Gaya Berpidato Jokowi yang Santai dan Jeli Melihat Situasi

Kemarin atau tepatnya pada hari Minggu (23/7/2017), Jokowi menghadiri peringatan perayaan Hari Anak Nasional di Pekanbaru, Riau. Acara yang digelar di Lapangan Gedung Daerah Pauhjanggi Provinsi Riau tersebut berlangsung sangat meriah. Jokowi dalam acara tersebut hadir bersama dengan istrinya, Iriana dan juga menteri-menteri dari Kabinet Kerja yakni Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, serta Menteri Sekretariat Kabinet Pratikno.
Selain menghadiri acara tersebut, Jokowi juga memberikan sambutan berupa nasihat serta pesan kepada sekitar 3000 anak yang menghadiri acara peringatan tersebut. Selain memberi nasihat dan pesan, Jokowi juga berhasil menghibur anak-anak tersebut dengan aksi sulap sederhana yang dilakukannya bak pesulap profesional.
Jokowi yang juga didampingi Ibu Negara sebagai asisten sulap mampu membuat anak-anak semakin antusias dan tidak bosan mengikuti acara peringatan tersebut. Jokowi pada aksi sulapnya tersebut melakukan atraksi dengan sebuah kantong. Kantong tersebut terlihat kosong tidak berisi. Untuk menunjukkan punchline dari aksi sulapnya tersebut, Jokowi meminta kepada anak-anak tersebut yang ingin melihat “kantong kosong” tersebut. Sontak semua anak-anak yang menghadiri peringatan anak tersebut secara antusias ingin naik ke atas panggung untuk melihat isi dari “kantong kosong” tersebut.
Akhirnya Jokowi pun memanggil seorang anak yang kemudian diketahui bernama Muhammad Amin untuk naik ke atas panggung. Setelah itu Jokowi mempersilakan Amin untuk melihat isi dari kantong tersebut. Namun Amin heran karena kantong tersebut kosong. Setelah Jokowi memperlihatkan kantong tersebut, maka ia langsung menginstruksikan Amin untuk merogoh kantong tersebut. Saat tangannya masuk ke dalam kantong yang tadinya kosong tersebut, ia terkejut karena tangannya menyentuh sesuatu. Lalu Jokowi memberi arahan agar Amin mengeluarkan sesuatu tersebut. Akhirnya nampaklah sebuah jam tangan di kantong yang tadinya kosong tersebut. Jokowi pun memberikan jam tangan tersebut kepada Amin.
Sambutan Jokowi yang dilakukan pada Hari Anak Nasional membuat ia dibanding-bandingkan dengan gaya sambutan Susilo Bambang Yudhoyono. Saat memberi sambutan pada Hari Anak Nasional, SBY berpidato dengan formal layaknya acara resmi di depan peserta yang kebanyakan anak-anak tersebut. Dalam sambutannya, SBY beberapa kali menegur peserta acara yang mengantuk ketika mendengar pidatonya tersebut.
Anak-anak kecil tentu belum mampu mencerna pidato dengan kalimat yang sulit dimengerti. Oleh karena itu, mereka tentu akan cepat bosan ketika mendengar sesuatu yang sama sekali mereka tak mengerti apa maknanya. Dengan kebosanan yang mereka rasakan, maka mereka dapat dengan mudahnya mengantuk.
Maka dari itu, Jokowi paham betul apa yang ada dalam pikiran anak-anak. Ia pun mempelajari trik-trik sulap sederhana untuk dapat menghibur anak-anak tersebut. Dengan terhiburnya mereka, maka pesan yang ia sampaikan pun akan lebih mudah dicerna oleh anak-anak tersebut.
Aksi sulap yang dilakukan Jokowi adalah hal yang menurut saya anti-mainstream dan juga jauh dari kata formalitas. Jokowi terliihat santai dan paham bahwa pendengar yang ia hadapi adalah anak-anak yang tidak mungkin mengerti pidato dengan bahasa tinggi layaknya mahasiswa. Oleh karena itu beliau pun mengakalinya dengan aksi sulap dan hal itu berhasil untuk menyedot perhatian anak-anak yang mengikuti peringatan tersebut.
Bahkan saat berpidato pun, Jokowi kerap kali mengeluarkan lawakan-lawakan segar yang dapat membuat suasana yang formal menjadi lebih cair dan lebih hangat. Saat mendengar Jokowi berpidato, saya seperti mendengar seorang stand-up comedian yang sedang melakukan aksi soolonya di atas panggung.
