layar yang juga sering tampil di panggung politik sering melakukan manuver-manuver. Jika seworders mau mengibaratkan dia dengan tokoh pewayangan seperti Sangkuni atau Pandita Durna, atau dengan tokoh lain pilihan seworders, silahkan.
Dalam berbagai pernyataan, Amien Rais sering mengatakan bahwa Prabowo Subiyanto adalah tokoh seperti Bung Karno. Saya sendiri heran dan berdecak ckckck…. Dari mana Prabowo mirip Bung Karno? Dari sisi pemikiran tentang keindonesiaan, rasanya tidak. Dari sisi nasionalisme, juga tidak. Apakah cara berorasi Bung Karno dan Prabowo sama? Wow.. menurut saya juga tidak. Bagi saya, semua orasi Bung Karno sangan menarik dan berbobot. O.. mungkin karena sama-sama memakai songkok (pecis), maka Prabowo dinilai sama dengan Bung Karno. Kalau dari sisi ini boleh lah…. Di sisi lain, Amien Rais selalu menjelek-jelekkan Jokowi meski tanpa data yang valid.
Singkat cerita, Prabowo Subiyanto kalah. Partai Amanat Nasional sebagai pengusung Prabowo juga keok. PAN yang merupakan partai besutan Amien Rais rupanya belajar cara bermanuver dari “bapa partainya”, Amien Rais.
Karena berada di pihak yang kalah tidak mendapat apa-apa, akhirnya PAN merapat ke Jokowi. Saya membayangkan bagaimana sakit hati Prabowo Subiyanto dengan keputusan PAN itu. Ibarat pepatah,”Habis manis, sepah dibuang” itulah  hubungan PAN dengan Prabowo Subiyanto. Seperti anak muda yang sedang penuh emosi berpacaran. Ada kalanya penuh semangat, ada kalanya kehilangan semangat dan akhirnya putus. Itulah cairnya politik.
Sesaat setelah menyatakan bergabung dengan Jokowi atau berada di kubu pemerintah, ketua umum PAN Zulkifli Hasan menyampaikan pidato seperti ini,“Hari ini saya didampingi Sekjen PAN Eddy Soeparno dan Ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai) Soetrisno Bachir datang dengan satu maksud dan tujuan yang jelas. Kami (PAN) sepakat dan bulat menyatakan bergabung (dengan pemerintah). Kalau sebelumnya kami tidak mendukung pemerintah, kini PAN bergabung untuk menyukseskan program pemerintah untuk kepentingan bangsa dan negara.”
Itulah PAN, dari partai oposisi, masuk ke pemerintahan, namun hatinya masih berada di Prabowo Subiyanto dan partai oposisi lainnya. Sikap mereka tidak mendukung Undang-Undang Pemilu bersama Gerindra, PKS dan Demokrat menunjukkan bahwa PAN kembali melakukan manuver dengan mempertontonkan “akrobat” perlawanan pada pemerintah.
Di Senayan para politisi PAN melakukan perlawanan pada pemerintah, di istana ketua  umum PAN, Zulkifli Hasan mengatakan tetap mendukung pemerintah. Sementara itu di berbagai kesempatan, Amien Rais Ketua Dewan Kehormatan DPP PAN sekaligus pendiri PAN selalu mengolok-olok pemerintahan Jokowi. Di mata Amien Rais, semua yang dilakukan pemerintah selalu salah.  Dia yang gagal nyapres itu selalu menjadi yang merendahkan pemerintahan yang ada.
Melihat manuver-manuver PAN yang demikian, pantasalah jika PAN disebut sebagai “duri dalam daging” di pemerintahan Jokowi.
“Duri dalam daging” merupakan pepatah yang bermakna: sesuatu yang selalu membuat hati menjadi tidak menyenangkan.
Agar sesuatu yang tidak menyenangkan itu hilang, maka duri dalam daging harus segera dibuang. Cara membuangnya adalah dengan mencabut duri itu agar tidak makin menimbulkan luka. Luka yang dibiarkan terus akan membusukkan daging.
Jokowi adalah  pemimpin yang cerdas dan tulus. Hari ini, Senin 24 Juli 2017 Jokowi mengumpulkan anggota DPR dan elite partai politik ke Istana Kepresidenan. Dari tokoh-tokoh itu tidak tampak anggota DPR dari PAN sebab memang PAN tidak diundang. Memang dalam pertemuan itu tidak ada pembahasan khusus tentang loyalitas partai-partai pendukung pemerintah. Pertemuan itu membahas dua peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang sudah dikeluarkan pemerintah namun belum disetujui oleh parlemen. Dua Perppu yang dibahas adalah Perppu Nomor 1 Tahun 2017 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Akses Informasi Keuangan Kepentingan Perpajakan. Selain itu, Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Tidak diundangnya PAN dalam pembahasan dua Perppu itu paling tidak sudah menjadi sinyal bahwa Jokowi tidak mau ambil pusing lagi terhadap PAN. Dalam bahasa Jawa, Jokowi seolah hendak,”Wis lah, sak karepmu…” (Sudahlah, terserah kamu..). Ada atau tidak PAN di koalisi pemerintahan toh tidak memiliki dampak yang significant. Maka dari itu, kalau mau jadi oposisi jadilah oposisi yang konstruktif. Kalau mau ada di pemerintahan, jadilah pendukung yang setia. Jangan mau dapat jatah menteri di pemerintahan, namun hati, pikiran, semangat ada di partai opisisi. Kalau begitu namanya plin-plan, persis patih Sengkuni dalam dunia pewayangan.
PAN, “duri dalam daging” di pemerintahan Jokowi. Saya senang kalau “duri” itu dicabut agar tidak melukai. Saya senang juga karena Jokowi sedang menunjukkan keberaniannya mencabut “duri” itu dengan cara yang tepat.

Berita Terkait

Laporan Masyarakat Dipetieskan Polres Labuhanbatu, Rame – Rame Buat Kuasa ke PH Beriman Panjaitan,S.H.,M.H

Diduga Kuasai ±2.000 Hektare Tanpa Kejelasan HGU, SEPRakyat Siapkan Surat Resmi ke PT. PAL

Polres Labuhanbatu Selatan Sita 3,63 Gram Sabu, Dua Pria Diamankan dalam Sehari

Mediasi Buntu, Dugaan Penyerobotan Tanah oleh Yayasan Pesantren Darul Sholihin Masuk Babak Pembuktian

Persetubuhan Anak di Bawah Umur di Kotapinang Terungkap, Karyawan Hotel Diamankan Polres Labusel

Petani Kopi di Tanah Karo Gembira, Harganya Kini meroket

Gerak Cepat STM Simalem! Pohon Tumbang di Kacaribu Dibersihkan