Gayanya begitu santai dan tidak terlalu terpaku kepada formalitas sehingga mampu membuat pendengarnya antusias dan mampu mencerna apa isi dari pidato yang ia sampaikan. Bahkan ditengah-tengah pidato ia kerap mengadakan kuis kepada peserta yang menjadi pendengarnya. Semua peserta sangat antusias dan ketika Jokowi mempertanyakan pertanyaan tersebut kepada seorang yang terpilih untuk naik ke atas panggung, semua menjadi bersemangat dan situasi tidak kaku.
Selain untuk membuat suasana menjadi lebih cair dan lebih hangat, tujuan Jokowi memberikan pertanyaan kepada pendengarnya tentu untuk menguji wawasan dari pendengar tersebut. Momen-momen lucu pun hadir ketika Jokowi memberikan pertanyaan kepada peserta acara dimana ia hadir memberikan sambutan.
Seperti seorang anak SD yang terpeleset kala menyebut ikan tongkol, seorang santri yang beatbox dihadapan Jokowi, lalu mahasiswa yang secara tak segan meminta sepeda kepada Jokowi, dan juga menyebut Jokowi dengan sebutan Pakde. belum lagi dikala Jokowi memberikan pertanyaan untuk menyebut nama-nama ikan, kadang mereka menjawab nama-nama ikan tersebut dalam bahasa daerah setempat sehingga membuat Jokowi kebingungan. Belum lagi dikala ia belajar bahasa Ngapak kepada seorang siswa SD dan juga menghadapi seorang siswa SD yang bersikukuh bahwa hasil dari 2 x 2 x 2 adalah 6.
Kuis yang diadakan Jokowi pun menjadi lambang bahwa dia memang pemimpin yang memiliki gaya santai tapi serius dan juga peka terhadap keadaan yang terjadi disekitarnya. Dan terbukti mereka dapat mengambil pesan dari apa yang telah disampaikan oleh Jokowi.
Pada saat diwawancara pun Jokowi tetap menunjukkan bahwa dia adalah orang yang santai dan tidak terlalu formal. Saat diberikan pertanyaan Jokowi menjawab dengan santai dan juga kerap kali melontarkan candaan kepada para wartawan yang bertanya kepadanya. Saya ingat salah satu wawancaranya yang menginjak kaki seorang wartawan karena pernyataannya yang membuat Jokowi tertawa.
Itu semua karena Jokowi jeli dalam melihat segala sesuatu yang terjadi. Ia bisa membaca situasi apa yang sedang terjadi dan mengerti akan situasi tersebut. Aksi sulap yang dilakukannya kemarin adalah bukti kejeliannya dalam membaca situasi. Aksi sulap yang dia lakukan tentunya atas dasar pertimbangan bahwa audience yang akan dia hadapi adalah anak-anak yang pastinya tidak akan terpikat dan mengerti dengan kata-kata “saudaraku ditengah perubahan zaman ini kita harus bergerak secara dinamis dan mempelajari seluk beluk negara kita.”
Gaya berbahasa ataupun berpidato Jokowi merupakan salah satu keunggulannya. Sebagai pemimpin ia memiliki gaya berkomunikasi yang situasional yakni gaya berkomunikasi yang dapat dilakukan sesuai dengan situasi yang terjadi. Pidato yang ia lakukan telah menjadi cermin bahwa dia adalah pemimpin sederhana yang berbaur dengan rakyatnya dan menghilangkan sekat diantara rakyat dengan pemimpinnya.

Berita Terkait

Laporan Masyarakat Dipetieskan Polres Labuhanbatu, Rame – Rame Buat Kuasa ke PH Beriman Panjaitan,S.H.,M.H

Diduga Kuasai ±2.000 Hektare Tanpa Kejelasan HGU, SEPRakyat Siapkan Surat Resmi ke PT. PAL

Polres Labuhanbatu Selatan Sita 3,63 Gram Sabu, Dua Pria Diamankan dalam Sehari

Mediasi Buntu, Dugaan Penyerobotan Tanah oleh Yayasan Pesantren Darul Sholihin Masuk Babak Pembuktian

Persetubuhan Anak di Bawah Umur di Kotapinang Terungkap, Karyawan Hotel Diamankan Polres Labusel

Petani Kopi di Tanah Karo Gembira, Harganya Kini meroket

Gerak Cepat STM Simalem! Pohon Tumbang di Kacaribu Dibersihkan